TAMAK AKAN KENIKMATAN DUNIA
Mungkin Anda bertanya: adakah hubungan antara cinta yang terjalin antara dua insan, dengan sifat tamak akan kenikmatan dunia yang ada pada salah seorang di antara mereka atau keduanya?
Secara pasti, jawabannya adalah: ya! Jika sifat tamak akan kenikmatan dunia dan ketertarikan dengan apa-apa yang dimiliki oleh kebanyakan orang, sebagai faktor dominan yang mendorongnya untuk membangun cinta dengan orang lain. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Berzuhudlah dari kenikmatan dunia, nescaya Allah akan mencintaimu, dan berzuhudlah dari apa-apa yang dimiliki oleh manusia, nescaya mereka mencintaimu. " (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam az-Zuhd no. 4102, Hakim dalam kitab al-Mustadrak IV/313, dan Abu Nu'aim dalam kitab al-Hilyah III/253 dan VII/136. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakannya sebagai hadith hasan dalam kitab Bulughul-Maram no. 1501, juga al-Albani menyatakannya sebagai hadith hasan dalam kitab Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 922, dengan penjelasan berbagai sanad-nya dalam kitab Silsilatul-Ahadith ash-Shahihah no. 944. )
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan kurnia Rabb-mu adalah lebih baik dan lebih kekal" (Thaha [20]: 131).
Banyak kisah dua orang sahabat yang saling mencintai dengan tulus sehingga masing-masing merasa berat untuk berpisah dari kawannya, tiba-tiba sikap mereka berubah ketika terngiur dengan gemerlap dunia dan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.
Ada pula seorang yang dikenal baik hati, dapat menerima kurnia Allah seadanya, tulus dalam bergaul dengan sahabat-sahabatnya, tiba-tiba hatinya berubah setelah selalu memban-dingkan dirinya dengan orang yang diberi kelebihan kenikmatan dunia, matanya tertuju kepada pesona harta orang lain. Sementara dalam urusan agama, ia selalu melihat kepada yang lebih rendah kadar ketaatannya. Hatinya berubah bersamaan dengan berubahnya ketulusan persahabatan yang terjalin dengan baik selama ini, perhatiannya tidak lagi tertuju kepada orang yang lebih tinggi kadar ketaatan agamanya, seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Semakin jauh mencintai dunia, semakin pudar sifat itsar (iltruisme) pada dirinya dan lalai akan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Seseorang di antara kamu tidak beriman (dengan sempurna) kecuali setelah mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.� (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Iman no. 7, Muslim dalam al-Iman no. 45, Tirmidzi dalamShifatul-Qiyamah war-Raqa'iqwal-Wara'no. 2515, an-Nasa'i dalam al-Iman VIII/115, Ibnu Majah dalam Muqaddimah no. 66, dan al-Baghawi dalam kitabSyarhus-Sunnah XIII/60. Dalam riwayat al-Baghawi dan an-Nasa'i terdapat tambahan pada akhir hadith, yaitu sabdaRasulullahs/2fl//tf//a/!u 'alaihi wa sallam: "Dari perkara-perkarayangbaik." )
Saat itu muncullah sifat egoisme dengan jargonnya 'nafsi-nafsi' (sendiri-sendiri).
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
�Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara� (al-Hujurat [49]: 10).
Ukhuwah (persaudaraan) adalah tema yang paling indah untuk dijadikan wacana dan bahan perbincangan di antara manusia secara jernih; ia halus bagai cahaya, manis, dan digemari oleh semua kalangan. Namun, apa pengertian ukhuwah yang dinyatakan oleh al-Qur'an?
Dua anak manusia yang berjalan bersama dalam keadaan normal dan tenang, dengan mudah dapat menjalin cinta! Mereka terus berjalan bergandingan dan tali-tali kasih sudah terajut mengikat keduanya. Namun tidak demikian halnya ketika jalan yang ditempuh mulai menyempit, dan hanya cukup untuk satu orang saja. Saat itu hati keduanya bertanya-tanya: siapa yang berjalan terlebih dahulu? Apakah aku atau saudaraku, sementara aku di belakangnya?
Keadaan semakin memburuk ketika jalan semakin menyempit dan terjal, hanya satu orang yang boleh melanjutkan perjalanan, sementara yang lain harus tertinggal! Hanya ada satu peluang yang ada di antara aku dan saudaraku, lantas siapa yang harus kudahulukan? Akankah kukatakan: inilah kesempatan emasku, biarkan ia mencari kesempatannya sendiri? Atau kukatakan kepadanya: ambillah kesempatan ini, biar kucari kesempatan untuk diriku? Itulah bisikan-bisikan yang menggelitik.
Ukhuwah yang terjalin dalam keadaan normal dan aman tidak menuntut apa pun atau menuntut hal-hal yang bertentangan dengan kepentingan pribadi. Ukhuwah dalam keadaan tersebut merupakan kesenangan yang didambakan oleh setiap manusia agar memperoleh ketenangan jiwa ketika mampu mewujudkannya.
Mungkin Anda bertanya: adakah hubungan antara cinta yang terjalin antara dua insan, dengan sifat tamak akan kenikmatan dunia yang ada pada salah seorang di antara mereka atau keduanya?
Secara pasti, jawabannya adalah: ya! Jika sifat tamak akan kenikmatan dunia dan ketertarikan dengan apa-apa yang dimiliki oleh kebanyakan orang, sebagai faktor dominan yang mendorongnya untuk membangun cinta dengan orang lain. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Berzuhudlah dari kenikmatan dunia, nescaya Allah akan mencintaimu, dan berzuhudlah dari apa-apa yang dimiliki oleh manusia, nescaya mereka mencintaimu. " (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam az-Zuhd no. 4102, Hakim dalam kitab al-Mustadrak IV/313, dan Abu Nu'aim dalam kitab al-Hilyah III/253 dan VII/136. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakannya sebagai hadith hasan dalam kitab Bulughul-Maram no. 1501, juga al-Albani menyatakannya sebagai hadith hasan dalam kitab Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 922, dengan penjelasan berbagai sanad-nya dalam kitab Silsilatul-Ahadith ash-Shahihah no. 944. )
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan kurnia Rabb-mu adalah lebih baik dan lebih kekal" (Thaha [20]: 131).
Banyak kisah dua orang sahabat yang saling mencintai dengan tulus sehingga masing-masing merasa berat untuk berpisah dari kawannya, tiba-tiba sikap mereka berubah ketika terngiur dengan gemerlap dunia dan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.
Ada pula seorang yang dikenal baik hati, dapat menerima kurnia Allah seadanya, tulus dalam bergaul dengan sahabat-sahabatnya, tiba-tiba hatinya berubah setelah selalu memban-dingkan dirinya dengan orang yang diberi kelebihan kenikmatan dunia, matanya tertuju kepada pesona harta orang lain. Sementara dalam urusan agama, ia selalu melihat kepada yang lebih rendah kadar ketaatannya. Hatinya berubah bersamaan dengan berubahnya ketulusan persahabatan yang terjalin dengan baik selama ini, perhatiannya tidak lagi tertuju kepada orang yang lebih tinggi kadar ketaatan agamanya, seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Semakin jauh mencintai dunia, semakin pudar sifat itsar (iltruisme) pada dirinya dan lalai akan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Seseorang di antara kamu tidak beriman (dengan sempurna) kecuali setelah mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya.� (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Iman no. 7, Muslim dalam al-Iman no. 45, Tirmidzi dalamShifatul-Qiyamah war-Raqa'iqwal-Wara'no. 2515, an-Nasa'i dalam al-Iman VIII/115, Ibnu Majah dalam Muqaddimah no. 66, dan al-Baghawi dalam kitabSyarhus-Sunnah XIII/60. Dalam riwayat al-Baghawi dan an-Nasa'i terdapat tambahan pada akhir hadith, yaitu sabdaRasulullahs/2fl//tf//a/!u 'alaihi wa sallam: "Dari perkara-perkarayangbaik." )
Saat itu muncullah sifat egoisme dengan jargonnya 'nafsi-nafsi' (sendiri-sendiri).
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
�Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara� (al-Hujurat [49]: 10).
Ukhuwah (persaudaraan) adalah tema yang paling indah untuk dijadikan wacana dan bahan perbincangan di antara manusia secara jernih; ia halus bagai cahaya, manis, dan digemari oleh semua kalangan. Namun, apa pengertian ukhuwah yang dinyatakan oleh al-Qur'an?
Dua anak manusia yang berjalan bersama dalam keadaan normal dan tenang, dengan mudah dapat menjalin cinta! Mereka terus berjalan bergandingan dan tali-tali kasih sudah terajut mengikat keduanya. Namun tidak demikian halnya ketika jalan yang ditempuh mulai menyempit, dan hanya cukup untuk satu orang saja. Saat itu hati keduanya bertanya-tanya: siapa yang berjalan terlebih dahulu? Apakah aku atau saudaraku, sementara aku di belakangnya?
Keadaan semakin memburuk ketika jalan semakin menyempit dan terjal, hanya satu orang yang boleh melanjutkan perjalanan, sementara yang lain harus tertinggal! Hanya ada satu peluang yang ada di antara aku dan saudaraku, lantas siapa yang harus kudahulukan? Akankah kukatakan: inilah kesempatan emasku, biarkan ia mencari kesempatannya sendiri? Atau kukatakan kepadanya: ambillah kesempatan ini, biar kucari kesempatan untuk diriku? Itulah bisikan-bisikan yang menggelitik.
Ukhuwah yang terjalin dalam keadaan normal dan aman tidak menuntut apa pun atau menuntut hal-hal yang bertentangan dengan kepentingan pribadi. Ukhuwah dalam keadaan tersebut merupakan kesenangan yang didambakan oleh setiap manusia agar memperoleh ketenangan jiwa ketika mampu mewujudkannya.
Namun dalam keadaan sulit, ketika rasa tamak mencuat, ukhuwah diuji dengan ujian yang berat. Di sinilah altruisme dan cinta dapat dibedakan dari egoisme dan serakah, yang terkadang tidak disedari oleh seseorang ketika dalam keadaan normal dan menganggap dirinya sebagai sahabat setia yang memenuhi segala tuntutan ukhuwah.
Berapa banyak halaqah, pelajaran, nasihat, dan saran yang diperlukan oleh individu, kelompok dan basis komunitas agar makna luhur ukhuwah tertanam dalam diri mereka, sehingga tidak sekadar menjadi kebenaran teoretis dan berhenti pada nalar rasional, melainkan berkembang menjadi keyakinan nurani dan terimplementasi dalam perilaku nyata, (Muhammad Quthb, Waqi'una al-Mu'ashir, hlm. 489-490�bersama ayatnya. 22 ) seperti yang dinyatakan dalam al-Qur'an:
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kalangan Muhajirin); dan mereka mengutamakan (kalangan Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka sangat memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (al-Hasyr [59]: 9)
.
Berapa banyak halaqah, pelajaran, nasihat, dan saran yang diperlukan oleh individu, kelompok dan basis komunitas agar makna luhur ukhuwah tertanam dalam diri mereka, sehingga tidak sekadar menjadi kebenaran teoretis dan berhenti pada nalar rasional, melainkan berkembang menjadi keyakinan nurani dan terimplementasi dalam perilaku nyata, (Muhammad Quthb, Waqi'una al-Mu'ashir, hlm. 489-490�bersama ayatnya. 22 ) seperti yang dinyatakan dalam al-Qur'an:
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kalangan Muhajirin); dan mereka mengutamakan (kalangan Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka sangat memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (al-Hasyr [59]: 9)
.
LALAI MENJALANKAN IBADAH DAN MELANGGAR TUNTUNAN AGAMA
Sejauh mana kadar takwa dan kebaikan yang anda lihat dari saudararnu, sejauh itulah tulusnya cinta dan persahabatan yang anda berikan padanya. Sejauh mana tingkat dzikir, ibadah, peringatan akan akhirat, perhatian terhadap ketaatan kepada Allah, dan dakwah di jalan-Nya yang memenuhi nuansa persahabatan dan pertemanan, sejauh itulah eratnya persabatan dan jalinan cinta yang terjalin di antara keduanya.
Namun jika hubungan persahabatan kering dari makna-makna dzikir, ibadah, saling menasihati, mengingatkan perihal akhirat dan mendorong semangat dakwah, maka kegersangan ukhuwah akan semakin terasa, lalu beralih menjadi permainan (lagha) dan perdebatan sia-sia.
Hati bertambah keras dan cepat bosan, sementara lagha (perkataan dan perbuatan sia-sia) membuka gerbang keru-sakan dan perselisihan, yang pada akhirnya terjelmalah dosa sebagai dinding pemisah yang memburaikan ikatan ukhuwah dan memisahkan dua sahabat. Dalam sebuah hadith shahih, Rasulullah shallallahu. 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang kerana Allah berpisah, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.�48
Dosa yang dilakukan tersebut tidak semestinya berhubungan dengan saudaramu, namun bentuk dosa apa pun yang dilakukan oleh seseorang dapat menjadi faktor hilangnya seluruh kawan dekat dan saudaranya satu demi satu. Misalnya dosa yang berhubungan dengan masalah kewangan, lantaran meninggalkan kewajiban, perbuatan tidak terpuji, mengucapkan kata-kata jelek, ghibah, menjatuhkan wibawa dan kepribadian orang lain, memperolok-olok, dan berbagai perbuatan maksiat lainnya.
Dosa kerana perbuatan-perbuatan maksiat di atas dapat mengakibatkan hilangnya rasa
48 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad no. 401, dari riwayat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Riwayat ini dinyatakan shahih al-Albani dalam kitab Shahihul-Adab al-Mufrad no. 310. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad 11/68 dari riwayat Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu dengan lafazh: "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak menzhalimi dan menghinanya." Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan: "Aku bersumpah, demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah dua orang bersahabat itu berpisah, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya..." (al-hadith). Imam Ahmad (al-Musnad V/71) meriwayatkannya juga dari salah seorang keluarga Bani Salith, ia berkata: "Aku pernah menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Pada saat itu beliau sedang dikerumuni oleh para sahabatnya, dan aku mendengar beliau bersabda: 'Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak menzhalimi dan menghinanya, takwa itu ada di sini (dengan menunjuk dadanya). Tidaklah dua orang bersahabat kerana Allah 'Azza wa Jalla berpisah, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya, dan pelakunya adalah yang lebih buruk (tigakali).� �Al-Haitsami (Majma'uz-Zawa'id X/1) berkata: hadith ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan (baik).
Namun jika hubungan persahabatan kering dari makna-makna dzikir, ibadah, saling menasihati, mengingatkan perihal akhirat dan mendorong semangat dakwah, maka kegersangan ukhuwah akan semakin terasa, lalu beralih menjadi permainan (lagha) dan perdebatan sia-sia.
Hati bertambah keras dan cepat bosan, sementara lagha (perkataan dan perbuatan sia-sia) membuka gerbang keru-sakan dan perselisihan, yang pada akhirnya terjelmalah dosa sebagai dinding pemisah yang memburaikan ikatan ukhuwah dan memisahkan dua sahabat. Dalam sebuah hadith shahih, Rasulullah shallallahu. 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang kerana Allah berpisah, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya.�48
Dosa yang dilakukan tersebut tidak semestinya berhubungan dengan saudaramu, namun bentuk dosa apa pun yang dilakukan oleh seseorang dapat menjadi faktor hilangnya seluruh kawan dekat dan saudaranya satu demi satu. Misalnya dosa yang berhubungan dengan masalah kewangan, lantaran meninggalkan kewajiban, perbuatan tidak terpuji, mengucapkan kata-kata jelek, ghibah, menjatuhkan wibawa dan kepribadian orang lain, memperolok-olok, dan berbagai perbuatan maksiat lainnya.
