software hati

kisah kisah melunakan hati

Sabtu, 05 Februari 2011

VIRUS UKHUWAH 2 Abu 'Ashim Hisyam bin Abdul Qadir Uqda

MENGADAKAN PEMBICARAAN RAHASIA
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya pembicaraan rahsia itu adalah dari syaitan, agar orang-orang yang beriman itu berduka cita" (al-Mujadilah [58]: 10).

Larangan membuat pembicaraan rahasia dinyatakan dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Imam Ahmad dari riwayat Abdullah bin Mas'ud radhi-yallahu 'anhu; bahawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Jika kamu bertiga, maka janganlah dua di antara kamu membuat pembicaraan rahasia tanpa melibatkan yang lain, kerana perbuatan itu dapat membuatnya sedih." (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-hti'dzan no. 6290, Muslim dalam as-Salam no. 2184�di mana redaksi di atas adalah riwayatnya, Abu Dawud dalam al-Adab no. 4851, Ahmad dalam kitab al-Musnad 1/431, Tirmidzi dalam al-Adab no. 2825, Ibnu Majah dalam al-Adab no. 3775, dan ad-Darimi dalam al-hti'dzan no. 2657. )

Sementara dalam riwayat Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu dinyatakan bahawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Jika kamu bertiga, maka janganlah dua di antara kamu melakukan pembicaraan rahsia, kecuali jika orang ketiga mengizinkan, kerana perbuatan tersebut dapat membuatnya sedih." ( Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-hti'dzan no. 6288, Muslim dalam as- Salam no. 2183, Abu Dawud dalam al-Adab no. 4852, Ibnu Majah dalam al-Adab no. 3776, Malik dalam kitab al-Muwaththa' bab al-Kalam 11/988 dan 989, Ahmad dalam kitab al-Musnad II/9, dan al-Baghawi dalam kitab Syarhus-Sunnah XIII/90, di mana redaksi hadith di atas dinukil dari riwayat al-Baghawi. )

Hikmah meminta izin kepada orang ketiga�wallahu A'lam�adalah untuk memastikan bahawa ia merelakan pembicaraan rahsia yang dilakukan oleh kedua sahabatnya. Dalam hal ini, keduanya tidak dibenarkan memaksa sahabatnya untuk merestui dengan alasan malu, padahal ia tidak diberi kesempatan untuk menyatakan sikapnya, dan belum boleh meyakinkan dirinya bahawa ia benar-benar rela. Contohnya, salah satu di antara mereka menarik tangan sahabatnya lalu membisikkan sesuatu dengan cepat, sambil berkata kepada sahabat ketiga: "Kami minta izin, Seharusnya, meminta izin dilakukan sebelum pembicaraan rahsia tersebut dilakukan dan sebelum mereka berdua kembali menemui sahabat ketiga, agar terhindar dari kesalahan dan tidak membiarkan syaitan meraih kemenangan dengan membuat sahabat ketiga menjadi sedih atau berprasangka buruk. Kendati demikian, kami menyarankan kepada sahabat ketiga�sekalipun dizhalimi oleh pembicaraan rahasia tersebut, jika timbul rasa sedih atau prasangka buruk, agar ia segera memohon perlindungan dari Allah, jangan membiarkan syaitan menguasai dirinya, dan agar bertawakal kepada-Nya. Sehingga atas izin Allah, ia tidak akan mendapat mudharat apa pun. (Ungkapan terakhir disadur dari kata-kata Ibnu Katsir dalam Tafsirnya IV/ 324. )


KERAS KEPALA, ENGGAN MENERIMA NASIHAT DAN SARAN
Sikap keras kepala dan enggan menerima nasihat, membuat seorang sahabat merasakan adanya dinding pemisah antara diri anda dan dirinya. Ia merasa sulit untuk terbuka dalam setiap pembicaraan dengan anda, bahkan�mungkin� menganggapmu sombong. Dari sini, bibit-bibit benci akan tumbuh dari dalam dirinya, dan akhirnya tidak sanggup melanjutkan tali persahabatan dengan anda. Kerana itu, jangan mengeluarkan kata-kata yang cenderung meremehkan karya saudara anda, atau menganggap rendah idea dan sarannya. Sebaliknya, anda mesti memberi dukungan, menanggapi secara sopan dan penuh lapang dada, apalagi jika sikapnya tidak terlalu berlebihan.

Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam sering didatangi oleh para sahabat dan isteri-isteri beliau untuk memberikan ide dan saran dalam berbagai hal, beliau mahu menerima dan menuruti saran mereka dengan senang hati, sekalipun dalam bentuk pernyataan keberatan, kritik atau sekadar pertanyaan.

Sebagai contoh, meskipun dalam kedudukannya sebagai Nabi dengan segala keistimewaannya, Rasuhillah shallallahu 'alaihi wa sallam menerima sahabatnya agar membuat Arisy (bangsal tempat peristirahatan) dalam peristiwa Perang Badar.112 Ketika Perang Uhud, sebagian besar sahabat menyarankan agar mempertahankan Madinah dari luar kota. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerima saran tersebut, lalu keluar kota menuju Uhud, meskipun beliau memiliki pendapat yang berbeda.113 Dalam peristiwa perjanjian Hudaibiyah, Ummu Salamah radhiyallahu 'anha�isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam�memberi saran kepada beliau agar segera mencukur rambutnya sehingga para sahabat yang tadinya nampak enggan, akan segera melakukan hal yang sama dengan senang hati untuk meneladaninya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengikuti saran isterinya yang bijak itu. (Ibnu Ishaq�secara panjang lebar, 111/63-64 (as-Sirah an-Nabawiyyah li Ibni Hisyam), Baihaqi dalam kitab Dala'ilun-Nubuwwah III/204-205, dan Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad III/351. 114 Hadith tentang kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam asy-Syuruth no. 2731 dan 2732, di sela-sela kisah mengenai peristiwa Hudaibiyah yang cukup panjang. ) Begitu pula dengan A'isyah radhiyallahu 'anha yang sering mempertanyakan maksud ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau menjawabnya dengan tenang tanpa mengeluh sedikit pun. Seperti ketika beliau bersabda: "Barangsiapa ditanya ketika proses hisab (perhitungan di akhirat), nescaya mendapat azab." Tiba-tiba A'isyah bertanya: "Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Maka ia akan dihisab dengan penghisaban yang mudah" (al-Insyiqaq [84]: 8).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ayat tersebut berbicara mengenai 'ardh (ketika manusia baru dihadapkan untuk dihisab). Barangsiapa ditanya ketika proses hisab, nescaya mendapat azab." (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-'llm no. 103, at-Tafsir no. 4939, dan ar-Riqaq no. 6536 dan 6537. Juga diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Jannah wa Shifatu Na'imiha waAhliha no. 2876, Tirmidzi dalam Shifatul-Qiyamah no. 2426 dan at-Tafsir no. 3337, Abu Dawud dalam al-Jana'iz no. 3093�dengan tambahan pada awal riwayatnya yang dinyatakan dha'it' oleh al-Albani. Adapun sisanya sama dengan riwayat Bukhari dan Muslim, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad VI/47, 91, dan 108, ditambah beberapa riwayat di dalam bab lainnya.)

Demikian pula ketika RasuluUah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Manusia akan dihimpun pada hari kiamat dalam keadaan tidak berals kaki, telanjang dan tidak bersunat."

A'isyah bertanya: "Apakah mereka saling melihat?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawabnya dengan firman Allah:

"Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya" ('Abasa (80]: 37). (Kisahnya terdapat dalam hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam ar-Riqaq no. 6527, Muslim dalamal-Jannah no. 2859, Tirmidzi dalam at-Tafsir no. 3332, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad VI/53, dan hanya riwayat Tirmidzi yang memuat ayat di atas dan tanpa menyebut nama A'isyah, ia hanya menyatakan: "Berkatalah seorang perempuan..." )

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memutuskan untuk berdamai dengan kaum musyrik pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah, salah satu pasal perjanjian yang disepakati adalah, apabila seorang musyrik masuk Islam, harus ditolak dan dikembalikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada mereka. Sementara apabila di antara kaum Muslim ada yang murtad (kembali musyrik), maka tidak akan dikembalikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Melihat kenyataan ini, Umar bin Khaththab berkata: "Bukankah kita adalah Muslim?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak tersinggung dengan gaya pertanyaan Umar yang sama sekali tidak perlu dijawab, beliau hanya berkata: "Benar." Lalu dengan gaya yang sama, Umar kembali bertanya: "Bukankah mereka itu adalah Musyrik?" Kembali beliau menjawab: "Benar." Kemudian Umar bertanya lagi: "Kenapa kita rela mengalah demi agama ini?" Dengan penuh kesabaran, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahawa keputusan yang beliau ambil adalah perintah dari Allah, dan Allah sama sekali tidak akan mengacuhkannya. (Peristiwa tersebut tercatat dalam kisah Hudaibiyah yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam asy-Syuruth no. 2731 dan 2732. 63)

Jika peristiwa-peristiwa di atas merupakan contoh sikap scorang Nabi�dengan kedudukan dan segala keistimewaan-nya�dengan para sahabatnya, maka apatah lagi sikap yang seharusnya diambil oleh orang biasa dengan sahabatnya, seperti rendah hati, siap dikritik, dinasihati, dan sebagainya.

Bahkan lebih dari itu semua, cuba renungkan tingkat kesabaran Rasulullah shallailahu 'alaihi wa sallam dalam menghadapi berbagai bentuk perlakuan dan pertanyaan yang bernada kasar, seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu "Ketika Abdullah bin Ubay meninggal, putranya yang bernama Abdullah, datang menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menyampaikan berita tersebut. Setelah sampai di rumahnya, Rasulullah shallailahu 'alaihi wa sallam segera bersiap-siap menshalatkan jenazah Abdullah bin Ubay. Tiba-tiba Umar berdiri dan memegang baju beliau seraya berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau akan menshalatkannya, bukankah Allah telah melarangmu?" Rasulullah shallallaliu 'alaihi wa sallam menjawab: "Sesungguhnya Allah telah memberiku pilihan dalam firman-Nya:

"Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati-pun kamu memohonkan ampun bagi mereka sebanyak tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka" (at-Taubah [9]: 80).

Dan aku akan memohon ampunan untuknya lebih dari tujuh puluh kali." Umar mencoba untuk terus mempertanya-kan: "Sesungguhnya dia (Abdullah bin Ubay) itu adalah munafik." Namun RasuluUah shallallahu 'alaihi wa sallam tetap menshalatkannya, setelah peristiwa itu, turunlah firman Allah:

"Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) diatas kuburnya"(at-Taubah [9]: 84). (Kisah ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Jana'iz no. 1269, at-Tafsir no. 4670 dan 4672, dan al-Libas no. 5796. Juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Fadha'ilush-Shahabah no. 2400, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad II/18.)

Dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Abbas disebutkan: "Aku mendengar Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu bercerita: 'Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal, RasuluUah shallallahu 'alaihi wa sallam diminta kesediaan untuk menshalatkannya, beliau menyanggupi. Pada saat beliau sudah berdiri untuk memulai shalat jenazah, aku menghalangi beliau dan berdiri tepat di depannya. Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, apakah engkau akan shalat untuk jenazah musuhmu, yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul, yang pernah berkata...(Umar menyebut peristiwa-peristiwa buruk akibat ulah Abdullah bin Ubay).' Mendengar penuturan Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hanya tersenyum, dan ketika Umar tetap menyatakan keberatannya, beliau berkata: 'Mundurlah Umar, aku telah diberi pilihan, dan aku sudah menetapkan pilihanku, Allah menyatakan untukku:

"Kama memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati-pun kamu memohonkan ampun bagi mereka sebanyak tujuh puluh kali, namt/n Allah sckali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka" (at-Tauhah |9|: 80).

Seandainya aku tahu, jika aku memohon ampunan lebih dari tujuh puluh kali, ia (Abdullah bin Ubay) akan diampuni, nescaya akan kulakukan.' Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tetap melakukan shalat jenazah, mengantarnya, dan berdiri di atas area kuburannya sehingga selesai. Di akhir cerita Umar berkata: "Aku sangat terkejut dengan sikap dan kelancanganku kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam peristiwa itu, padahal Allah dan Rasul Nya lebih mengetahui hakikat masalahnya..." (al-hadith).(Al-Musnad I/16.)

Dalam peristiwa lain, seorang Arab Badui (pedalaman/ nomad) mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seraya menarik pakaian beliau dari belakang dan berkata kasar: "Wahai Muhammad, berikan kepadaku sebagian harta Allah, kerana harta itu bukan warisan dari ayah atau ibumu." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terus memberi sesuai permintaannya sampai ia merasa puas. (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Fardhul-Khumus no. 3149, al-Libas no. 5809, dan al-Adab no. 6088. Juga diriwayatkan olehMuslim dalam az-Zakah no. 1058. )

Demikianlah sikap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau sangat sabar atas perlakuan orang-orang yang lebih rendah darinya. Untuk itu, sikap orang biasa terhadap sahabatnya harus lebih sanggup bersabar, rendah hati, jauh dari kesombongan atau keras kepala.