Dosa kerana perbuatan-perbuatan maksiat di atas dapat mengakibatkan hilangnya rasa
48 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad no. 401, dari riwayat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Riwayat ini dinyatakan shahih al-Albani dalam kitab Shahihul-Adab al-Mufrad no. 310. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad 11/68 dari riwayat Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhu dengan lafazh: "Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak menzhalimi dan menghinanya." Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan: "Aku bersumpah, demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah dua orang bersahabat itu berpisah, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya..." (al-hadith). Imam Ahmad (al-Musnad V/71) meriwayatkannya juga dari salah seorang keluarga Bani Salith, ia berkata: "Aku pernah menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Pada saat itu beliau sedang dikerumuni oleh para sahabatnya, dan aku mendengar beliau bersabda: 'Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, ia tidak menzhalimi dan menghinanya, takwa itu ada di sini (dengan menunjuk dadanya). Tidaklah dua orang bersahabat kerana Allah 'Azza wa Jalla berpisah, kecuali disebabkan oleh dosa yang dilakukan oleh salah seorang di antara keduanya, dan pelakunya adalah yang lebih buruk (tigakali).� �Al-Haitsami (Majma'uz-Zawa'id X/1) berkata: hadith ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan (baik).
cinta dan ukhuwah, baik secara langsung mahupun tidak langsung - sebagai balasan atas maksiat, yaitu dengan hilangnya sahabat-sahabat yang mencintaimu. Sebagai contoh, sahabatmu merasa jika berdekatan denganmu akan menggiringnya ke dalam maksiat, diam dengan kemungkaran, lebih mengingatkan perihal duniawi dan melupakan dzikir serta akhirat, lalai beribadah, dan menjauhkan dari kegiatan-kegiatan dakwah. Dengan alasan-alasan tersebut, rasa cintanya semakin terkikis dan lebih menyukai bergaul dengan orang lain.
Sesungguhnya kelebihan hubungan ukhuwah kerana Allah adalah kerana yang terlibat di dalamnya senantiasa mengingatkan masalah-masalah akhirat, seperti yang dinyatakan oleh al-Hasan rahimahullah: "Sahabat lebih kami cintai daripada keluarga sendiri, kerana sahabat mengingatkan kita akan akhirat, sedang keluarga mengingatkan kita akan dunia."
Dengan demikian, jika seorang sahabat cenderung mengingatkanmu dengan masalah-masalah duniawi, kelebihan apa lagi yang masih tersisa darinya? Untuk itu, jika engkau ingin memiliki sahabat-sahabat yang menghargai dan menghormatimu, hendaklah engkau mulai dengan memperbaiki hubunganmu dengan Allah, komitmen dengan ketentuan syari'at dan hukum-hukum-Nya, jauhkan dirimu dari maksiat dan dosa. 'Seorang bijak berkata: "Barangsiapa yang menghendaki kemuiliaan tanpa keluarga, kaya tanpa harta, kedudukan di antara sahabat, wibawa di mata penguasa, maka hendaknya ia mampu membebaskan diri dari belenggu maksiat menuju taat kepada Allah."
Di antara bentuk pelanggaran syari'at yang dapat menghancurkan cinta imani, bahkan dapat mengakibatkan permusuhan adalah mahabbah syaitaniyyah (cinta yang didorong oleh nafsu syaitan). Hal ini dapat terjadi jika hubungan yang terjalin antara dua insan berjalan tidak wajar dan membawanya dalam keadaan yang serba tidak menentu, khawatir dan lemah, sehingga ketika dalam shalat pun ia masih mengingat dan merasakan kehadirannya. Ia tidak suka apabila sahabatnya berkenalan dengan orang lain atau bergaul dengan orang lain, benci dengan setiap orang yang mahu menjalin hubungan dengannya, bahkan mungkin beberapa kawannya merasa dirugikan oleh keberadaannya, kecemburuan yang muncul kepadanya seakan-akan kecemburuan terhadap istrinya sendiri.
Model cinta seperti itu bukanlah cinta imani, melainkan cinta syaitan atau nafsu syahwat yang lebih mendekati al-'isyq (cinta kerana nafsu), yang dibangun atas dasar keakraban belaka, penampilan luar, paras muka, dan semisalnya. Cinta seperti ini justru akan menjerumuskan ke dalam kenistaan, permusuhan, dan sikap saling menjauhi. Kerana segala sesuatu yang tidak dibangun kerana Allah akan terputus, namun jika kerana Allah akan tetap kekal dan bersambung. Sebagaimana keindahan rupa tidak menjamin kebaikan dirinya.
jangan terpedaya dengan keelokan rupa
sungguh banyak wanita cantik yang buruk pribadinya
tidak selamanya yang kuning mengkilap
adalah uang emas
kalajengking kuning
Sesungguhnya kelebihan hubungan ukhuwah kerana Allah adalah kerana yang terlibat di dalamnya senantiasa mengingatkan masalah-masalah akhirat, seperti yang dinyatakan oleh al-Hasan rahimahullah: "Sahabat lebih kami cintai daripada keluarga sendiri, kerana sahabat mengingatkan kita akan akhirat, sedang keluarga mengingatkan kita akan dunia."
Dengan demikian, jika seorang sahabat cenderung mengingatkanmu dengan masalah-masalah duniawi, kelebihan apa lagi yang masih tersisa darinya? Untuk itu, jika engkau ingin memiliki sahabat-sahabat yang menghargai dan menghormatimu, hendaklah engkau mulai dengan memperbaiki hubunganmu dengan Allah, komitmen dengan ketentuan syari'at dan hukum-hukum-Nya, jauhkan dirimu dari maksiat dan dosa. 'Seorang bijak berkata: "Barangsiapa yang menghendaki kemuiliaan tanpa keluarga, kaya tanpa harta, kedudukan di antara sahabat, wibawa di mata penguasa, maka hendaknya ia mampu membebaskan diri dari belenggu maksiat menuju taat kepada Allah."
Di antara bentuk pelanggaran syari'at yang dapat menghancurkan cinta imani, bahkan dapat mengakibatkan permusuhan adalah mahabbah syaitaniyyah (cinta yang didorong oleh nafsu syaitan). Hal ini dapat terjadi jika hubungan yang terjalin antara dua insan berjalan tidak wajar dan membawanya dalam keadaan yang serba tidak menentu, khawatir dan lemah, sehingga ketika dalam shalat pun ia masih mengingat dan merasakan kehadirannya. Ia tidak suka apabila sahabatnya berkenalan dengan orang lain atau bergaul dengan orang lain, benci dengan setiap orang yang mahu menjalin hubungan dengannya, bahkan mungkin beberapa kawannya merasa dirugikan oleh keberadaannya, kecemburuan yang muncul kepadanya seakan-akan kecemburuan terhadap istrinya sendiri.
Model cinta seperti itu bukanlah cinta imani, melainkan cinta syaitan atau nafsu syahwat yang lebih mendekati al-'isyq (cinta kerana nafsu), yang dibangun atas dasar keakraban belaka, penampilan luar, paras muka, dan semisalnya. Cinta seperti ini justru akan menjerumuskan ke dalam kenistaan, permusuhan, dan sikap saling menjauhi. Kerana segala sesuatu yang tidak dibangun kerana Allah akan terputus, namun jika kerana Allah akan tetap kekal dan bersambung. Sebagaimana keindahan rupa tidak menjamin kebaikan dirinya.
jangan terpedaya dengan keelokan rupa
sungguh banyak wanita cantik yang buruk pribadinya
tidak selamanya yang kuning mengkilap
adalah uang emas
kalajengking kuning
adalah jenis yang paling jelek dan berbahaya (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 167)
Dzur-Rummah menjadikan air sebagai perumpamaan bagi orang yang baik lahirnya namun jahat batinnya. Ia berujar:
tidakkah kau tahu; kadang air itu busuk baunya
walau warnanya tetap putih jernih
Suatu ketika, seorang bijak melihat orang yang sangat tampan. Lalu ia berkata: "Memang, rumah itu indah, tapi penghuninya jelek." Jahzhah ( Jahzhah (orang yang bermata besar) adalah gelar untuk Ahmad bin Musa bin Yahya bin Khalid bin Bardak, seorang ahli puisidan sastra, dan memiliki dua bola mata yang besar), seorang sastrawan Arab kemiidian mengambil makna ungkapan tersebut dalam bail puisinya:
seringkali perbedaan itu nampak jelas sekali antara rumah indah namun pikiran rosak (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 167)
Adapun cinta imani membawa ketenteraman dan kedaimaian, terus mendorong untuk taat dan mendekatkan diri dengan Allah, ia bertambah kukuh dengan ketaatan sahabat yang dicintai kepada Allah, dan berkurang kerana kelalaiannya atas hak-hak Allah Subhanahu waTa'ala. Suatu hal yang mesti diperhatikan, walaupun ukhuwah begitu penting dan memiliki berbagai dampak positif, namun Islam senantiasa menganjurkan untuk memposisikan segala sesuatu dalam kerangka yang seimbang. Sikap berlebihan (ekstrem) tidak dapat diterima dalam bentuk apa pun, ia merupakan sikap abnormal yang dapat menjerumuskan ke dalam kenistaan dan kelalaian. (Musykilatud-Da'wah wad-Da'iyah, hlm. 210.)
Setiap hamba mesti membangun amalannya di atas ketulusan kerana Allah. Cubalah berintrospeksi, siapa pun yang hidup di dunia ini tidak dapaf menyelamatkan Anda, paras yang elok rupawan tidak akan menjadi penolong bagi diri Anda, bahkan pemiliknya sekalipun. Semua akan sirna, keindahan rupa akan berubah menjadi pemandangan yang menjijikkan setelah terkubur, dan menjadi santapan ulat-ulat kuburan.
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan" (ar-Rahman [55]: 26-27).
Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahawa jika Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu sedang berusaha mengawal hatinya, ia mendatangi reruntuhan bangunan tua, berdiri di depan pintu dan memanggil dengan suara memelas penuh duka: "Di mana-kah penghunimu?" Lalu Ibnu Umar berbisik pada diri sendiri:
Dzur-Rummah menjadikan air sebagai perumpamaan bagi orang yang baik lahirnya namun jahat batinnya. Ia berujar:
tidakkah kau tahu; kadang air itu busuk baunya
walau warnanya tetap putih jernih
Suatu ketika, seorang bijak melihat orang yang sangat tampan. Lalu ia berkata: "Memang, rumah itu indah, tapi penghuninya jelek." Jahzhah ( Jahzhah (orang yang bermata besar) adalah gelar untuk Ahmad bin Musa bin Yahya bin Khalid bin Bardak, seorang ahli puisidan sastra, dan memiliki dua bola mata yang besar), seorang sastrawan Arab kemiidian mengambil makna ungkapan tersebut dalam bail puisinya:
seringkali perbedaan itu nampak jelas sekali antara rumah indah namun pikiran rosak (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 167)
Adapun cinta imani membawa ketenteraman dan kedaimaian, terus mendorong untuk taat dan mendekatkan diri dengan Allah, ia bertambah kukuh dengan ketaatan sahabat yang dicintai kepada Allah, dan berkurang kerana kelalaiannya atas hak-hak Allah Subhanahu waTa'ala. Suatu hal yang mesti diperhatikan, walaupun ukhuwah begitu penting dan memiliki berbagai dampak positif, namun Islam senantiasa menganjurkan untuk memposisikan segala sesuatu dalam kerangka yang seimbang. Sikap berlebihan (ekstrem) tidak dapat diterima dalam bentuk apa pun, ia merupakan sikap abnormal yang dapat menjerumuskan ke dalam kenistaan dan kelalaian. (Musykilatud-Da'wah wad-Da'iyah, hlm. 210.)
Setiap hamba mesti membangun amalannya di atas ketulusan kerana Allah. Cubalah berintrospeksi, siapa pun yang hidup di dunia ini tidak dapaf menyelamatkan Anda, paras yang elok rupawan tidak akan menjadi penolong bagi diri Anda, bahkan pemiliknya sekalipun. Semua akan sirna, keindahan rupa akan berubah menjadi pemandangan yang menjijikkan setelah terkubur, dan menjadi santapan ulat-ulat kuburan.
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan" (ar-Rahman [55]: 26-27).
Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahawa jika Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu sedang berusaha mengawal hatinya, ia mendatangi reruntuhan bangunan tua, berdiri di depan pintu dan memanggil dengan suara memelas penuh duka: "Di mana-kah penghunimu?" Lalu Ibnu Umar berbisik pada diri sendiri:
"Tiap sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya (Allah)" (al-Qashash [28]: 88).
Hati para da'i harus senantiasa menjadi wahana untuk beribadah, di dalamnya mereka tidak menyembah selain Allah. Mereka mesti berhati-hati agar tidak terjerat syirik, kerana gerakannya terlalu halus namun dampaknya sangat besar. Hendaknya mereka terus mengingat ucapan seorang shalih yang waktu itu sudah berumur enam puluh tahun: "Aku selalu menjaga pintu hatiku selama empat puluh tahun agar tidak ada yang dapat masuk ke dalamnya kecuali Allah." (Ibid,hlm. 211)
Ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan islami) adalah hubungan alami sesuai dengan fitrah yang tidak menyimpang menjadi nafsu berahi, dan tidak pula menjadikan seseorang tergila-gila, bahkan tidak sampai pada batas di mana pribadi seseorang lebur dalam diri sahabatnya. Kerana jika sampai pada derajat ini, ukhuwah sudah kehilangan keseimbangan dan keluar dari kaidah syari'at, terkontaminasi�baik disengaja atau tidak�oleh berbagai perasaan dan dorongan manusiawi yang amat halus dan terselubung. Namun perjalanan waktu akan menyingkap tabir itu dan menampakkan kenyataan yang selama ini ditutupi.
Orang bijak adalah yang cepat bergerak sebelum terlambat, seperti orang yang berjalan di tepi jurang, nyaris terjerumus ke dalam dasarnya yang dalam. Sungguh beruntung seseorang yang mengetahui batas-batas syari'at lain berupaya teguh dalam melaksanakannya, dan mengetahui batas-batas dirinya lalu berpijak pada apa yang ada dalam dirinya itu.
Oleh kerana itu, hendaknya setiap insan yang menjalin hubungan persahabatan kerana Allah, selalu menanamkan nilai takwa dalam setiap bisikan hatinya, membangun tali ukhuwah sesuai dengan pandangan dan konsep ajaran Islam, jujur dengan diri sendiri, mengikat naluri dengan rasio, dan menerangi rasio dengan petunjuk Islam. Jangan memandang sebelah mata terhadap dosa-dosa kecil, kerana ia merupakan jalan menuju dosa-dosa besar. (Lihat: at-Tarbiyah al-Wiqa'iyyah fit-Islam, hlm. 64-65, dan Musykilatud-Da'wah wad-Da'iyah, bab: al-Hudud asy-Syar'iyyah lil-'Alaqat al-Akhawiyyah, hlm. 210-211. 26 )
Adakalanya, nafsu jahat memberi rangsangan kepada seseorang dengan melihat sahabat dekatnya dengan penuh rasa kagum dan suka. Begitu juga sebaliknya, ia menerjemahkan setiap gerak-gerik sebagai bagian dari perasaan tersebut, juga dengan pandangan mata dan berbagai rangsangan atau imaginasi lainnya. Semua itu merupakan khayalan yang timbul akibat rasa suka yang berlebihan, penyakit hati, dan seluruh perasaan-perasaan yang menyimpang. Sementara syaitan tidak menyia-nyiakan peluang sekecil apa pun untuk mempertajam dan memperbesar khayalan-khayalan semacam ini dalam diri manusia agar masuk dalam perangkapnya.
Ketika menerangkan berbagai macam hubungan yang mencerminkan ketertarikan seseorang dengan sahabatnya, Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid hafizhahullah menya-takan: "Di antara bentuk-bentuk hubungan tersebut adalah hubungan maksiat�semoga Allah melindungi kita darinya, di mana dua orang itu terikat hubungan maksiat sehingga keduanya menyaksikan hal-hal yang haram, menikmatinya, dan melakukannya secara bersama-sama."
Bentuk lainnya adalah hubungan yang lebih berbahaya ketimbang bentuk hubungan yang baru saja disebutkan, yaitu hubungan suka dan ketertarikan sehingga sampai pada satu titik di mana ia mencintainya 'bersama' Allah dan bukan 'kerana' Allah. Dengan hubungan seperti ini, ia sanggup mela-kukan beberapa amalan 'ibadah' untuk orang yang dicintainya. Masalah ini muncul disebabkan oleh banyak faktor yang pada tahap awalnya nampak sederhana, namun kemudian berkembang dan membesar, sehingga kedua orang tersebut atau salah satu di antara mereka, sama sekali tidak sanggup berpisah, ia harus selalu bersamanya, melihatnya, dan berhubungan dengannya melalui telepon, yang terkadang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari. Dan yang lebih berat dari itu, ia memikirkannya dalam shalat, ketika bacaannya sampai pada firman Allah:
"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" (al-Fatihah [1]: 5).