Salah satu gambaran sikap yang buruk juga, jika anda selalu memperlakukan sahabat dalam posisi menerima, diperintah, melayani, menuruti, dan pasrah. Sehingga anda menghujaninya dengan berbagai macam perintah dan kritikan, bahkan memperlakukannya bagaikan pelayan yang senantiasa harus memenuhi keperluannya, disertai dengan kata-kata kasar yang tertuju kepadanya. Demikian pula jika anda merendahkan atau mengejek pendapat dan tindak-tanduknya.

Kerana itu, kita harus bertatakrama sesuai dengan yang diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, seperti dalam firman-Nya:

�Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain,

(kerana) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok

olok)� (al-Hujurat[49]:11)

Juga seperti yang diajarkan oleh RasuluUah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:

�Cukuplah seseorang dinyatakan buruk, jika ia mengejek saudaranya sesama Muslim.� (Potongan dari hadith yang diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Birr wash-Shillah no. 2564, Abu Dawud dalam al-Adab no. 4882, Tirmidzi dalam al-Birr wash-Shillah no. 1927, dan Ibnu Majah dalam az-Zuhd no. 4213�di dalam riwayatnya hanya terdapat redaksi hadith di atas, dan semuanya berasal dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Juga Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad III/491 dari riwayat Watsilah bin al-Asqa' radhiyallahu 'anhu. )

Juga sabdanya:

"Tidak akan masuk syurga orang yang dihinggapi kesombongan dalam hatinya, walau hanya seberat dzarrah (biji-bijian).� (Potongan dari hadith yang diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Iman no. 91, Abu Dawud dalam al-Libas no. 4091�dengan 65 )


SERING MEMBANTAH, BERBEDA SIKAP DAN HOBI, BERSIKAP SOMBONG DAN KASAR
Untuk menambah kehangatan ukhuwah, dua orangyang bersahabat mesti memiliki beberapa kesamaan sifat, kebiasaan dan watak. Pepatah mengatakan: "Burung-burung bergerombol dengan sesama jenisnya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Ruh-ruh itu bagaikan balatentara, jika mereka saling kenal, maka akan bersatu. Namun jika tidak saling kenal, maka akan berselisih." (Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Birr wash-Shillah no. 2638, Abu Dawud dalam al-Adab no. 4834, Ahmad dalam kitab al-Musnad II/295 dan 527, dan al-Baghawi dalam kitab Syarhus-Sunnah no. 3471, semuanya berasal dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Sementara Bukhari meriwa-yatkannya secara mu'allaq dalam Ahadithul-Anbiya' no. 3336 dari riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha, dalam kitab Fathul-Bari VI/426, dan Ibnu Hajar mengomentarinya seperti berikut: "Pengarang (Bukhari) menyambung� riwayat ini�dalam kitab al-Adab al-Mufrad dari riwayat Abdullah bin Shalih dari perawi sebelumnya (al-Laits)." Seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Hajar, Bukhari meriwayatkannya dalam kitab al-Adab al-Mufrad no. 900, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahihul-Adab al-Mufrad no. 691. Hadith ini diriwayatkan juga oleh Hakim dalam kitab at-Mustadrak IV/420, dan as-Sulami dalam kitab Adabush-Shahabah, hlm. 39-40, dari riwayat Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab al-Kabir, sebagaimana dinyatakan oleh al-llaitsami dalam kitab Majma'uz-Zawa'id VII/87, dari riwayat Abdullah bin Mas'ud. Al-Haitsami berkata: "Sanad-nyd sama dengan sanad kitab ash-Shahih.")

Malik bin Dinar berkata: "Dua insan tidak akan terikal dalam jalinan ukhuwah, kecuali jika masing-masing memiliki sifat yang sama dengan sahabatnya."

Kerana itu, betapa banyak orang yang berjumpa sekilas dalam perjalanan, kemudian berubah menjadi teman yang sangat dekat. Ada juga orang yang anda kenal melalui sahabat lama, kemudian ia menjadi sahabat yang lebih dekat ketimbang sahabat lama itu sendiri. Hal tersebut biasa terjadi, kerana anda menemukan beberapa kesamaan perasaan, kesenangan, prmahaman, dan idea. Seperti yang dinyatakan oleh seorang penyair:

berapa banyak sahabat yang kaukenal melalui sahabat

ia lebih dekat denganmu daripada sahabat lama

seorang sahabat yang kautemui dalam perjalanan

setelah sampai tujuan ia menjadi sahabat sejati (Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Mukhtar minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 130. 66 )

Di antara faktor yang dapat menambah keakraban ukhuwah sekaligus menjaganya dari kehancuran adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan beberapa kebiasaan sahabat, bersikap santai dan fleksibel. Sebaliknya, sering berseberangan dengan sahabat dapat mengurangi keakraban. Dalam sebuah hadith, Rasulullah shallaiiahu 'alaihi wasaiiam menerangkan beberapa karakteristik kaum Mukmin: "Mahukah kutunjukkan kepadamu semua tentang orang yang diharamkan masuk neraka atau tidak akan dimasukkan ke dalamnya? Yaitu seorang sahabat yang akrab, suka membantu, mudah melakukan apa saja." (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Shifatul-Qiyamah no. 2488, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad 1/415, dengan redaksi: �Setiap orang yang suka membantu, lembut, dan mudah berbuat, nescaya dekat dengan manusia.�Juga al-Baghawi dalam kitab Syarhus-Sunnah X1II/85�dengan redaksi yang dekat dengan riwayat Ahmad, al-Albani menyatakannya sebagai hadith shahih dalam kitab Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 2609, dan ash-Shahihah no. 938, ditambah dengan menyebutkan riwayat-riwayat penguat yang cukup banyak. Juga dinyatakan shahih oleh Syu'aib al-Ama'uth ketika ia men-tukhrij hadith yang terdapat dalam kitab Syarhus-Sunnah XIII/86. Silahkan lihat juga beberapa riwayat penguatnya dalam kitabMajma'uz-Zawa'id IV/ 75.)

Dalam riwayat lain dinyatakan:

"Siapa yang memiliki sifat mudah, ringan dan lembut, nescaya Allah mengharamkanneraka baginya.� (Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 6484. 67 )

Seorang penyair membahasakan:

jika engkau ingin berteman
maka carilah seorang sahabat
yang penuh malu, menjaga diri dan murah hati ia berkata 'tidak' jika engkau katakan 'tidak'

dan jika kaukatakan 'ya' ia menjawab juga 'ya' (Al-Khaththabi, al-'Uzlah, hlm. 71.)

Tentunya, semua itu dengan syarat tidak melanggar aturan syari'at agama, dan masih dalam ruang lingkup yang dibolehkan oleh agama, termasuk kebiasaan bergurau atau apa-apa yang disukai oleh sahabat.

Sifat malu, sikap itsar atau altruis (mengutamakan orang lain) dan beberapa perkara lain, dapat menarik hati sahabat. Hal ini boleh dilakukan dengan cara menyesuaikan diri dengan beberapa kesukaannya, walaupun tidak sesuai dengan karakter atau kebiasaan anda, dengan tujuan agar terhindar dari perselisihan, atau untuk mendekatkan perasaan dan hatinya. Juga untuk menjaga agar tidak berubah hanya kerana masalah-masalah sepele yang tidak ada kaitan dengan agama. Perselisihan jika kerap terjadi akan membuat hati menjadi renggang dan merasakan adanya ketidakcocokan serta melun-turkan keakraban.

Maka jagalah dirimu agar senantiasa lembut, fleksibel, penuh kasih dalam bergaul dengan sahabatmu. Hindarilah sifat kasar dan keras kepala, semoga Anda termasuk orang yang beruntung dengan janji Allah, yaitu diharamkan masuk neraka, juga seperti yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bagi orang-orang yang suka membantu dan bersikap lembut.

Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan keteladanan dalam bersikap lembut, senang membantu, jauh dari sikap sombong atau keras kepala. Seperti ketika seorang budak perempuan menggaet tangannya agar beliau membantu menyelesaikan keperluannya di suatu tempat di kota Madinah.(129 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adab no 6072. ) Bahkan lebih dari itu, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu�pelayan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam�menyatakan: "Aku menjadi pelayan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah mengeluh atau mengomentari pekerjaanku, seperti mengatakan, 'Kenapa kamu lakukan ini?', juga tidak pernah berkomentar ketika aku tidak melakukan sesuatu, seperti mengatakan, �Kenapa kamu tidak melakukan ini?�(130 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adab no. 6038, Muslim dalam al-Fadha'il no. 2309, Abu Dawud dalam al-Adab no. 4774,Tirmidzi dalam al-Birr wash-Shillah no. 2015, juga dalam ash-Syama'il no. 296 (Mukhtasha-rusy-Syama'il), dan ad-Darimi dalam Muqaddimah no. 62. )  Demikianlah sikap beliau terhadap pelayan, bagaimana dengan sikapnya terhadap sahabat?!