Pikirannya menerawang bersama sahabat yang dicintainya; bak udara yang dihirup olehnya, jika kehilangan walau hanya sesaat, ia merasakan sakit yang teramat dahsyat kerana perpisahan itu. Dan sakit itu baru reda bila ia bertemu kembali dengannya. Hubungan ketertarikan yang maha dahsyat ini memiliki beberapa derajat yang berbeda, yang sebagiannya dapat dikategorikan dalam ghuluw (ekstrem) yang berakhir pada syirik akbar.
Beberapa orang memungkiri hal ini dan bertanya: "Bagaimana hal tersebut boleh terjadi?" Namun saya katakan: ini ada-lah fakta! Dalam konteks ini, kita kembali kepada pengertian hadith Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
Agar mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali kerana Allah."
Beliau tidak mengatakan Agar mencintai seseorang (langsung) kerana Allah, kerana Allah Subhanahu wa Ta'ala Yang Maha Bijaksana dan Maha Alim, Tahu bahawa antara sesama manusia dapat tumbuh hubungan yang tidak legal dan terkadang sangat kuat. Sementara syaitan mengelabui manusia seakan-akan hubungan tersebut adalah wujud ukhuwah kerana Allah, padahal hakikatnya tidak demikian.
Kadang kala syaitan juga menghiasi hubungan tersebut dengan beberapa amalan ibadah yang dikerjakan bersama, namun sebenarnya tidak terlepas dari nafsu yang dilarang oleh syari'at. Dengan alasan menghindari kritikan pihak lain atau menyakiti perasaan, seorang di antara mereka mengajak sahabatnya: "Bagaimana jika kita membaca buku bersama? Mendengar kaset ?
Hati para da'i harus senantiasa menjadi wahana untuk beribadah, di dalamnya mereka tidak menyembah selain Allah. Mereka mesti berhati-hati agar tidak terjerat syirik, kerana gerakannya terlalu halus namun dampaknya sangat besar. Hendaknya mereka terus mengingat ucapan seorang shalih yang waktu itu sudah berumur enam puluh tahun: "Aku selalu menjaga pintu hatiku selama empat puluh tahun agar tidak ada yang dapat masuk ke dalamnya kecuali Allah." (Ibid,hlm. 211)
Ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan islami) adalah hubungan alami sesuai dengan fitrah yang tidak menyimpang menjadi nafsu berahi, dan tidak pula menjadikan seseorang tergila-gila, bahkan tidak sampai pada batas di mana pribadi seseorang lebur dalam diri sahabatnya. Kerana jika sampai pada derajat ini, ukhuwah sudah kehilangan keseimbangan dan keluar dari kaidah syari'at, terkontaminasi�baik disengaja atau tidak�oleh berbagai perasaan dan dorongan manusiawi yang amat halus dan terselubung. Namun perjalanan waktu akan menyingkap tabir itu dan menampakkan kenyataan yang selama ini ditutupi.
Orang bijak adalah yang cepat bergerak sebelum terlambat, seperti orang yang berjalan di tepi jurang, nyaris terjerumus ke dalam dasarnya yang dalam. Sungguh beruntung seseorang yang mengetahui batas-batas syari'at lain berupaya teguh dalam melaksanakannya, dan mengetahui batas-batas dirinya lalu berpijak pada apa yang ada dalam dirinya itu.
Oleh kerana itu, hendaknya setiap insan yang menjalin hubungan persahabatan kerana Allah, selalu menanamkan nilai takwa dalam setiap bisikan hatinya, membangun tali ukhuwah sesuai dengan pandangan dan konsep ajaran Islam, jujur dengan diri sendiri, mengikat naluri dengan rasio, dan menerangi rasio dengan petunjuk Islam. Jangan memandang sebelah mata terhadap dosa-dosa kecil, kerana ia merupakan jalan menuju dosa-dosa besar. (Lihat: at-Tarbiyah al-Wiqa'iyyah fit-Islam, hlm. 64-65, dan Musykilatud-Da'wah wad-Da'iyah, bab: al-Hudud asy-Syar'iyyah lil-'Alaqat al-Akhawiyyah, hlm. 210-211. 26 )
Adakalanya, nafsu jahat memberi rangsangan kepada seseorang dengan melihat sahabat dekatnya dengan penuh rasa kagum dan suka. Begitu juga sebaliknya, ia menerjemahkan setiap gerak-gerik sebagai bagian dari perasaan tersebut, juga dengan pandangan mata dan berbagai rangsangan atau imaginasi lainnya. Semua itu merupakan khayalan yang timbul akibat rasa suka yang berlebihan, penyakit hati, dan seluruh perasaan-perasaan yang menyimpang. Sementara syaitan tidak menyia-nyiakan peluang sekecil apa pun untuk mempertajam dan memperbesar khayalan-khayalan semacam ini dalam diri manusia agar masuk dalam perangkapnya.
Ketika menerangkan berbagai macam hubungan yang mencerminkan ketertarikan seseorang dengan sahabatnya, Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid hafizhahullah menya-takan: "Di antara bentuk-bentuk hubungan tersebut adalah hubungan maksiat�semoga Allah melindungi kita darinya, di mana dua orang itu terikat hubungan maksiat sehingga keduanya menyaksikan hal-hal yang haram, menikmatinya, dan melakukannya secara bersama-sama."
Bentuk lainnya adalah hubungan yang lebih berbahaya ketimbang bentuk hubungan yang baru saja disebutkan, yaitu hubungan suka dan ketertarikan sehingga sampai pada satu titik di mana ia mencintainya 'bersama' Allah dan bukan 'kerana' Allah. Dengan hubungan seperti ini, ia sanggup mela-kukan beberapa amalan 'ibadah' untuk orang yang dicintainya. Masalah ini muncul disebabkan oleh banyak faktor yang pada tahap awalnya nampak sederhana, namun kemudian berkembang dan membesar, sehingga kedua orang tersebut atau salah satu di antara mereka, sama sekali tidak sanggup berpisah, ia harus selalu bersamanya, melihatnya, dan berhubungan dengannya melalui telepon, yang terkadang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari. Dan yang lebih berat dari itu, ia memikirkannya dalam shalat, ketika bacaannya sampai pada firman Allah:
"Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" (al-Fatihah [1]: 5).
Pikirannya menerawang bersama sahabat yang dicintainya; bak udara yang dihirup olehnya, jika kehilangan walau hanya sesaat, ia merasakan sakit yang teramat dahsyat kerana perpisahan itu. Dan sakit itu baru reda bila ia bertemu kembali dengannya. Hubungan ketertarikan yang maha dahsyat ini memiliki beberapa derajat yang berbeda, yang sebagiannya dapat dikategorikan dalam ghuluw (ekstrem) yang berakhir pada syirik akbar.
Beberapa orang memungkiri hal ini dan bertanya: "Bagaimana hal tersebut boleh terjadi?" Namun saya katakan: ini ada-lah fakta! Dalam konteks ini, kita kembali kepada pengertian hadith Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
Agar mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali kerana Allah."
Beliau tidak mengatakan Agar mencintai seseorang (langsung) kerana Allah, kerana Allah Subhanahu wa Ta'ala Yang Maha Bijaksana dan Maha Alim, Tahu bahawa antara sesama manusia dapat tumbuh hubungan yang tidak legal dan terkadang sangat kuat. Sementara syaitan mengelabui manusia seakan-akan hubungan tersebut adalah wujud ukhuwah kerana Allah, padahal hakikatnya tidak demikian.
Kadang kala syaitan juga menghiasi hubungan tersebut dengan beberapa amalan ibadah yang dikerjakan bersama, namun sebenarnya tidak terlepas dari nafsu yang dilarang oleh syari'at. Dengan alasan menghindari kritikan pihak lain atau menyakiti perasaan, seorang di antara mereka mengajak sahabatnya: "Bagaimana jika kita membaca buku bersama? Mendengar kaset ?
Menghafal al-Qur'an? Tahajjud bersama?"...
Mereka berdua melaksanakan program bersama tersebut untuk beberapa saat lamanya atau dalam waktu-waktu tertentu, namun hakikat amalan tersebut tidak termasuk ukhuwah kerana Allah, melainkan masing-masing mencuba untuk bertahan menipu diri sendiri atau menampakkan diri di depan orang-orang lain bahawa hubungan tersebut merupakan ukhuwah kerana Allah, padahal hakikatnya tidak demikian. Bahkan, jika keduanya duduk bersama membaca al-Qur'an, masing-masing memikirkan sahabatnya dan sama sekali tidak mengerti apa yang dibaca, demikian seterusnya.
"Kemudian, apa yang dapat menyingkap tabir penyamaran tersebut sehingga nampak bentuk sebenarnya, dan dapat menjelaskannya secara gamblang?
Jawabannya adalah penggalan dari hadith Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tadi, yaitu sabdanya: "Agar mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali kerana Allah..." Ia menggunakan ungkapan pembatas yang paling kuat, kerana masalah ini merupakan fakta yang terjadi di kalangan manusia, yaitu masalah hubungan yang terjalin bukan kerana Allah, yang cenderung menghancurkan kehidupan individu, bahkan merugikan kelompok atau jama'ah Islam secara keseluruhan, kerana hubungan tersebut merupakan penyakit menular yang harus ditanggulangi oleh semua pihak.
Ibnul-Qayyim rahimahullah menyinggung masalah ini dalam karya monumentalnya, al-Jawab al-Kafi. Kitab ini merupakan jawaban atas sebuah pertanyaan yang ditujukan kepadanya, sebagaimana yang dapat diketahui dari Muqaddi-mah-nya... "Suatu musibah yang menimpa seseorang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa dan menghancurkan dunia serta akhiratnya..." Kitab tersebut merupakan karya penting guna menangani masalah al-'isgq wat-ta'alluq (rasa cinta dan suka yang berlebihan), sebuah masalah yang pernah ditanya-kan kepada Ibnul-Qayyim rahimahullah dan ia menjawabnya seperti berikut. Di sini, kita dapat melihat metode para ulama, yaitu ketika Ibnul-Qayyim memberi jawaban kepada penanya: "Berserah dirilah kepada Allah, berdoalah pada waktu-waktu terkabulnya doa." Kemudian Ibnul-Qayyim memberinya doa-doa ma'tsur (berdasarkan petunjuk al-Qur'an dan sunnah), mengajarinya tentang Asma Allah yang paling agung, dan faktor-faktor yang dapat membantu diperkenankannya permohonan dan terkabulnya doa. Setelah itu, ia juga menerangkan bahaya dosa dan maksiat, dan menegaskan kepada penanya, jika telah mengetahui bahaya perbuatan tersebut hendaklah ia mempertimbangkannya dengan akal sehat dan menjauhinya. Ibnul-Qayyim memberikan keterangan yang luar biasa mengenai bahaya dosa, menceritakan kisah kaum Nabi Luth 'alaihis salam dan hukuman yang mereka terima dari Allah Subhanahn wa Ta'ala, kerana masalah ini dapat mendorong kepada perbuatan keji tersebut. Ketika seseorang membaca, terkadang tidak dapat memahami makna uraian Ibnul-Qayyim dengan baik. Namun setelah meinbacanya berkali-kali, akan terrlihat dengan jelas metodologi dan sinergi uraian tersebut, juga peristiwa-peristiwa yang terjadi, oraug orangyang mengakhiri hayatnya dengan su'ul khatimah (dalam keadaan buruk), sebagian mereka mati dalain keadaan tergila-gila dengan harta, wanita, sahabat, kedudukan, dan seterusnya.
Metode Ibnul-Qayyim tersebut semestinya tidak hanya di gunakan untuk mengatasi masalah al-�isyq dan at-ta�alluq saja, namun Ibnul-Qayyim juga memiliki beberapa kerangka solusi yang cukup handal unluk mengatasi masalah ini. Ia berkata, "Jika penyelesaian masalah ini menuntut seseorang untuk meninggalkan sahabatnya, dengan cara berhijrah ke negeri lain sehingga tidak lagi menjumpainya, mengetahui beritanya, terbebas dari perasaan yang mengikat dan pengaruhnya, maka hendaknya ia menempuh cara ini agar dapat menyelamatkan agamanya."Mereka berdua melaksanakan program bersama tersebut untuk beberapa saat lamanya atau dalam waktu-waktu tertentu, namun hakikat amalan tersebut tidak termasuk ukhuwah kerana Allah, melainkan masing-masing mencuba untuk bertahan menipu diri sendiri atau menampakkan diri di depan orang-orang lain bahawa hubungan tersebut merupakan ukhuwah kerana Allah, padahal hakikatnya tidak demikian. Bahkan, jika keduanya duduk bersama membaca al-Qur'an, masing-masing memikirkan sahabatnya dan sama sekali tidak mengerti apa yang dibaca, demikian seterusnya.
"Kemudian, apa yang dapat menyingkap tabir penyamaran tersebut sehingga nampak bentuk sebenarnya, dan dapat menjelaskannya secara gamblang?
Jawabannya adalah penggalan dari hadith Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tadi, yaitu sabdanya: "Agar mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali kerana Allah..." Ia menggunakan ungkapan pembatas yang paling kuat, kerana masalah ini merupakan fakta yang terjadi di kalangan manusia, yaitu masalah hubungan yang terjalin bukan kerana Allah, yang cenderung menghancurkan kehidupan individu, bahkan merugikan kelompok atau jama'ah Islam secara keseluruhan, kerana hubungan tersebut merupakan penyakit menular yang harus ditanggulangi oleh semua pihak.
Ibnul-Qayyim rahimahullah menyinggung masalah ini dalam karya monumentalnya, al-Jawab al-Kafi. Kitab ini merupakan jawaban atas sebuah pertanyaan yang ditujukan kepadanya, sebagaimana yang dapat diketahui dari Muqaddi-mah-nya... "Suatu musibah yang menimpa seseorang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa dan menghancurkan dunia serta akhiratnya..." Kitab tersebut merupakan karya penting guna menangani masalah al-'isgq wat-ta'alluq (rasa cinta dan suka yang berlebihan), sebuah masalah yang pernah ditanya-kan kepada Ibnul-Qayyim rahimahullah dan ia menjawabnya seperti berikut. Di sini, kita dapat melihat metode para ulama, yaitu ketika Ibnul-Qayyim memberi jawaban kepada penanya: "Berserah dirilah kepada Allah, berdoalah pada waktu-waktu terkabulnya doa." Kemudian Ibnul-Qayyim memberinya doa-doa ma'tsur (berdasarkan petunjuk al-Qur'an dan sunnah), mengajarinya tentang Asma Allah yang paling agung, dan faktor-faktor yang dapat membantu diperkenankannya permohonan dan terkabulnya doa. Setelah itu, ia juga menerangkan bahaya dosa dan maksiat, dan menegaskan kepada penanya, jika telah mengetahui bahaya perbuatan tersebut hendaklah ia mempertimbangkannya dengan akal sehat dan menjauhinya. Ibnul-Qayyim memberikan keterangan yang luar biasa mengenai bahaya dosa, menceritakan kisah kaum Nabi Luth 'alaihis salam dan hukuman yang mereka terima dari Allah Subhanahn wa Ta'ala, kerana masalah ini dapat mendorong kepada perbuatan keji tersebut. Ketika seseorang membaca, terkadang tidak dapat memahami makna uraian Ibnul-Qayyim dengan baik. Namun setelah meinbacanya berkali-kali, akan terrlihat dengan jelas metodologi dan sinergi uraian tersebut, juga peristiwa-peristiwa yang terjadi, oraug orangyang mengakhiri hayatnya dengan su'ul khatimah (dalam keadaan buruk), sebagian mereka mati dalain keadaan tergila-gila dengan harta, wanita, sahabat, kedudukan, dan seterusnya.
Dari pernyataan di atas, anda mengetahui bahawa para ulama yang ikhlas dan memiliki perhatian atas realiti mampu mengetengahkan kerangka solusi yang sangat kuat, mengakar dan komplementer. Berbeda dengan berbagai solusi yang serampangan untuk mengatasi permasalahan yang terkadang jauh lebih besar dari masalah yang pernah ada sebelumnya.