Itulah sebabnya mengapa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan semua manusia cinta dan suka pada kepribadi-annya�sebagaimana firman-Nya:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari seke-lilingmu" (Ali Imran [3]: 159).

Cuba renungkan pernyataan Ibnu Katsir rahimahullah berikut ini mengenai hikmah diutusnya para Rasul dari kalangan Ahlul-Qura (masyarakat kota), bukan dari masyarakat Badui (pedalaman/nomad). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara Ahlul-Qura" (Yusuf [12]: 109).

Ibnu Katsir berkata: maksud al-Qura pada ayat itu adalah al-Mudun (kota).

�)9#≅δ&⎯iHal ini bererti bahawa para Rasul bukan dari kalangan al-Bawadi (pedalaman/nomad), yang merupakan kelompok masyarakat yang berwatak dan berkarakter kasar. Sementara kalangan kota, sebagaimana yang diketahui dengan jelas, mereka memiliki watak yang sangat lembut dan lebih halus dari masyarakat pedalaman. Adapun masyarakat pinggiran dan perkampungan, mereka lebih dekat dengan masyarakat pedalaman. Untuk itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Orang-orangArab Badui itu, lebih hebat kekafiran dan kemu-nafikannya" (at-Taubah [9]: 97).

Menurut Qatadah, alasan Allah memilih mereka (para Rasul) dari kalangan kota, seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya #t��$��r��Β, kerana mereka memiliki kesabaran dankelebihan intelektual daripada masyarakat pedalaman. (Tafsir lbni Katsir, II/478. 69 )

Coba renungkan bagaimana Allah menggambarkan hu-bungan di antara para wali dan kekasih-Nya yang penuh rasa kasih sayang, tawadhu', dan kelembutan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka" (al-Fath [48]: 29).

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Hai orang-orangyang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang Mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir" (al-Ma'idah [5|: 54).

Wahai sahabat, hiasilab dirimu dengan sifat-sifat tersebut, jadilah seorang sahabat yang lembut, suka membantu, tawadhu', serta hangat. Ilindarilah sifat sonibong dan keras kepala. Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

"Orang Mukmin itu mahu menjalin dan dijalin, tiada kebaikan bagi orang yang tidak mahu menjalin dan dijalin. Sementara orang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi seluruh manusia.� (Al-Albani menyatakan: "Pengarang kitab al-Jami' (ash-Shaghir) berkata: hadith ini diriwayatkan oleh Daruquthni dalam al-Afrad, adh-Dhiya' al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah 'an Jabir (hadith-hadith pilihan yang diriwayatkan oleh Jabir), lalu as-Suyuthi menilai shahih atas hadith ini, sementara orang yang menerangkannya (kitab al-Jami') tidak berkomentar apa pun." Lihat: Silsilatul-Ahadith ash-Shahihah no. 426, hlm. 712. Dengan redaksi yang hampir serdpa, Imam Ahmad juga meriwayatkan dalam kitab al-Musnad 11/400, dari riwayat Abu Hurairah, yaitu dengan redaksi: "Orang Mukmin itu mahu dijalin, tiada kebaikan bagi orang yang tidak mahu menjalin dan dijalin." Sementara dari riwayat Sahl bin Sa'id as-Sa'idi (al-Musnad V/335) dengan redaksi: "Orang Mukmin itu tempat menjalin, dan tiada kebaikan bagi orang yang tidak mahu menjalin dan dijalin." )

Orang yang keras, sombong, dan kasar, akan kehilangan sahabat, atau tidak akan pernah memiliki sahabat, ia akan hidup sendiri dan kesepian.

Termasuk dalam kriteria sombong adalah, orang yang merasa dirinya lebih unggul dari orang lain kerana garis keturunan dari kabilah tertentu, negara kaya atau negara maju secara fisik, atau hal-hal lain yang berbau fanatisme Jahiliyah. Suatu kebiasaan yang orang baik pun belum tentu selamat dari jeratannya. Dampak negatif dari sikap-sikap tersebut dapat merusak hubungan ukhuwah yang semestinya dibangun berdasarkan iman, dan tidak boleh dikotori oleh noda-noda hina, yang bagi Allah sama sekali tidak bererti walau hanya seberat sayap nyamuk.

Waspadalah saudaraku, jangan terpedaya dengan keluhuran nasab, negara, atau hartamu. Hindarilah simbol-simbol Jahiliyah, seperti bangga dengan panggilan Khaliji (dinisbatkan kepada penduduk negara-negara di Teluk Persia), Syanii (dinisbatkan kepada penduduk negara-negara Syria, Jordan, Lebanon, Palestina dan sekitarnya), Mishri (dinisbatkan kepada penduduk negara Mesir), atau semisalnya. Jadikanlah simbolmu seperti ungkapan seorang penyair:

moyangku adalah Islam, tiada moyang selain dia jika mereka merasa bangga kerana keturunan Qais atau Tamim

Beberapa orang yang sombong merasa dirinya disukai oleh banyak orang lantaran ada segelintir orang yang menghormatinya. Padahal sebenarnya perasaan tersebut hanya samaran maya dan tipuan yang dilakukan oleh syaitan. Terkadang orang mahu menghormati kerana terdorong rasa takut, atau punya kepentingan. Model penghormatan seperti ini akan pupus setelah hilang faktor pendorongnya. Kerana ia hanya merupakan penghormatan yang terpaksa. Sungguh jauh perbedaan antara penghormatan palsu dengan penghormatan tulus yang timbul kerana rasa cinta dan segan.

Dalam hal ini, sungguh indah untaian kalimat yang terluncur dari isteri Khalifah Harun ar-Rasyid. Ketika berada di beranda istana, ia melihat kerumunan manusia yang luarbiasa ramai mengelilingi Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah, dan begitu melihat pemandangan tersebut ia berkata: "Dialah (Abdullah Ibnul-Mubarak) raja yang sebenarnya, dan bukan Harun ar-Rasyid, (Saya tidak bermaksud mengkritik atau merendahkan reputasi Harun ar-Rasyid. Yang saya inginkan hanya ungkapan isterinya, yaitu perihal pembedaan antara orang yang dihormati kerana kekuasaannya dengan orang yang dihormati kerana memperoleh simpati di hati masyarakat dengan penuh cinta dan ketulusan. ) yang tidak dapat mengumpulkan manusia kecuali jika dibantu polisi dan pengawal." (Tarikh Baghdad X/156-157, dan Siyaru Alamin-Nubala' VIII/384. 71 )

MEMBERI TEGURAN DI DEPAN ORANG LAIN
Di antara bukti ketulusan cinta, etika dan hak ukhuwah adalah memberi nasihat kepada saudaramu apabila ia melakukan kemungkaran, maksiat atau kesalahan, dengan tujuan agar kembali kepada kebenaran sekaligus terhindar dari ancaman kemurkaan dan siksa Allah Subhanahu wa Ta'ala. Namun demikian, nasihat tidak boleh dilakukan secara terbuka di tengah-tengah keramaian manusia, kecuali jika ada alasan yang mendesak, kerana semua orang sepakat bahawa nasihat di tengah keramaian sangat tidak disukai, semua orang tidak suka jika keburukan-keburukannya dibuka di depan umum. Lebih dari itu, menasihati atau menyebut kesalahan seseorang di muka umum merupakan penyebab cepat pudarnya rasa cinta dan mudah menanam bibit-bibit permusuhan, kerana merasa dicemarkan dan dihina, juga dapat menimbulkan sifat keras kepala dan nafsu untuk membalas dendam.

Hal ini diungkapkan oleh Imam Syafi'i dalam puisinya:

nasihatilah diriku di kala aku sendiri

jangan kaunasihati aku di tengah keramaian kerana nasihat di muka umum adalah bagian dari penghinaan yang tak suka aku mendengarnya

jika engkau enggan dan tetap melanggar kata-kataku maka jangan menyesal jika aku enggan menurutimu (Diwan asy-Syafi'i, hlm. 90. )