Kita sangat memerlukan perhatian dan pengetahuan yang jauh lebih besar dengan didasari oleh keikhlasan agar dapat mengatasi seluruh masalah yang dihadapi, dan dapat membentuk komunitas sosial islami yang bersih serta terhindar dari noda. Jika tidak, bagaimana mungkin Allah akan menolong suatu kaum yang tertusuk oleh panah-panah syaitan di seluruh tubuhnya. ( Dinukil dari ceramah Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid hafizhahullah yang berjudul at-Tanafur wat-Tajadzub fil-'Alaqat asy-Syakhshiyyah, dengan sedikit perubahan redaksional. 29 )
Tujuan u r a i a n di atas adalah untuk menyalakan bahawa hubungan nafsu, yakni hubungan al-'isyq, merupakan bagian dari dosa dan pelanggaran terhadap batasan syari'at yang dapat menghancurkan ukhuwah, dalambentuk perpecahan diantara mereka sebagai hukuman Allah atas dosa tersebut; atau dengan tidak bersambutnya harapan orang tersebut dari sahabatnya. Sehingga lantaran kegagalan ini, ia menjauhi sahabatnya dengan penuh amarah dan kecewa; atau jika sahabatnya merasa bahawa cinta orang tersebut tidak murni kerana Allah, terkontaminasi dengan keinginan tertentu atau perasaan yang menyimpang, maka ia akan membencinya, lalu menjauhinya dan lebih memilih bergaul dengan orang lain.
Maka hati-hatilah saudaraku! Jangan sampai hubunganmu ternoda. Berhati-hatilah ketika seseorang mencintaimu kerana Allah, sementara Allah murka kepadamu. Hanya Dia-lah yang mengetahui segalanya:
"Dia (Allah) mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa-apa yang disembunyikan oleh hati" (al-Mukmin [40]: 19).
Di antara doa yang sering diucapkan oleh Muhammad bin Wasi' rahimahullah adalah:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu agar terhindari dari mencintai kerana-Mu, sementara Engkau benci atau murka kepadaku."
Sufyan berkata, �Ada ujaran-ujaran yang mengatakan: jika kamu mengetahui dirimu sendiri, tuduhan apa pun tidak akan membahayakanmu.� (Dalam kitab al-Hilyah 11/349 disebutkan bahawa ketika ada orang yang berkata kepada Muhammad bin Wasi': "Sesungguhnya aku mencintaimu kerana Allah." Ia menjawab: "Semoga engkau dicintai oleh Dzat (Allah) Yang kerana-Nya engkau mencintaiku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mencintai kerana-Mu, sementara Engkau marah atau benci kepadaku." Diriwayatkan oleh Nu'aim bin Hammad dalam kitabZawa'iduz-Zuhd karya Ibnul-Mubarak. Adapun 'Uqbah menyebut kata-kata Sufyan... (seperti di atas). Lihat Zawa'iduz-Zuhd, no. 56, hlm. 14. 30)
Malulah kepada Allah, janganlah terpedaya dengan pujian, tipuan, dan kelancungan orang lain melalui hubungan palsunya denganmu. Hati-hati pula dengan ketertutupan aibmu, kerana memang Allah menutupnya. Segeralah bertaubat kepada-Nya dari semua dosa sebelum tabirmu tersingkap atau Allah akan menanam kebencian di dalam hati orang-orang yang mencintaimu.
TIDAK SANTUN DALAM BERBICARA
Hal ini merupakan pintu yang paling leluasa bagi syaitan untuk masuk menebar bibit-bibit perselisihan dan permusuhan di antara sahabat. Diawali dengan anggapan bahawa hubungan istimewa yang terjalin dengan sahabatnya membebaskannya dari tutur kata yang sopan ketika berbicara, kebebasan ini - secara salah - sering dianggap sebagai 'bersikap tanpa beban'. Padahal 'sikap tanpa beban' tidak mungkin diidentikkan dengan tanpa tatakrama atau rasa malu. Sikap tanpa beban terbentuk dengan kelapangan hati dan rileks dalam bergaul dengan tetap menjaga tatakrama dan rasa malu serta akhlak sesuai petunjuk syari'at.
Contoh Gaya Bicara yang tidak Etis
Beberapa fenomena yang menggambarkan buruknya sopan santun dalam berbicara dan menjadi faktor perusak hubungan persahabatan adalah:
a. Berbicara dengan Nada Suara yang Tinggi atau Menggunakan Kata-Kata yang Kasar
Hal ini merupakan preseden buruk bagi sahabatmu. Ia menangkap kesan telah terjadi perubahan hatimu kepadanya dan menganggapnya sebagai penghinaan, selain pada dasarnya perbuatan tersebut bertentangan dengan sikap ideal seorang Muslim. Di dalam al-Qur'an, Allah mengisahkan wasiat Luqman dalam mendidik anaknya:
"Dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya suara yang paling jelek adalah suara keledai"
(Luqman [31]: 19).
Seyogianya seorang sahabat berbicara kepada saudaranya dengan tutur kata yang baik, lembut dan menghindari kata-kata kasar yang tidak disukai oleh orang-orang yang baik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Harumkanlah kata-katamu." (Potongan dari sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Thabrani I/275, sebagaimana yang dicatat oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Silsilatul-Ahadith ash-Shahihah, no. 1465, dan al-Albani menyatakannya sebagai hadith shahih.) Dalam sebuah hadith shahih (Bagian dari hadith yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam al-Adab no. 6029, Muslim dalam al-Fadha'il no. 2321, danTirmidzi dalam al-Birr wash-Shillah no. 1975, semuanya berasal dari riwayat Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu. Ada jugayang berasal dari A'isyah radhiyallahu 'anha yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam al-Birr wash-Shillah no. 2016, Ahmad dalamkitab al-Musnad VI/174, 236, dan 246. Imam Tirmidzi meriwayat-kannya juga dalam asy-Syama�il, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitabMukhtasharusy-Syama�il no. 298) dinyatakan bahawa "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berakhlak buruk dan tidak pernah berkata-kata kotor." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah teladan yang harus kita ikuti. Ali bin Abu Thalib berkata: "Barangsiapa lembut tutur katanya, nescaya manusia suka dengannya." (Al-'Iqdu al-Farid, II/83)
Hal ini merupakan preseden buruk bagi sahabatmu. Ia menangkap kesan telah terjadi perubahan hatimu kepadanya dan menganggapnya sebagai penghinaan, selain pada dasarnya perbuatan tersebut bertentangan dengan sikap ideal seorang Muslim. Di dalam al-Qur'an, Allah mengisahkan wasiat Luqman dalam mendidik anaknya:
"Dan lunakkanlah suaramu, sesungguhnya suara yang paling jelek adalah suara keledai"
(Luqman [31]: 19).
Seyogianya seorang sahabat berbicara kepada saudaranya dengan tutur kata yang baik, lembut dan menghindari kata-kata kasar yang tidak disukai oleh orang-orang yang baik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Harumkanlah kata-katamu." (Potongan dari sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Thabrani I/275, sebagaimana yang dicatat oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Silsilatul-Ahadith ash-Shahihah, no. 1465, dan al-Albani menyatakannya sebagai hadith shahih.) Dalam sebuah hadith shahih (Bagian dari hadith yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam al-Adab no. 6029, Muslim dalam al-Fadha'il no. 2321, danTirmidzi dalam al-Birr wash-Shillah no. 1975, semuanya berasal dari riwayat Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhu. Ada jugayang berasal dari A'isyah radhiyallahu 'anha yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam al-Birr wash-Shillah no. 2016, Ahmad dalamkitab al-Musnad VI/174, 236, dan 246. Imam Tirmidzi meriwayat-kannya juga dalam asy-Syama�il, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitabMukhtasharusy-Syama�il no. 298) dinyatakan bahawa "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berakhlak buruk dan tidak pernah berkata-kata kotor." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah teladan yang harus kita ikuti. Ali bin Abu Thalib berkata: "Barangsiapa lembut tutur katanya, nescaya manusia suka dengannya." (Al-'Iqdu al-Farid, II/83)
b. Tidak Mendengar Sarannya, Enggan Menatapnya ketika Berbicara atau Memberi salam, tidak Meng-hargai Keberadaannya
Contoh keengganan memperhatikan sahabat adalah memotong kata-katanya, berpaling ke arah lain atau pura-pura sibuk dengan suatu hal, padahal ia sedang berbicara dengan anda.
Seorang ulama salaf berkata: "Ada orang yang memberitahuku tentang suatu hadith, padahal saya telah mengetahuinya sebelum ia dilahirkan, namun kesopanannya mendorongku untuk tetap mendengarnya hingga selesai." ( Ibnu Juraij meriwayatkan dari 'Atha', baliwa ia berkata: ada orang yang menyampaikan sebuah hadith kepadaku, dan aku diammendengarkannya seakan-akan belum pernah mendengar�hadith�tersebut sebelumnya, padahal aku sudah mendengarnyasebelum ia dilahirkan. Lihat: Siyaru A'lamm-Nubala'V/87)
Seorang penyair berkata:
kau lihat ia mendengarkan pembicaraan itu dengan telinga dan hati padahal ia lebih mengetahuinya
Kesopanan Rasulullah shallallahu 'alaihi was sallam membawa beliau untuk tetap mendengar dan tidak memotong kata-kata seorang musyrik, 'Utbah. Ketika berhenti, Rasulullah shallallahu 'alaihi was sallam bertanya kepadanya: "Apakah engkau sudah selesai, hai Abul-Walid (panggilan 'Utbah)?" (Kisah negosiasi Abul-Walid 'Utbah bin Rabi'ah dengan Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaqdalam kitab al-Maghazi I/293 (kitab as-Sirah an-Nabawiyyah li-lbni Hisyam), Baihaqi dalam kitab Dala'ilun-Nubuwwah II/204-205. Juga dicatat oleh as-Suyuthi dalam ad-Durrul-Mantsur V/358, ia menisbatkannya kepada Ibnu Abi Syaibah, 'Abd bin Humaid, Abu Ya'la dan Hakim�dan menyatakannya sebagai riwayat yang shahih. Juga dinisbatkan kepada Ibnu Mardawaih, Abu Nu'aim, dan Baihaqi. Kedua riwayat ini tercatat dalam kitab ad-Dala'il, juga Ibnu 'Asakir. Al-Albani menyatakan sanad-nya sebagai hasan, ketika mengomentari kitab Fiqhus-Sirah karya Muhammad al-Ghazali, hlm. 116. )
Termasuk perbuatan tidak sopan adalah jika Anda memo-nopoli seluruh waktu pembicaraan untuk menyampaikan kemahuanmu, meminta sahabatmu agar tetap mendengarnya, sedang engkau tidak memberinya peluang yang sama, atau tidak memperhatikannya ketika berbicara.
Kita mesti selalu menyadari, bahawa setiap orang�apa pun status sosialnya�ingin merasa dihormati dan dihargai, sekalipun anak kecil. Ketika seseorang merasa dihargai dan yakin dengan penghormatan anda, ia tidak memiliki perasaan buruk apa pun untuk melayani anda kapan saja. Dan hal ini terjadi selama ia yakin dengan penghargaan dan penghormatan atas dirinya, tidak merasa direndahkan atau terhina.
Beberapa orang yang congkak enggan menghormati orang lain dengan alasan khawatir mendorong orang tersebut menjadi congkak. Terhadap orang seperti ini, anda tidak dituntut untuk memujinya secara berlebih-lebihan, melainkan cukup dengan menghargai atau menghormati sekadarnya saja, sehingga hal itu boleh menempatkan anda�sebelum siapa pun� dalam posisi terhormat.
Agar anda memiliki budi bahasa yang halus dan mampu menghormati orang lain, perhatikanlah sisi-sisi positif yang ada pada dirinya. Ketika anda mengetahui sifat-sifat baik yang imilikinya, bertambahlah rasa suka dan penghormatan anda kcpadanya.
Hanya dengan menyapa saudara anda dengan "saudara (fulan)", bukan "hai fulan (namanya)", cukup memberi kesan bahawa anda menghormatinya dengan penuh kehangatan dan prrasaan suka, tanpa sedikit pun tendensi berlebihan yang dapat mendorongnya untuk merasa congkak. Renungkanlah!
Selain itu, kesan hormat dan suka juga dapat terwujud ketika anda menyapanya dengan kunyah atau nama panggilan yang paling disukainya, baik orang dewasa mahupun anak kecil.
Rasulullah shallallalui alaihi was salam pernah menyapa anak kecil dengan kunyahnya, seperti dalam sabda beliau:
"Hai Abu 'Umair, apa yany dilakukan burung kecil itu (nughair)." (Diriwayatkan oleh Bukhari dalain al-Adab no. 6l29 dan 6203, Muslim dalam al-Adab no. 2150, Abu Dawud dalam al-Adab no. 4969, Tirrnidzi dalam ash-Shalah no. 333, Ibnu Majah dalam al-Adab no. 3720, dan Ahmad dalam kilab al-Musnad III/115 dan 119, serta di beberapa tempat lainnya. An-nughair adalah burung kecil. Lihat: Fathul-Bari X/600. )
Demikian pula dengan kata seorang salaf: "Di antara yang dapat menjaga ketulusan cinta saudaramu adalah memulainya dengan salam ketika berjumpa, memberi tempat duduk, dan menyapanya dengan panggilan yang paling disukai." (Tiga hal tersebut dinyatakan dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab al-Ausath�sebagaimana disebut oleh al-Haitsami dalam Majma'uz-Zawa'id VIII/82, ad-Dailami dalam Firdausul-Akhbar no. 2303, Hakim dan Baihaqi�seperti yang disebut dalam Faidhul-Qadir III/314, berasal dari riwayat Utsman bin Thalhah al-Hujbi, namun dinyatakan dha�if oleh as-Suyuthi. Dalam kitab Majma'uz-Zawa'id, al-Haitsimi berkata: "Di antara para perawinya terdapat Musa bin Abdul Malik bin Umair, ia adalah seorang yang dha'if." Begitu juga al-Albani menyatakannya dha'if dalam kitab Dha'iful-Jami'ash-Shaghir no. 2571. Baihaqi meriwayatkannya secara mahuquf sampai Umar bin Khaththab, dan inilah riwayat yang disebut oleh kebanyakan kitab yang mencatat atsar tersebut )
Sebagian kiat yang mempunyai dampak positif guna mempererat ukhuwah adalah menghafal nama sahabat-sahabat anda. Jika lupa atau belum tahu, jangan segan untuk bertanya dengan gaya ta'aruf (perkenalan) yang sopan, bukan dengan gaya introgasi. Menanyakan nama menunjukkan perhatian anda terhadap mereka, dan hal ini lebih baik daripada menanyakannya dengan malu-malu yang lebih cenderung memberi kesan negatif, kerana ia boleh menganggap anda tidak memiliki perhatian kepadanya. (Sebagian ada yang berpendapat bahawa keberhasilan beberapa tokoh didukung oleh kemampuannya menghafal nama manusia. Dengan kata lain, kekuatan menghafal nama orang adalah salah satu faktor keberhasilan seorang pemimpin atau murabbi. Lihat: Fannut-Ta'amul ma'an-Nas, hlm. 52.)
Untuk menghormati lawan bicara, anda tidak boleh meremehkan sarannya, bahkan sebaiknya anda meminta ideanya, kerana boleh jadi hal itu dapat membukakan sekian banyak idea dan pikiran anda. Atau setidaknya anda memberi kesan menghargai dan menghormati pendapatnya sekalipun tidak diterima. Dalam pembahasan berikutnya akan kami tambahkan beberapa contoh lain yang dilengkapi dengan petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam ketika mendengarkan kata-kata sahabatnya dan memberikan peluang mengungkapkan pendapat. (Lihat bahasan tentang virus ukhuwah ke-14, hlm. 167.)
Seorang ulama salaf berkata: "Ada orang yang memberitahuku tentang suatu hadith, padahal saya telah mengetahuinya sebelum ia dilahirkan, namun kesopanannya mendorongku untuk tetap mendengarnya hingga selesai." ( Ibnu Juraij meriwayatkan dari 'Atha', baliwa ia berkata: ada orang yang menyampaikan sebuah hadith kepadaku, dan aku diammendengarkannya seakan-akan belum pernah mendengar�hadith�tersebut sebelumnya, padahal aku sudah mendengarnyasebelum ia dilahirkan. Lihat: Siyaru A'lamm-Nubala'V/87)
Seorang penyair berkata:
kau lihat ia mendengarkan pembicaraan itu dengan telinga dan hati padahal ia lebih mengetahuinya
Kesopanan Rasulullah shallallahu 'alaihi was sallam membawa beliau untuk tetap mendengar dan tidak memotong kata-kata seorang musyrik, 'Utbah. Ketika berhenti, Rasulullah shallallahu 'alaihi was sallam bertanya kepadanya: "Apakah engkau sudah selesai, hai Abul-Walid (panggilan 'Utbah)?" (Kisah negosiasi Abul-Walid 'Utbah bin Rabi'ah dengan Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaqdalam kitab al-Maghazi I/293 (kitab as-Sirah an-Nabawiyyah li-lbni Hisyam), Baihaqi dalam kitab Dala'ilun-Nubuwwah II/204-205. Juga dicatat oleh as-Suyuthi dalam ad-Durrul-Mantsur V/358, ia menisbatkannya kepada Ibnu Abi Syaibah, 'Abd bin Humaid, Abu Ya'la dan Hakim�dan menyatakannya sebagai riwayat yang shahih. Juga dinisbatkan kepada Ibnu Mardawaih, Abu Nu'aim, dan Baihaqi. Kedua riwayat ini tercatat dalam kitab ad-Dala'il, juga Ibnu 'Asakir. Al-Albani menyatakan sanad-nya sebagai hasan, ketika mengomentari kitab Fiqhus-Sirah karya Muhammad al-Ghazali, hlm. 116. )
Termasuk perbuatan tidak sopan adalah jika Anda memo-nopoli seluruh waktu pembicaraan untuk menyampaikan kemahuanmu, meminta sahabatmu agar tetap mendengarnya, sedang engkau tidak memberinya peluang yang sama, atau tidak memperhatikannya ketika berbicara.
Kita mesti selalu menyadari, bahawa setiap orang�apa pun status sosialnya�ingin merasa dihormati dan dihargai, sekalipun anak kecil. Ketika seseorang merasa dihargai dan yakin dengan penghormatan anda, ia tidak memiliki perasaan buruk apa pun untuk melayani anda kapan saja. Dan hal ini terjadi selama ia yakin dengan penghargaan dan penghormatan atas dirinya, tidak merasa direndahkan atau terhina.
Beberapa orang yang congkak enggan menghormati orang lain dengan alasan khawatir mendorong orang tersebut menjadi congkak. Terhadap orang seperti ini, anda tidak dituntut untuk memujinya secara berlebih-lebihan, melainkan cukup dengan menghargai atau menghormati sekadarnya saja, sehingga hal itu boleh menempatkan anda�sebelum siapa pun� dalam posisi terhormat.
Agar anda memiliki budi bahasa yang halus dan mampu menghormati orang lain, perhatikanlah sisi-sisi positif yang ada pada dirinya. Ketika anda mengetahui sifat-sifat baik yang imilikinya, bertambahlah rasa suka dan penghormatan anda kcpadanya.
Hanya dengan menyapa saudara anda dengan "saudara (fulan)", bukan "hai fulan (namanya)", cukup memberi kesan bahawa anda menghormatinya dengan penuh kehangatan dan prrasaan suka, tanpa sedikit pun tendensi berlebihan yang dapat mendorongnya untuk merasa congkak. Renungkanlah!
Selain itu, kesan hormat dan suka juga dapat terwujud ketika anda menyapanya dengan kunyah atau nama panggilan yang paling disukainya, baik orang dewasa mahupun anak kecil.
Rasulullah shallallalui alaihi was salam pernah menyapa anak kecil dengan kunyahnya, seperti dalam sabda beliau:
"Hai Abu 'Umair, apa yany dilakukan burung kecil itu (nughair)." (Diriwayatkan oleh Bukhari dalain al-Adab no. 6l29 dan 6203, Muslim dalam al-Adab no. 2150, Abu Dawud dalam al-Adab no. 4969, Tirrnidzi dalam ash-Shalah no. 333, Ibnu Majah dalam al-Adab no. 3720, dan Ahmad dalam kilab al-Musnad III/115 dan 119, serta di beberapa tempat lainnya. An-nughair adalah burung kecil. Lihat: Fathul-Bari X/600. )
Demikian pula dengan kata seorang salaf: "Di antara yang dapat menjaga ketulusan cinta saudaramu adalah memulainya dengan salam ketika berjumpa, memberi tempat duduk, dan menyapanya dengan panggilan yang paling disukai." (Tiga hal tersebut dinyatakan dalam sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab al-Ausath�sebagaimana disebut oleh al-Haitsami dalam Majma'uz-Zawa'id VIII/82, ad-Dailami dalam Firdausul-Akhbar no. 2303, Hakim dan Baihaqi�seperti yang disebut dalam Faidhul-Qadir III/314, berasal dari riwayat Utsman bin Thalhah al-Hujbi, namun dinyatakan dha�if oleh as-Suyuthi. Dalam kitab Majma'uz-Zawa'id, al-Haitsimi berkata: "Di antara para perawinya terdapat Musa bin Abdul Malik bin Umair, ia adalah seorang yang dha'if." Begitu juga al-Albani menyatakannya dha'if dalam kitab Dha'iful-Jami'ash-Shaghir no. 2571. Baihaqi meriwayatkannya secara mahuquf sampai Umar bin Khaththab, dan inilah riwayat yang disebut oleh kebanyakan kitab yang mencatat atsar tersebut )
Sebagian kiat yang mempunyai dampak positif guna mempererat ukhuwah adalah menghafal nama sahabat-sahabat anda. Jika lupa atau belum tahu, jangan segan untuk bertanya dengan gaya ta'aruf (perkenalan) yang sopan, bukan dengan gaya introgasi. Menanyakan nama menunjukkan perhatian anda terhadap mereka, dan hal ini lebih baik daripada menanyakannya dengan malu-malu yang lebih cenderung memberi kesan negatif, kerana ia boleh menganggap anda tidak memiliki perhatian kepadanya. (Sebagian ada yang berpendapat bahawa keberhasilan beberapa tokoh didukung oleh kemampuannya menghafal nama manusia. Dengan kata lain, kekuatan menghafal nama orang adalah salah satu faktor keberhasilan seorang pemimpin atau murabbi. Lihat: Fannut-Ta'amul ma'an-Nas, hlm. 52.)
Untuk menghormati lawan bicara, anda tidak boleh meremehkan sarannya, bahkan sebaiknya anda meminta ideanya, kerana boleh jadi hal itu dapat membukakan sekian banyak idea dan pikiran anda. Atau setidaknya anda memberi kesan menghargai dan menghormati pendapatnya sekalipun tidak diterima. Dalam pembahasan berikutnya akan kami tambahkan beberapa contoh lain yang dilengkapi dengan petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam ketika mendengarkan kata-kata sahabatnya dan memberikan peluang mengungkapkan pendapat. (Lihat bahasan tentang virus ukhuwah ke-14, hlm. 167.)
c. Bergurau Secara Berlebihan
Gurau ringan dalam batas kesopanan dan tidak keluar dari ruang lingkup yang benar akan menambah kelenturan dan kehangatan hubungan ukhuwah. Sebaliknya, gurau yang berlebihan dan melampaui batas kesopanan akan mempercepat kehancuran ukhuwah.
kelembutan adalah anugerah
ucapan paling baik adalah kejujuran
sedang bergurau secara berlebihan
merupakan kunci segala permusuhan (Bait puisi tersebut adalah karya Qadhi at-Tannukhi. Lihat: Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 183. 34 )
Beberapa contoh gambaran gurau yang berlebihan seperti memukul sahabat dengan pukulan yang terkesan merendahkan, melontarkan kata-kata pedas yang menyakitkan, membicarakan masalah-masalah yang tidak disukainya seperti ketidaksempurnaan kodrat lahiriah, rahsia pribadi atau keluarganya, menyapa dengan nama panggilan yang tidak disukai. Semuanya dilakukan dengan dalih bersikap tanpa beban (santai), padahal sikap santai bukan bererti dengan meninggalkan etika syari'ah atau batasan-batasan yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Janganlah berlebihan dalam bergurau, hindari model gurau jelek yang tidak mengindahkan ungkapan-ungkapan yang baik, dan dapat menyebarkan bibit permusuhan atau dapat merubah perasaan. Gurau yang dilakukan tanpa memperhatikan rambu-rambu adab, selain dapat menjatuhkan nama baik, juga akan membuat sahabat anda bersedih hati, benci lalu menjauhi anda.
Jangankan gurau yang berlebihan, gurau biasa atau sekadar ucapan, ketika mengisyaratkan kesan menghina, akan melukai hati saudara anda, membuatnya sedih, yang akhirnya melahirkan penyesalan dalam dirinya atas persahabatan yang terjalin dengan anda.
Di lain pihak, gurau yang berlebihan akan memunculkan ungkapan-ungkapan yang anda sendiri tidak menyukainya, atau memicu kebencian orang lain terhadapmu. Sebuah pepatah mengatakan: jangan terlalu sering bergurau, kerana jika hal itu kamu lakukan, maka orang-orang bodoh akan menghinamu, sementara orang-orang bijak akan membencimu.
Seharusnya, anda jangan terlalu mudah terpancing untuk bergurau dengan sahabatmu, sekalipun gurau biasa. Jangan mudah mengobral kata-kata sebelum mengetahui tabiat dan batas-batas perasaannya. Beberapa orang menangkap gurau dengan negatif, ada pula yang tidak suka dengan gurau dalam bentuk apa pun, ada pula yang cocok dengan gaya gurau tertentu namun tidak cocok dengan gaya yang lain, dan seterusnya.
Gurau ringan dalam batas kesopanan dan tidak keluar dari ruang lingkup yang benar akan menambah kelenturan dan kehangatan hubungan ukhuwah. Sebaliknya, gurau yang berlebihan dan melampaui batas kesopanan akan mempercepat kehancuran ukhuwah.
kelembutan adalah anugerah
ucapan paling baik adalah kejujuran
sedang bergurau secara berlebihan
merupakan kunci segala permusuhan (Bait puisi tersebut adalah karya Qadhi at-Tannukhi. Lihat: Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 183. 34 )
Beberapa contoh gambaran gurau yang berlebihan seperti memukul sahabat dengan pukulan yang terkesan merendahkan, melontarkan kata-kata pedas yang menyakitkan, membicarakan masalah-masalah yang tidak disukainya seperti ketidaksempurnaan kodrat lahiriah, rahsia pribadi atau keluarganya, menyapa dengan nama panggilan yang tidak disukai. Semuanya dilakukan dengan dalih bersikap tanpa beban (santai), padahal sikap santai bukan bererti dengan meninggalkan etika syari'ah atau batasan-batasan yang ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Janganlah berlebihan dalam bergurau, hindari model gurau jelek yang tidak mengindahkan ungkapan-ungkapan yang baik, dan dapat menyebarkan bibit permusuhan atau dapat merubah perasaan. Gurau yang dilakukan tanpa memperhatikan rambu-rambu adab, selain dapat menjatuhkan nama baik, juga akan membuat sahabat anda bersedih hati, benci lalu menjauhi anda.
Jangankan gurau yang berlebihan, gurau biasa atau sekadar ucapan, ketika mengisyaratkan kesan menghina, akan melukai hati saudara anda, membuatnya sedih, yang akhirnya melahirkan penyesalan dalam dirinya atas persahabatan yang terjalin dengan anda.
Di lain pihak, gurau yang berlebihan akan memunculkan ungkapan-ungkapan yang anda sendiri tidak menyukainya, atau memicu kebencian orang lain terhadapmu. Sebuah pepatah mengatakan: jangan terlalu sering bergurau, kerana jika hal itu kamu lakukan, maka orang-orang bodoh akan menghinamu, sementara orang-orang bijak akan membencimu.
Seharusnya, anda jangan terlalu mudah terpancing untuk bergurau dengan sahabatmu, sekalipun gurau biasa. Jangan mudah mengobral kata-kata sebelum mengetahui tabiat dan batas-batas perasaannya. Beberapa orang menangkap gurau dengan negatif, ada pula yang tidak suka dengan gurau dalam bentuk apa pun, ada pula yang cocok dengan gaya gurau tertentu namun tidak cocok dengan gaya yang lain, dan seterusnya.
d. Sering Mendebat dan Membantah
Sering mendebat dan membantah diikuti oleh dampak negatif lainnya seperti menganggap unggul idea sendiri, sering mengkritik idea sahabat, sok tahu, menggunakan kata-kata pedas yang bernada merendahkan pemahaman, cara berpikir, dan kekuatan penguasaannya terhadap suatu masalah. Sesungguhnya salah satu faktor paling signifikan yang dapat memicu rasa benci dan dengki antara sahabat adalah kebiasaan berselisih/berbantah-bantahan (Mukhtashar Minhajil-Qashidin, hlm. 98) yang seringkali tanpa didasari oleh ketulusan dalam upaya mencari kebenaran atau melaksanakan kewajiban. Perselisihan juga terkadang menjebak keduanya dalam pembicaraan mengenai masalah yang masih samar, tanpa dalih argumen yang jelas. Perselisihan juga mendorong salah seorang di antara kedua sahabat tersebut terus berbicara, kendati tiada hasil yang dicapai, selain memperburuk hubungan dan merubah sikap.
Pada hakikatnya, perselisihan yang bahaya disertai adu mulut dan saling mencomohkan seperti yang digambarkan di atas, cenderung didorong oleh rasa ingin memperlihatkan keistimewaan dan keunggulan idea pembicara, sekaligusmerendahkan idea sahabatnya. Orang yang mencemoohkan sahabatnya bererti menganggapnya bodoh, dungu, dan tidak boleh memahami permasalahan dengan baik. Semua anggapan tersebut sama dengan penghinaan yang membuat hati menjadi panas, membangkitkan permusuhan, dan mencampakkan ukhuwah. (Ibid)
Suatu pepatah mengatakan: jangan mencemoh orang bijak atau bodoh, kerana orang bijak akan membencimu, dan orang bodoh akan menyakitimu. (Bahjatul-Majalis, II/429.)
Siapa pun tidak boleh mengatasi masalah ini kecuali jika mampu menguasai dan mengatur lidahnya di saat berbicara. Mengawal lidah untuk tidak angkat bicara atau diam dalam suasana yang mengharuskannya diam, dan mengaturnya ketika harus berbicara. Orang yang dikuasai oleh lidahnya, bererti telah membuka pintu kehancuran untuk dirinya sendiri.
Kita semua dilarang berbantah-bantahan atau saling mencemoh mengenai al-Qur'an dan dalam berbagai masalah agama.(Rasulu'llah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berbantah-banlalum fmiraV mengenai al-Qur'an adalah kufur."Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam as-Sunnah no. 4603, al-Albani menyatakannya sebagai hadith shahih dalam kitab ShahihSunan Abi Dawud no. 3847. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad 11/258, 478, dan 494, dengan redaksi: "Perdebatan fjidaUmengenai al-Qur'an adalah kufur." Dan dalam jilid 11/286, 424, 475, 503, dan 528, dengan redaksi: "Berbantah-bantahan(mm') mengenai al-Qur'an adalah kufur." Semuanya berasal dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan olehAbu Dawud ath-Thayalisi dalam kitab al-Musnad no. 2286, dari riwayat Abdullah bin 'Amrbahawa Rasulullahs/za//a//a/2u 'alaihiwa sallam bersabda: "Jangan berdebat mengenai al-Qur'an, kerana suatu perdebatan mengenai al-Qur'an adalah kufur."Riwayat ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 7223) Begitu pula sebaiknya kita menghindari perbuatan buruk tersebut dalam masalah-masalah duniawi dan masalah-masalah remeh lainnya, yang jika ditinggalkan tidak berdampak munculnya kemungkaran. Memang, keadaan-keadaan tertentu menciptakan keadaan yang mendukung munculnya ego dan hasrat untuk mengungguli lawan bicara. Keadaan seperti ini dapat membuat seseorang begitu menggebu untuk mendebat lawannya, maka ia mengangkat tema-tema syubhat yang memperkuat posisinya, dengan menggunakan rhetorika dalam memperkukuh argumentasinya. Dalam keadaan seperti ini, hasrat ingin menang lebih dominan daripada keinginan uniuk menjelaskan kebenaran. Selain itu, nampak beberapa watak negatif yang selama ini tersembunyi, seperti keras kepala dan ego yang berlebihan. Tidak ada sedikit pun celah untuk melakukan tabayyun (konfirmasi) atau ketenangan. Islam betul-betul menolak hal seperti itu dan menganggapnya sebagai ancaman yang sangat berbahaya terhadap agama dan nilai-nilai mulia.
Dalam beberapa kisah, seorang yang memiliki bakat retorika yang baik sering terpancing untuk mendebat semua kalangan, baik ulama mahupun kalangan awam. Baginya, herdebat merupakan kesenangan tersendiri yang tidak pernah membosankan. Orang seperti ini, jika dibiarkan berbicara mengenai masalah-masalah politik, nescaya membawa malapetaka. Dan jika dibiarkan berbicara mengenai masalah-masalah agama, dapat mencoreng keindahannya dan men|atuhkan citra baiknya.
Islam sangat membenci model manusia yang gemar banyak bicara dan usil seperti itu. RasuluUah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan selalu membantah. "( Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Mazhalim no. 2457, at-Tafsir no. 4523, dan al-Ahkam no. 7188, juga oleh Muslim dalam al- Ilm no. 2268, an-Nasa'i dalam al-Qudhat VIII/248, Tirmidzi dalam at-Tafsir no. 2976, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad VI/205.)
Dalam hadith lain beliau bersabda:
"Tiada kaum yang menjadi sesat setelah mendapat petunjuk kecuali kerana mereka suka saling berbantah-bantahan. " ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab al-Musnad V/252 dan 256, Tirmidzi dalam at-Tafsir no. 3253, Ibnu Majah dalam Muqaddimah no. 48, dan dinyatakan sebagai hadith hasan oleh al-Albani dalam Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 5633. 36)
Orang seperti itu, tidak boleh mengawal perkataannya dan berhenti pada batas-batas tertentu. Hasrat terbesarnya hanya bicara dan terus bicara, untuk mengungguli dan menjatuhkan lawannya. Dalam persepsinya, dalam suatu pembicaraan, kekuatan rhetorika menempati urutan pertama, makna menempati urutan kedua, sementara niat dan tujuan baik menempati urutan terakhir, atau bahkan sangat sulit mendapatkan celah untuk menempatkannya di antara gelombang rhetorika yang begitu kompleks.
Debat dalam masalah-masalah agama, politik, sains, sastra, ketika dilakukan oleh kaum rhetoris tersebut akan berpengaruh terhadap rusaknya bidang-bidang itu sendiri. Tidak berlebihan jika ada anggapan bahawa fenomena kemunduran peradaban, munculnya fanatisme mazhab fiqih, golongan, dan berbagai fenomena negatif lainnya yang diderita oleh umat Islam, disebabkan oleh tradisi perdebatan (berbantah-bantahan) dalam masalah-masalah agama dan kehidupan. Debat adalah sebuah pendekatan yang sangat jauh dari semangat penelitian yang jernih dan kajian yang tepat. (Muhammad al-Ghazali, Khuluqul-Muslim, hlm. 86-87)
Kerananya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
�Aku adalah penghulu (kepala) rumah di taman syurga�yang diperuntukkan�bagi orang-orang yang menghindar iperdebatan (perselisihan), sekalipun dalam posisi yang benar.� (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam al-Adab no. 4800, dari riwayat Abu Umamah radhiyallahu 'anhu. Al-Albani menyatakannya sebagai hadith shahih dalam kitab Shahih Sunan AbiDawud no. 4015)
Perdebatan dalam masalah-masalah kecil dan besar nierupakan faktor paling mendasar yang dapat menimbulkan permusuhan.
Untuk itu, saudaraku, jika anda merasa bahawa suatu pembicaraan sudah mengarah kepada perdebatan, segeralah mengambil langkah mundur teratur. Sebaliknya, anda tidak dibenarkan mengangkat pembicaraanyang dapat memicu perdebatan, jangan mempermalukan saudaramu di depan publik, mengancam untuk membuka kebodohannya, atau tindakan-tindakan serupa. Yang harus anda lakukan adalah mengakui sisi-sisi baik yang ada pada dirinya dengan mengatakan: "Saya tahu kalau kamu adalah orang yang, jika mengetahui bahawa masalah ini benar, tentu tidak akan mengingkarinya." Atau dengan mengatakan: "Saya rasa, pendapatmu itu memperjelas suatu masalah yang selama ini kurang saya sedari, saya merasa bahagia kerana mengetahui letak kesalahan saya sehingga dapat kembali kepada kebenaran." Dengan demikian, anda telah membuka lebar kesempatan untuk diri anda sendiri serta lawan bicara, guna mencari jalan keluar dari kemelut perdebatan dan adu mulut,(DR. Abdullah al-Khathir rahimahullah, Fannut-Ta'amul ma'an-Nas, hlm. 44 37) sekaligus menutup kemungkinan terje-rumus dalam sikap mempertahankan kesalahan yang nyata.
Sangat disayangkan, banyak orang yang lebih memilih berdebat dan mempertahankan kesalahan daripada lapang dada untuk mengakui kebenaran. Sikap seperti ini boleh merusak hubungan ukhuwah dengan orang lain. Sama sekali bukan merupakan kelemahan, bahkan sebaliknya, merupakan suatu keberanian yang luar biasa jika anda mengakui kebenaran yang disertai dengan ucapan terima kasih kepada orang yang menjelaskan kekhilafanmu. Anda tidak perlu memperpanjang bantahan dengan mengajukan apologi atas kesalahanmu, kerana sikap tersebut hanya akan menjatuhkan reputasimu di hadapan orang lain. Mereka akan memandang sebelah mata terhadapmu serta enggan mempercayai apa pun yang anda katakan setelah peristiwa itu. Atasilah kesalahan itu sejak dini, katakan 'saya tidak tahu', jika memang anda tidak tahu.
Adalah Syaikh Abdul Aziz bin al-Baz hqfizhahullah,(Barangkali lebih tepat menggunakan kalimat "rahimahullah", kerana Syaikh Abdul Aziz bin al-Baz wafat pada tahun 1999 M� Penj.) sosok ulama besar dan berkaliber internasional, dengan segala keluasan ilmu dan kedudukan tinggi yang disandangnya, beliau sering menyatakan dalam berbagai majlis: "Saya akan menyelidiki masalah ini terlebih dahulu, mengkajinya..." Pengakuan tulus tersebut sama sekali tidak mengurangi kredibilitasnya. Sementara banyak kalangan yang lebih rendah dari beliau, terkesan sangat tergesa-gesa dalam mengeluarkan fatwa atau pendapat, sehingga salah. Namun ketika diingatkan, ia membalasnya dengan perdebatan dan adu mulut.(Lihat: Fannut-Ta'amul ma'an-Nas, hlm. 35-36. 38 )
Ketahuilah, suatu perbincangan jika terus berlanjut sehingga sampai pada titik perdebatan dan perselisihan, selain akan menjatuhkan reputasi anda, juga bias menodai hubungan ukhuwah yang terjalin dengan saudara anda. Malah sahabat yang menyukai anda akan terluka oleh perselisihan, sekalipun dalam skala yang kecil, dan jika skalanya semakin besar, ia akan menyesali hubungan ukhuwah dengan anda.
Sering mendebat dan membantah diikuti oleh dampak negatif lainnya seperti menganggap unggul idea sendiri, sering mengkritik idea sahabat, sok tahu, menggunakan kata-kata pedas yang bernada merendahkan pemahaman, cara berpikir, dan kekuatan penguasaannya terhadap suatu masalah. Sesungguhnya salah satu faktor paling signifikan yang dapat memicu rasa benci dan dengki antara sahabat adalah kebiasaan berselisih/berbantah-bantahan (Mukhtashar Minhajil-Qashidin, hlm. 98) yang seringkali tanpa didasari oleh ketulusan dalam upaya mencari kebenaran atau melaksanakan kewajiban. Perselisihan juga terkadang menjebak keduanya dalam pembicaraan mengenai masalah yang masih samar, tanpa dalih argumen yang jelas. Perselisihan juga mendorong salah seorang di antara kedua sahabat tersebut terus berbicara, kendati tiada hasil yang dicapai, selain memperburuk hubungan dan merubah sikap.
Pada hakikatnya, perselisihan yang bahaya disertai adu mulut dan saling mencomohkan seperti yang digambarkan di atas, cenderung didorong oleh rasa ingin memperlihatkan keistimewaan dan keunggulan idea pembicara, sekaligusmerendahkan idea sahabatnya. Orang yang mencemoohkan sahabatnya bererti menganggapnya bodoh, dungu, dan tidak boleh memahami permasalahan dengan baik. Semua anggapan tersebut sama dengan penghinaan yang membuat hati menjadi panas, membangkitkan permusuhan, dan mencampakkan ukhuwah. (Ibid)
Suatu pepatah mengatakan: jangan mencemoh orang bijak atau bodoh, kerana orang bijak akan membencimu, dan orang bodoh akan menyakitimu. (Bahjatul-Majalis, II/429.)
Siapa pun tidak boleh mengatasi masalah ini kecuali jika mampu menguasai dan mengatur lidahnya di saat berbicara. Mengawal lidah untuk tidak angkat bicara atau diam dalam suasana yang mengharuskannya diam, dan mengaturnya ketika harus berbicara. Orang yang dikuasai oleh lidahnya, bererti telah membuka pintu kehancuran untuk dirinya sendiri.
Kita semua dilarang berbantah-bantahan atau saling mencemoh mengenai al-Qur'an dan dalam berbagai masalah agama.(Rasulu'llah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berbantah-banlalum fmiraV mengenai al-Qur'an adalah kufur."Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam as-Sunnah no. 4603, al-Albani menyatakannya sebagai hadith shahih dalam kitab ShahihSunan Abi Dawud no. 3847. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad 11/258, 478, dan 494, dengan redaksi: "Perdebatan fjidaUmengenai al-Qur'an adalah kufur." Dan dalam jilid 11/286, 424, 475, 503, dan 528, dengan redaksi: "Berbantah-bantahan(mm') mengenai al-Qur'an adalah kufur." Semuanya berasal dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan olehAbu Dawud ath-Thayalisi dalam kitab al-Musnad no. 2286, dari riwayat Abdullah bin 'Amrbahawa Rasulullahs/za//a//a/2u 'alaihiwa sallam bersabda: "Jangan berdebat mengenai al-Qur'an, kerana suatu perdebatan mengenai al-Qur'an adalah kufur."Riwayat ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 7223) Begitu pula sebaiknya kita menghindari perbuatan buruk tersebut dalam masalah-masalah duniawi dan masalah-masalah remeh lainnya, yang jika ditinggalkan tidak berdampak munculnya kemungkaran. Memang, keadaan-keadaan tertentu menciptakan keadaan yang mendukung munculnya ego dan hasrat untuk mengungguli lawan bicara. Keadaan seperti ini dapat membuat seseorang begitu menggebu untuk mendebat lawannya, maka ia mengangkat tema-tema syubhat yang memperkuat posisinya, dengan menggunakan rhetorika dalam memperkukuh argumentasinya. Dalam keadaan seperti ini, hasrat ingin menang lebih dominan daripada keinginan uniuk menjelaskan kebenaran. Selain itu, nampak beberapa watak negatif yang selama ini tersembunyi, seperti keras kepala dan ego yang berlebihan. Tidak ada sedikit pun celah untuk melakukan tabayyun (konfirmasi) atau ketenangan. Islam betul-betul menolak hal seperti itu dan menganggapnya sebagai ancaman yang sangat berbahaya terhadap agama dan nilai-nilai mulia.
Dalam beberapa kisah, seorang yang memiliki bakat retorika yang baik sering terpancing untuk mendebat semua kalangan, baik ulama mahupun kalangan awam. Baginya, herdebat merupakan kesenangan tersendiri yang tidak pernah membosankan. Orang seperti ini, jika dibiarkan berbicara mengenai masalah-masalah politik, nescaya membawa malapetaka. Dan jika dibiarkan berbicara mengenai masalah-masalah agama, dapat mencoreng keindahannya dan men|atuhkan citra baiknya.
Islam sangat membenci model manusia yang gemar banyak bicara dan usil seperti itu. RasuluUah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang sangat keras kepala dan selalu membantah. "( Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Mazhalim no. 2457, at-Tafsir no. 4523, dan al-Ahkam no. 7188, juga oleh Muslim dalam al- Ilm no. 2268, an-Nasa'i dalam al-Qudhat VIII/248, Tirmidzi dalam at-Tafsir no. 2976, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad VI/205.)
Dalam hadith lain beliau bersabda:
"Tiada kaum yang menjadi sesat setelah mendapat petunjuk kecuali kerana mereka suka saling berbantah-bantahan. " ( Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab al-Musnad V/252 dan 256, Tirmidzi dalam at-Tafsir no. 3253, Ibnu Majah dalam Muqaddimah no. 48, dan dinyatakan sebagai hadith hasan oleh al-Albani dalam Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 5633. 36)
Orang seperti itu, tidak boleh mengawal perkataannya dan berhenti pada batas-batas tertentu. Hasrat terbesarnya hanya bicara dan terus bicara, untuk mengungguli dan menjatuhkan lawannya. Dalam persepsinya, dalam suatu pembicaraan, kekuatan rhetorika menempati urutan pertama, makna menempati urutan kedua, sementara niat dan tujuan baik menempati urutan terakhir, atau bahkan sangat sulit mendapatkan celah untuk menempatkannya di antara gelombang rhetorika yang begitu kompleks.
Debat dalam masalah-masalah agama, politik, sains, sastra, ketika dilakukan oleh kaum rhetoris tersebut akan berpengaruh terhadap rusaknya bidang-bidang itu sendiri. Tidak berlebihan jika ada anggapan bahawa fenomena kemunduran peradaban, munculnya fanatisme mazhab fiqih, golongan, dan berbagai fenomena negatif lainnya yang diderita oleh umat Islam, disebabkan oleh tradisi perdebatan (berbantah-bantahan) dalam masalah-masalah agama dan kehidupan. Debat adalah sebuah pendekatan yang sangat jauh dari semangat penelitian yang jernih dan kajian yang tepat. (Muhammad al-Ghazali, Khuluqul-Muslim, hlm. 86-87)
Kerananya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
�Aku adalah penghulu (kepala) rumah di taman syurga�yang diperuntukkan�bagi orang-orang yang menghindar iperdebatan (perselisihan), sekalipun dalam posisi yang benar.� (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam al-Adab no. 4800, dari riwayat Abu Umamah radhiyallahu 'anhu. Al-Albani menyatakannya sebagai hadith shahih dalam kitab Shahih Sunan AbiDawud no. 4015)
Perdebatan dalam masalah-masalah kecil dan besar nierupakan faktor paling mendasar yang dapat menimbulkan permusuhan.
Untuk itu, saudaraku, jika anda merasa bahawa suatu pembicaraan sudah mengarah kepada perdebatan, segeralah mengambil langkah mundur teratur. Sebaliknya, anda tidak dibenarkan mengangkat pembicaraanyang dapat memicu perdebatan, jangan mempermalukan saudaramu di depan publik, mengancam untuk membuka kebodohannya, atau tindakan-tindakan serupa. Yang harus anda lakukan adalah mengakui sisi-sisi baik yang ada pada dirinya dengan mengatakan: "Saya tahu kalau kamu adalah orang yang, jika mengetahui bahawa masalah ini benar, tentu tidak akan mengingkarinya." Atau dengan mengatakan: "Saya rasa, pendapatmu itu memperjelas suatu masalah yang selama ini kurang saya sedari, saya merasa bahagia kerana mengetahui letak kesalahan saya sehingga dapat kembali kepada kebenaran." Dengan demikian, anda telah membuka lebar kesempatan untuk diri anda sendiri serta lawan bicara, guna mencari jalan keluar dari kemelut perdebatan dan adu mulut,(DR. Abdullah al-Khathir rahimahullah, Fannut-Ta'amul ma'an-Nas, hlm. 44 37) sekaligus menutup kemungkinan terje-rumus dalam sikap mempertahankan kesalahan yang nyata.
Sangat disayangkan, banyak orang yang lebih memilih berdebat dan mempertahankan kesalahan daripada lapang dada untuk mengakui kebenaran. Sikap seperti ini boleh merusak hubungan ukhuwah dengan orang lain. Sama sekali bukan merupakan kelemahan, bahkan sebaliknya, merupakan suatu keberanian yang luar biasa jika anda mengakui kebenaran yang disertai dengan ucapan terima kasih kepada orang yang menjelaskan kekhilafanmu. Anda tidak perlu memperpanjang bantahan dengan mengajukan apologi atas kesalahanmu, kerana sikap tersebut hanya akan menjatuhkan reputasimu di hadapan orang lain. Mereka akan memandang sebelah mata terhadapmu serta enggan mempercayai apa pun yang anda katakan setelah peristiwa itu. Atasilah kesalahan itu sejak dini, katakan 'saya tidak tahu', jika memang anda tidak tahu.
Adalah Syaikh Abdul Aziz bin al-Baz hqfizhahullah,(Barangkali lebih tepat menggunakan kalimat "rahimahullah", kerana Syaikh Abdul Aziz bin al-Baz wafat pada tahun 1999 M� Penj.) sosok ulama besar dan berkaliber internasional, dengan segala keluasan ilmu dan kedudukan tinggi yang disandangnya, beliau sering menyatakan dalam berbagai majlis: "Saya akan menyelidiki masalah ini terlebih dahulu, mengkajinya..." Pengakuan tulus tersebut sama sekali tidak mengurangi kredibilitasnya. Sementara banyak kalangan yang lebih rendah dari beliau, terkesan sangat tergesa-gesa dalam mengeluarkan fatwa atau pendapat, sehingga salah. Namun ketika diingatkan, ia membalasnya dengan perdebatan dan adu mulut.(Lihat: Fannut-Ta'amul ma'an-Nas, hlm. 35-36. 38 )
Ketahuilah, suatu perbincangan jika terus berlanjut sehingga sampai pada titik perdebatan dan perselisihan, selain akan menjatuhkan reputasi anda, juga bias menodai hubungan ukhuwah yang terjalin dengan saudara anda. Malah sahabat yang menyukai anda akan terluka oleh perselisihan, sekalipun dalam skala yang kecil, dan jika skalanya semakin besar, ia akan menyesali hubungan ukhuwah dengan anda.
e. Kritikan Keras yang Melukai Perasaan
Salah satu faktor yang dapat merusak suasana pembicaraan dan hubungan ukhuwah adalah menyerang dengan kritikan bernada keras alau kritikan yang tidak argumentatif. Seperti ungkapan: "Semua yang kamu katakan adalah salah, tidak memiliki dalil yang menguatkannya." Atau: "Kamu berseberangan dengan saya."
Jika anda seorang yang beretika baik, seharusnya yang anda katakan adalah: "Beberapa sisi dalam pendapatmu itu perlu dipertimbangkan lagi", "Menurut hemat saya...", "Saya mempunyai idea lain, harap anda menyemaknya dan memberi penilaian", dan ungkapanungkapan serupa.
Menurut DR. Abdullah al-Khathir rahimahullah. "Semua orang menyukai siapa saja yang mengoreksi kesalahannya tanpa melukai perasaan." Al-Khathir memberi contoh dengan sebuah kisah, bahawa suatu saat seorang dosen tengah mempersiapkan materi ceramah yang akan disampaikan di dalam sebuah forum umum. Namun makalah yang berhasil disusun olehnya terlalu panjang dan detail, sehingga dapat membosankan para pendengar. Untuk itu, ia minta penilaian dari istrinya dan berkata: "Bagaimana pendapatmu mengenai materi ceramah ini?" Dengan penuh bijak sang istri menjawab: "Materi ceramah ini lebih layak dan sangat baik jika menjadi ertikel untuk sebuah majalah ilmiah yang mengkaji tema-tema spesifik." Dari jawaban tersebut, dosen itu tahu bahawa materi makalah yang ia buat tidak cocok untuk disampaikan di depan forum umum.
Kisah di atas merupakan satu contoh kritik yang sangat baik. Ia menggunakan cara menonjolkan sisi-sisi positif dan kelebihan objek yang dikritik. Oleh kerananya, jika seorang sahabat datang menemui anda dan meminta pendapat mengenai rencananya untuk terjun berdagang�misalnya, maka sebaiknya anda memberi saran dengan mengatakan: "Engkau memiliki potensi menulis dan berpikir yang tajam, jangan sia-siakan potensimu itu." Jika memang ia tidak memiliki bakat berdagang dan menonjol dalam bidang intelektual.
Demikianlah model sikap yang harus diambil, jangan memutuskan suatu masalah dengan gaya ungkapan "Kamu tidak layak menekuni bidang itu", namun katakanlah: "Kamu lebih layak menekuni selain bidang itu."
Dalam suatu majlis, kita sering menemui seorang pembicara yang handal dan berceramah dengan tutur kata yang sangat baik. Kemudian pada akhir pembicaraan, ia membuat satu kesalahan. Jika kita perhatikan ragam sikap manusia dalam kisah seperti ini, ada yang hanya menilai titik kesalahnya saja, sehingga menuntut si pembicara untuk berhenti. Ini merupakan sikap yang tidak benar. Seorang pengkritik seharusnya menonjolkan sisi-sisi positif isi pembicaraannya dahulu seperti dengan mengatakan: "Saya setuju dengan isi pembicaraan anda dalam..., namun untuk masalah terakhir yang anda ungkapkan, saya mempunyai beberapa catatan."
Dengan gaya tersebut, pengkritik memulai dengan sisi-sisi positif, setelah itu, baru mengoreksi kesalahan pembicara. Gaya seperti ini akan lebih mendorong pembicara untuk menerima kritikan yang disampaikan kepadanya, tanpa harus terjebak dalam perdebatan kosong yang tidak menghasilkan apa pun.
Dengan gaya tersebut, bererti kita menerapkan kaidah: "Kita awali dengan perkara yang disepakati, baru kemudian membicarakan perkara-perkara lain." (Fannut-Ta'amulma'an-Nas, hlm. 50-52. 39 )
Salah satu faktor yang dapat merusak suasana pembicaraan dan hubungan ukhuwah adalah menyerang dengan kritikan bernada keras alau kritikan yang tidak argumentatif. Seperti ungkapan: "Semua yang kamu katakan adalah salah, tidak memiliki dalil yang menguatkannya." Atau: "Kamu berseberangan dengan saya."
Jika anda seorang yang beretika baik, seharusnya yang anda katakan adalah: "Beberapa sisi dalam pendapatmu itu perlu dipertimbangkan lagi", "Menurut hemat saya...", "Saya mempunyai idea lain, harap anda menyemaknya dan memberi penilaian", dan ungkapanungkapan serupa.
Menurut DR. Abdullah al-Khathir rahimahullah. "Semua orang menyukai siapa saja yang mengoreksi kesalahannya tanpa melukai perasaan." Al-Khathir memberi contoh dengan sebuah kisah, bahawa suatu saat seorang dosen tengah mempersiapkan materi ceramah yang akan disampaikan di dalam sebuah forum umum. Namun makalah yang berhasil disusun olehnya terlalu panjang dan detail, sehingga dapat membosankan para pendengar. Untuk itu, ia minta penilaian dari istrinya dan berkata: "Bagaimana pendapatmu mengenai materi ceramah ini?" Dengan penuh bijak sang istri menjawab: "Materi ceramah ini lebih layak dan sangat baik jika menjadi ertikel untuk sebuah majalah ilmiah yang mengkaji tema-tema spesifik." Dari jawaban tersebut, dosen itu tahu bahawa materi makalah yang ia buat tidak cocok untuk disampaikan di depan forum umum.
Kisah di atas merupakan satu contoh kritik yang sangat baik. Ia menggunakan cara menonjolkan sisi-sisi positif dan kelebihan objek yang dikritik. Oleh kerananya, jika seorang sahabat datang menemui anda dan meminta pendapat mengenai rencananya untuk terjun berdagang�misalnya, maka sebaiknya anda memberi saran dengan mengatakan: "Engkau memiliki potensi menulis dan berpikir yang tajam, jangan sia-siakan potensimu itu." Jika memang ia tidak memiliki bakat berdagang dan menonjol dalam bidang intelektual.
Demikianlah model sikap yang harus diambil, jangan memutuskan suatu masalah dengan gaya ungkapan "Kamu tidak layak menekuni bidang itu", namun katakanlah: "Kamu lebih layak menekuni selain bidang itu."
Dalam suatu majlis, kita sering menemui seorang pembicara yang handal dan berceramah dengan tutur kata yang sangat baik. Kemudian pada akhir pembicaraan, ia membuat satu kesalahan. Jika kita perhatikan ragam sikap manusia dalam kisah seperti ini, ada yang hanya menilai titik kesalahnya saja, sehingga menuntut si pembicara untuk berhenti. Ini merupakan sikap yang tidak benar. Seorang pengkritik seharusnya menonjolkan sisi-sisi positif isi pembicaraannya dahulu seperti dengan mengatakan: "Saya setuju dengan isi pembicaraan anda dalam..., namun untuk masalah terakhir yang anda ungkapkan, saya mempunyai beberapa catatan."
Dengan gaya tersebut, pengkritik memulai dengan sisi-sisi positif, setelah itu, baru mengoreksi kesalahan pembicara. Gaya seperti ini akan lebih mendorong pembicara untuk menerima kritikan yang disampaikan kepadanya, tanpa harus terjebak dalam perdebatan kosong yang tidak menghasilkan apa pun.
Dengan gaya tersebut, bererti kita menerapkan kaidah: "Kita awali dengan perkara yang disepakati, baru kemudian membicarakan perkara-perkara lain." (Fannut-Ta'amulma'an-Nas, hlm. 50-52. 39 )
SIKAP ACUH
Ukhuwah yang tidak dihiasi dengan kehangatan perasaan dan gejolak rindu, adalah ukhuwah yang kering. Ia akan segera gugur dan luntur. Masing-masing sahabat merasa sangat terbebani dengan tuntutan-tuntutan persahabatan. Rindu, kedekatan, dan kehangatan perasaan adalah ibarat bahan bakar yang menyalakan ukhuwah abadi, menambah gelora semangat, dan meringankan segala beban yang ditanggung. Bahkan, orang-orang yang terjalin dalam ikatan ukhuwah seperti itu merasakan tanggungan beban berubah menjadi kenikmatan tersendiri, jika mampu dilakukan.
Ukhuwah yang menggabungkan antara dorongan perasaan hati dan dorongan akal memberi citra rasa baru dalam kehidupan yang tidak dapat dirasakan kecuali oleh orang yang terlibat langsung di dalamnya. Sebagian orang cenderung menafikan aspek-aspek emosional dalam hubungan ukhuwah, dengan alasan bahawa cinta, yang merupakan benang merah ukhuwah, terwujud dengan menunaikan seluruh kewajiban yang dibenarkan oleh syari'ah. Ia beranggapan bahawa manusia tidak boleh menyibukkan dirinya dengan upaya menumbuhkan kehangatan-kehangatan perasaan, selama telah menjalankan seluruh kewajiban dan hak terhadap sahabatnya.
pergaulan memiliki komunitas sendiri
adapun cinta...
intinya adalah kehangatan hati
dan mata yang terjaga ( Ibnul-Qayyim, Thariqul-Hijratain wa Babus-Sa'adatain, hlm. 328)
Orang yang beranggapan seperti itu akan menafsirkan cinta, dalam segala bentuknya, terlepas dari perasaan...termasuk cinta seorang hamba kepada Rabb-nya, atau Rasulullah shal-lallahu 'alaihi wa sallam. Ia beralasan dengan ungkapan seorang penyair:
jika cintamu tulus, nescaya dikau akan mematuhinya
kerana orang yang dimabuk cinta akan menuruti kekasihnya (Bahjatul-Majalis, I/395)
Makna ungkapan puisi di atas adalah benar, namun jika diterapkan untuk memahami hubungan yang kita maksud, akan berdampak tidak baik, y a i t u menafikan selain 'kepatuhan/menuruti' dari ruanglingkup makna cinta. Orang yang berdalih dengan ungkapan puisi di atas, membatasi cinta dalam bentuk ketaatan saja, ia tidak mempertimbangkan kehangatan hati yang merupakan salah satu bagian dari cinta, yang juga dikenal dalam ajaran agama, dan tidak beda dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan hak dan kewajiban.
Secara pasti, kita menyatakan bahawa perasaan hati adalah bagian dari cinta yang diajarkan oleh agama. Seperti yang dinyatakan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam, ketika sedang menyidang orang yang terbukti mengambil minuman keras (khamr), tiba-tiba terdengar seseorang melaknat orang yang dihukum tersebut. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam segera menegur, "Jangan melaknatnya, demi Allah, sejauh yany kuketahui, dia mencintai Allah dan Rasul-Nya." (Redaksi hadith tersebut diriwayatkan oleh al-Baghawi dalam kitab Syarhus-Sunnah X/336 dan 337. Sementara Bukhari meriwayatkannya dalam al-Hududno. 6780, dengan redaksi: "Jangcm melaknatnya, kerana demi Allah, aku tidak tahu bahawa sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." Silahkan lihat komentar Ibnu Hajar rahimahullah atas riwayat Bukhari tersebut di dalam kitab Fathul-Bari XII/79-80)
Di dalam sejarah Islam tercatat kisah seorang prajurit yang dihukum kerana mengambil minuman keras, ia tidak diperbolehkan bertempur, namun ia berkeras untuk terjun ke medan laga di jalan Allah, kerana terdorong oleh cintanya kepada Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. (Kisah tersebut terjadi dalam peristiwa Perang al-Qadisiyyah, yaitu ketika Sa'ad bin Abi Waqqash (pemimpin perang) menghukum Abu Mihjan ats-Tsaqafi dengan mengikat dan menyekapnya di dalam kemah utama kerana minum khamr. Ketika Abu Mihjan mendengar derap kuda di sekitar kemah utama tersebut�sementara ia adalah seorang perwira pemberani tanpa tandingdi medan laga, makaAbu Mihjan melantunkan kekesalannya dalam bait-bait puisi berikut:
lengkap sudah kesedihanku kerana menukar kuda dengan botol arak
tinggallah aku seorang diri terikat bahu dan kaki
jika berdiri tubuhku sakit tertahan besi
pintu pun tertutup
membuat teriakanku tak bererti kemarin aku adalah seorang kaya hartajuga kawan namun kini aku ditinggalkan sendiri tanpa ada yang menemani
Lalu Abu Mihjan memohon kepada salah seorang istri (dari tawanan) Sa'ad untuk melepaskannya dan meminjamkan kuda Sa'ad, ia bersumpah akan kembali pada sore harinya dan mengikat tubuhnya di tempat hukuman. Dengan sigap, Abu Mihjan meloncat ke atas kuda milik Sa'ad. Kebetulan Sa'ad sedang menderita sakit dan tetap diam di dalam kemahnya, ia hanya memperhatikan pasukannya dari jauh. Sedang Abu Mihjan bergerak lincah ke sana ke mari menghantani pasukan musuh yang mendekal. Dan secara kebetulan Sa'ad melihal ke arali kudanya dari kejauhan, ia ragu apakah ilti kudanya atau bukan, dan ketika memperhalikanpentinggangnya, ia pun raguapakahyangdilihalnya AbuMilijan ataubukan, kerana sepenge-lahuannya, ia masih terikat di dalam lahanan. Ketika sore liba, Abu Milijan kembali ke tempat penahanannya unluk melanjulkan proses hukumannya. Sa'ad pun tertarik untuk menyelidiki peristiwa siang tadi yang dilihalnya, ketika sampai di kemah utama, ia menemukan kudanya penuh keringat. Dengan nada heran ia bertanya: "Apa yang telah terjadi dengan kudaku?" Maka beberapa orang yang menyaksikan perbuatan Abu Mihjan menje-laskannya, sehingga Sa'ad man memaafkan dan membebaskannya. Senioga Allah meridhai mereka berdua. Ibnu Katsir meriwayatkan kisah Abu Mihjan secara lengkap dalam kilab al-liiihiyah wan-Nihayah, V/l 13
83 Dalam kitab Iqtidha'ush-Shirath al-Mastaqim fi Mukhalafali Ashhabil-Juhim, Ibnu Taimiyyah menyatakan: "Kebanyakan orang yang Anda temukan sangat bersemangat untuk mengamalkan bid'ah seperti itu. Dengan segala niat baik dan semangat yang diharapkan dapat membawa pahala, semangat mereka sangat lemah dalam menjalankan perintah-perintah Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam yang semestinya dilakukan dengan semangat..." Dalam kesempatan lain Ibnu Taimiyyah berkata: "Mengagungkan hari Mahulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menjadi kannya sebagai suatu upacara tertentu memang dilakukan oleh beberapa kalangan masyarakat, dan perbuatan tersebut dapat mendatangkan pahala yang besar dilihat dari segi niatbaikdanpengagunganterhadap sosok Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (hlm. 267 dan 268). Adapun mengenai orang-orang yang meng-amalkan beberapa keterangan hadith yang menyatakan keutamaan-keuta-maan (fadha'il) hari dan malam tertentu, setelah menerangkan kesepakatan para ulama hadith bahawa riwayat-riwayat tersebut adalah palsu dan tidak berasal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Ibnu Taimiyyah berkata: "Namun di antara riwayat tersebut ada yang diterima dari beberapa ulama dan orang-orang shalih sehingga mengiranya sebagai riwayat ymgshahih, lalu mengamalkannya. Mereka boleh mendapatkan pahala dari segi niat baik dan semangat pengamalannya, bukan dari segi penyimpangannya dari garis sunnah." LihatMajmu' al-Falawa XXIV/202. )
Dalam kisah lain, Ibnu Taimiyyah memandang secara objektif bahawa orang-orang yang melakukan bid'ah Mahulid (merayakan Mahulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), ada kemungkinan mendapat pahala, bukan atas bid'ah yang dilakukannya, tetapi kerana rasa cinta dan pengagungannya terhadap pribadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.83 Tentu saja hal ini jika cinta dan pengagungan tersebut sebagai motivasi hakiki yang mendorong perbuatannya, kendatipun bid'ahnya tetap dicatat sebagai kesalahan (dihisab) selama mereka mengetahui perbuatan tersebut melanggar syari'ah.
Ukhuwah yang menggabungkan antara dorongan perasaan hati dan dorongan akal memberi citra rasa baru dalam kehidupan yang tidak dapat dirasakan kecuali oleh orang yang terlibat langsung di dalamnya. Sebagian orang cenderung menafikan aspek-aspek emosional dalam hubungan ukhuwah, dengan alasan bahawa cinta, yang merupakan benang merah ukhuwah, terwujud dengan menunaikan seluruh kewajiban yang dibenarkan oleh syari'ah. Ia beranggapan bahawa manusia tidak boleh menyibukkan dirinya dengan upaya menumbuhkan kehangatan-kehangatan perasaan, selama telah menjalankan seluruh kewajiban dan hak terhadap sahabatnya.
pergaulan memiliki komunitas sendiri
adapun cinta...
intinya adalah kehangatan hati
dan mata yang terjaga ( Ibnul-Qayyim, Thariqul-Hijratain wa Babus-Sa'adatain, hlm. 328)
Orang yang beranggapan seperti itu akan menafsirkan cinta, dalam segala bentuknya, terlepas dari perasaan...termasuk cinta seorang hamba kepada Rabb-nya, atau Rasulullah shal-lallahu 'alaihi wa sallam. Ia beralasan dengan ungkapan seorang penyair:
jika cintamu tulus, nescaya dikau akan mematuhinya
kerana orang yang dimabuk cinta akan menuruti kekasihnya (Bahjatul-Majalis, I/395)
Makna ungkapan puisi di atas adalah benar, namun jika diterapkan untuk memahami hubungan yang kita maksud, akan berdampak tidak baik, y a i t u menafikan selain 'kepatuhan/menuruti' dari ruanglingkup makna cinta. Orang yang berdalih dengan ungkapan puisi di atas, membatasi cinta dalam bentuk ketaatan saja, ia tidak mempertimbangkan kehangatan hati yang merupakan salah satu bagian dari cinta, yang juga dikenal dalam ajaran agama, dan tidak beda dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan hak dan kewajiban.
Secara pasti, kita menyatakan bahawa perasaan hati adalah bagian dari cinta yang diajarkan oleh agama. Seperti yang dinyatakan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam, ketika sedang menyidang orang yang terbukti mengambil minuman keras (khamr), tiba-tiba terdengar seseorang melaknat orang yang dihukum tersebut. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam segera menegur, "Jangan melaknatnya, demi Allah, sejauh yany kuketahui, dia mencintai Allah dan Rasul-Nya." (Redaksi hadith tersebut diriwayatkan oleh al-Baghawi dalam kitab Syarhus-Sunnah X/336 dan 337. Sementara Bukhari meriwayatkannya dalam al-Hududno. 6780, dengan redaksi: "Jangcm melaknatnya, kerana demi Allah, aku tidak tahu bahawa sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." Silahkan lihat komentar Ibnu Hajar rahimahullah atas riwayat Bukhari tersebut di dalam kitab Fathul-Bari XII/79-80)
Di dalam sejarah Islam tercatat kisah seorang prajurit yang dihukum kerana mengambil minuman keras, ia tidak diperbolehkan bertempur, namun ia berkeras untuk terjun ke medan laga di jalan Allah, kerana terdorong oleh cintanya kepada Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. (Kisah tersebut terjadi dalam peristiwa Perang al-Qadisiyyah, yaitu ketika Sa'ad bin Abi Waqqash (pemimpin perang) menghukum Abu Mihjan ats-Tsaqafi dengan mengikat dan menyekapnya di dalam kemah utama kerana minum khamr. Ketika Abu Mihjan mendengar derap kuda di sekitar kemah utama tersebut�sementara ia adalah seorang perwira pemberani tanpa tandingdi medan laga, makaAbu Mihjan melantunkan kekesalannya dalam bait-bait puisi berikut:
lengkap sudah kesedihanku kerana menukar kuda dengan botol arak
tinggallah aku seorang diri terikat bahu dan kaki
jika berdiri tubuhku sakit tertahan besi
pintu pun tertutup
membuat teriakanku tak bererti kemarin aku adalah seorang kaya hartajuga kawan namun kini aku ditinggalkan sendiri tanpa ada yang menemani
Lalu Abu Mihjan memohon kepada salah seorang istri (dari tawanan) Sa'ad untuk melepaskannya dan meminjamkan kuda Sa'ad, ia bersumpah akan kembali pada sore harinya dan mengikat tubuhnya di tempat hukuman. Dengan sigap, Abu Mihjan meloncat ke atas kuda milik Sa'ad. Kebetulan Sa'ad sedang menderita sakit dan tetap diam di dalam kemahnya, ia hanya memperhatikan pasukannya dari jauh. Sedang Abu Mihjan bergerak lincah ke sana ke mari menghantani pasukan musuh yang mendekal. Dan secara kebetulan Sa'ad melihal ke arali kudanya dari kejauhan, ia ragu apakah ilti kudanya atau bukan, dan ketika memperhalikanpentinggangnya, ia pun raguapakahyangdilihalnya AbuMilijan ataubukan, kerana sepenge-lahuannya, ia masih terikat di dalam lahanan. Ketika sore liba, Abu Milijan kembali ke tempat penahanannya unluk melanjulkan proses hukumannya. Sa'ad pun tertarik untuk menyelidiki peristiwa siang tadi yang dilihalnya, ketika sampai di kemah utama, ia menemukan kudanya penuh keringat. Dengan nada heran ia bertanya: "Apa yang telah terjadi dengan kudaku?" Maka beberapa orang yang menyaksikan perbuatan Abu Mihjan menje-laskannya, sehingga Sa'ad man memaafkan dan membebaskannya. Senioga Allah meridhai mereka berdua. Ibnu Katsir meriwayatkan kisah Abu Mihjan secara lengkap dalam kilab al-liiihiyah wan-Nihayah, V/l 13
83 Dalam kitab Iqtidha'ush-Shirath al-Mastaqim fi Mukhalafali Ashhabil-Juhim, Ibnu Taimiyyah menyatakan: "Kebanyakan orang yang Anda temukan sangat bersemangat untuk mengamalkan bid'ah seperti itu. Dengan segala niat baik dan semangat yang diharapkan dapat membawa pahala, semangat mereka sangat lemah dalam menjalankan perintah-perintah Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam yang semestinya dilakukan dengan semangat..." Dalam kesempatan lain Ibnu Taimiyyah berkata: "Mengagungkan hari Mahulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menjadi kannya sebagai suatu upacara tertentu memang dilakukan oleh beberapa kalangan masyarakat, dan perbuatan tersebut dapat mendatangkan pahala yang besar dilihat dari segi niatbaikdanpengagunganterhadap sosok Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (hlm. 267 dan 268). Adapun mengenai orang-orang yang meng-amalkan beberapa keterangan hadith yang menyatakan keutamaan-keuta-maan (fadha'il) hari dan malam tertentu, setelah menerangkan kesepakatan para ulama hadith bahawa riwayat-riwayat tersebut adalah palsu dan tidak berasal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Ibnu Taimiyyah berkata: "Namun di antara riwayat tersebut ada yang diterima dari beberapa ulama dan orang-orang shalih sehingga mengiranya sebagai riwayat ymgshahih, lalu mengamalkannya. Mereka boleh mendapatkan pahala dari segi niat baik dan semangat pengamalannya, bukan dari segi penyimpangannya dari garis sunnah." LihatMajmu' al-Falawa XXIV/202. )
Dalam kisah lain, Ibnu Taimiyyah memandang secara objektif bahawa orang-orang yang melakukan bid'ah Mahulid (merayakan Mahulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam), ada kemungkinan mendapat pahala, bukan atas bid'ah yang dilakukannya, tetapi kerana rasa cinta dan pengagungannya terhadap pribadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.83 Tentu saja hal ini jika cinta dan pengagungan tersebut sebagai motivasi hakiki yang mendorong perbuatannya, kendatipun bid'ahnya tetap dicatat sebagai kesalahan (dihisab) selama mereka mengetahui perbuatan tersebut melanggar syari'ah.
Dari uraian di atas, kita mengetahui bahawa hati memiliki perasaan-perasaan tertentu yang menjadi elemen terpenting bagi cinta. Perasaan yang dapat menjadikan seseorang selalu merindukan sahabat terkasihnya, ingin bertemu, mendengar kata-katanya, dan membuat akrab serta bahagia kerana pertemuan dengannya, sehingga muncul wajah ceria yang dihiasi oleh senyuman dan mencerminkan kebahagiaan.
Dalam sebuah hadith shahih, A'isyah radhiyalla.hu 'anha menceritakan bahawa pada suatu saat, seorang dari kaum Anshar datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seraya berkata: "Wahai Rasulullah, sungguh engkau adalah orang yang lebih kucintai dari diriku sendiri, keluarga dan anakku. Ketika berada di rumah, aku selalu teringat denganmu, gejolak rinduku tak sanggup kutahan untuk menemuimu dan melihatmu. Namun jika teringat masa kematianku dan ajalmu, engkau pasti masuk syurga dengan derajat yang paling tinggi bersama para Nabi lainnya, sementara aku, seandainya masuk syurga pun, aku khawatir tidak dapat bertemu denganmu lagi." (Menurut al-Haitsami dalam kitab Majma'uz-Zawa'id VII/7: "Hadith ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab ash-Shaghirdan al-Ausath,sanad-nya sama dengan sanad kitab ash-Shahih, selain Abdullah bin Imran al-'Abidi, dan ia adalah tsiqah" JugaAbu Nu'aim dalam kitab al-Hilyah IV/240 dan VIII/125. Ibnu Katsir (Tafsir Ibni Kalsir 1/495) menambahkan bahawa hadithtersebut dinisbatkan juga kepada Ibnu Mardawaih dan al-Hafizh Abu Abdillah al-Maqdisi di dalam kitab Shifatul-Jarmah; iamengatakan: "Saya tidak menemukan cela dalam sanad-nya." Dan SyaikhMuqbil menyebutkan-nya dalam kitab ash-Shahih al-Musnad min Asbabin-Nuzul, hlm. 70-71)
Jika semua makna cinta yang mengikat hati orang Anshar tersebut dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hanya berkisar dalam ketaatan, maka akan berakhir dalam batasan kehidupan dunia saja, kerana tidak ada taklif di syurga. Namun orang tersebut di atas, memiliki gejolak perasaan dan kerinduan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak terputus atau pupus kerana berakhirnya masa taklif.
Dalam riwayat lain dinyatakan bahawa suatu saat datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seseorang dengan wajah murung dirundung duka, maka Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Wahai Fulan, apa yang membuatmu sedih?" Ia menjawab: "Wahai baginda Nabi, aku sedih kerana memikirkan sesuatu." Rasullullah bertanya lagi: Apakah gerangan?" Ia menjawab: "Selama ini kami datang dan pergi menemuimu, menatap wajahmu dan berkumpul denganmu. Namun nanti di alam akhirat engkau berada pada kedudukan yang lindungi bersama para Nabi, kami tidak sanggup mencapai derajat itu. "Sejenak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diam, sehingga datang Jibril dan mewahyukan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala kepadanya:
"Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang paling baik" (an-Nisa' [4]: 69).
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan khabar gembira itu kepada sahabat yang bertanya tersebut. (Riwayat ini dinyatakan oleh Ibnu Jarir di dalam kitab Tafsirnya VIII/534/ 9924 dari riwayat Sa'id bin Jabir. Dengan demikianriwayat tersebut adalah mursal, namun diperkuat oleh hadith sebelumnya)
Cuba renungkan, apa yang mengusik hati sahabat tersebut, padahal ia telah masuk syurga dan merasakan kenikmatannya? Ia ingin berjumpa kembali dengan Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh merupakan cinta kasih yang agung dan perasaan tulus yang begitu menggelora. Suatu perasaan yang tidak hanya menjadikan para sahabat merindukan peribadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, melainkan kerinduan terhadap sesama mereka. Perasaan yang membuat peribadi agung seperti Umar bin Khaththab tidak mampu memejamkan mata kerana teringat dan merindukan sahabatnya. Ia hitung detik jarum waktu (malam) menuju Subuh, sehingga ketika sang suria menjelang, ia segera beranjak menemuinya...
Imam Ahmad dalam bukunya az-Zuhd dan Ibnu Abi Dunya dalam bukunya al-Ikhwan, menceritakan bahawa pada suatu malam Umar bin Khaththab teringat kepada seorang sahabatnya, ia terus bergumam lirih: "Mengapa malam ini terasa begitu panjang." Maka setelah menunaikan shalat Subuh, Umar segera menemui sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat. (Imam Ahmad dalam az-Zuhd, hlm. 152.)
Itulah perasaan yang membuat seseorang merindukan saudara dan sahabatnya, sehingga berangan-angan agar tidak berpisah darinya, baik di dunia mahupun di akhirat.
Sepertinya begitu indah untaian bait seorang penyair berikut ini:
duhai, ingin rasanya aku tetap hidup bersama mereka
sehingga jika perpisahan harus tiba saat itulah ajalku pun tiba
rumahku ada di antara rumah-rumah mereka
di antara pusara mereka pula
jasadku terbaring
Penyair lain berkata:
tiada yang berubah pada diriku sejak kita berpisah
selain selaksa duka dan derita yang mengharu biru
adakah orang yang bahagia tinggal di rumah
nan indah
tanpa orang-orang terkasih yang mengelilinginya (Al-Mukhtar min Risalatish-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 95)
Pujangga lain bersyair:
dulu kami selalu mengunjungimu
saat itu kita sekampung, namun setelah berpisah kita harus menghitung waktu untuk menemuimu
padahal gejolak rindu hati ini tiada terperi
Sementara penyair lain berujar:
aku heran, mengapa selalu merindukan mereka menanyakan keadaannya kepada setiap orang yang kutemui padahal mereka di sini bersamaku
mataku mencari mereka kesana-kemari
padahal mereka ada di dekat pelupuknya hatiku bergejolak merindukannya padahal mereka ada di antara tulang rusukku (Minhajus-Sunnah, V/377. 44 )
Berikut ini ungkapan indah lainnya dari seorang penyair:
sekalipun wajahku tak dapat menatapmu lagi
namun cinta dan ukhuwah tidak akan pernah sirna
aku tidak akan berhenti memujimu
dari kejauhan, bersama untaian doa
jiwaku akan selalu merindukanmu
bersua bersama penuh ketulusan dan cinta
Penyair berikut ini mencoba menggambarkan kebanggaan dan kerinduan terhadap sahabat:
ketika orang yang mengasihimu ini mencium
semerbak aroma kerinduan
kedua matanya tergerak melantunkan ayat-ayat
dari surah al-Mursalat
dalam kelapangan dada ini
sesukamu engkau boleh tinggal
kerana itulah erti tertinggi bagi hati gang bersemi
dapatkah malam-malam ini membahagiakan hati kita diteruskan oleh fajar Subuh agar menghapus penantian panjang penuh duka
sahabat-sahabatku...
menjaga cinta adalah ibarat hutang
kita masih tetap seperti dahulu kala
Tidak diragukan lagi, bahawa ketulusan perasaan dapat membuatkan rasa bahagia ketika berjumpa dengan sahabat tercinta; memperlihatkan rasa bahagia ketika berjumpa boleh menumbuhkan perasaan tulus. Demikian pula dengan keceriaan, senyuman, keramahan, dan ucapan salam. Semuanya dapat mendekatkan hati dan menghangatkannya. Untuk itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: �Jangan meremehkan kebaikan dalam bentuk apapun, walau hanya dengan menampakkan keceriaan ketika berjumpa , dengan saudaramu.� (Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Bir wash-Shillah no. 2626, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad V/173, dari riwayat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Tirmidzi dalam al-Ath'imah no. 1833, dengan tambahan pada akhir hadith: "Dan jika kamu membeli daging atau memasak sesuatu maka perbanyaklah supnya (air), dan berikanlah sebagiannya kepada tetanggamu." Riwayat ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