Lain halnya ketika seseorang dikritik dan dinasihati dalam keadaan menyendiri, ia akan lebih menerima, mampu mema-hami permasalahan dengan jelas, dan tertarik kepadamu. Kerana Anda telah memberi suatu pertolongan, bahkan layanan dalam bentuk nasihat dan koreksi atas kesalahan yang dilakukannya. (Namun jika sekiranya seorang pemimpin merasa perlu, atau kerana masyarakat umum terlanjur mengetahui kesalahan yang dilakukan oleh beberapa individu di depan khalayak umum, dan dikhawatirkan dapat berdampak buruk terhadap mereka, maka sikap yang harus diambil sesuai tuntunan sunnah adalah mengoreksi kesalahan tersabut di atas mimbar (di depan publik) tanpa menyebut nama pelakunya. Hal itu dilakukan sebagai pemberitahuan dan tindakan preventif agar tidak terjebak di dalamnya, sekalipun pelakunya akan mengetahui bahawa koreksi yang dilakukan oleh pemimpin masyarakat tersebut adalah mengenai kesalahan yang ia lakukan, dan hal ini tetap diperbolehkan. Alasannya adalah bahawa Rasulullah shallallahu alaihiwasallam pernah mendengar berita tentang beberapa orang yang bertekad meninggalkan beberapa pcrkara yang dibolehkan dan dilakukan oleh Rasulullah salallahu 'alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apa gerangan yang membuat beberapa orang bertekad untuk meninggalkan perbuatan yang aku lakukan. Sesungguhnya akudemi Allah adalah orang yang paling mengetahui mengenai (hukum) Allah dan paling takut kepada-Nya diantara kamu semua." Demikian juga dengan peristiwa kaum Barirah yang meminta kepada A'isyah agar Barirah memberikan wala' (loyalitas) kepada mereka, ketika A'isyah memerdekakannya. Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam marah lalu berbicara di depan para sahabat: "Apa gerangan yang membuat beberapa orang mensyaratkan sesuatu di luar tuntunan Kitabullah (al-Qur'an)?... Wala' adalah bagi orang yang memerdekakan." Lihat: Fathul-Bari V/384-385 )

Beberapa orang ingin melihat hasil dari usahanya secepat kilat, sehingga berharap agar orang yang dinasihatinya mahu berubah seketika. Jika tidak demikian, ia beranggapan bahawa nasihatnya telah gagal, atau terus berupaya menekan orang yang dinasihati, sehingga lebih mirip perdebatan. Kerana ia beranggapan bahawa orang yang dinasihati itu tidak mengerti nasihat yang diberikannya, atau belum menerima nasihat itu.
Seorang pemberi nasihat yang memiliki penilaian seperti itu adalah salah. Kerana sudah menjadi tabiat umum manusia, mereka enggan mengakui kesalahan secara langsung, melainkan memerlukan bahayag waktu untuk berpikir, atau mencari kesempatan untuk kembali.

Jika anda sedang menasihati seorang sahabat, maka jangan mengejek kesalahannya, kerana mengejek suatu perbuatan dosa yang telah dilakukan, sama sekali bukan nasihat, melainkan suatu perbuatan hina dan merupakan perilaku orang yang tidak takut terjerumus dalam su'ul-khatimahi (keburukan pada akhir masa hidup). Perilaku ini dapat berakibat buruk bagi pelakunya. Sebuah pepatah klasik mengatakan: "Siapa menghina saudaranya kerana berbuat dosa, ia tidak akan mati kecuali setelah terjebak di dalam dosa yang sama." (Imam Ahmad, az-Zuhd, hlm. 342. Redaksinya adalah: "Kami dahulu sepakat dengan pepatah yang menyatakan 'Siapa yang menghina saudaranya kerana dosa yang dilakukan padahal ia sudah bertaubat, nescaya ia (yang menghina) tidak akan mati kecuali setelah terjebak dalam dosa yang sama.'" Dalam kitab al-Bidayah wan-Nihayah IX/283 dinyatakan bahawa pepatah klasik mengatakan: "Barangsiapa menuduh saudaranya telah berbuat dosa..." Ungkapan di atas diriwayatkan secara marfu' oleh Tirmidzi dalam Shifatul-Qiyamah no. 2505, dan Ahmad berkata:".. .dari dosa yang ia sudah bertaubat darinya." Tirmidzi berkomentar: "Hadith ini adalah gharib dan sanad-nya tidakbersambung..."As-Suyuthi menandainya sebagai hadith hasan dalam al-Jami' ash-Shaghir no. 8869 (di dalam Faidhul-Qadir). Kemudian di tempat lain ia (pengarang Faidhul-Qadir�Penj.) mengatakan bahawa di dalam sanad-nya terdapat Muhammad bin Abi Yazid al-Hamadani; ia dinyatakan oleh Abu Dawud dan kritikus hadith lainnya sebagai seorang pendusta. Kerana itu, Ibnul-Jauzi mencatatnya dalam kitah al-Mahudhu'at (hadith-hadith palsu). Lihat: Faidhul-Qadir VI/183. Al-Albani, dalam kitab Dha'iful-Jamf ash-Shaghir no. 5722 menyatakannya sebagai hadith mahudhu' (palsu). )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar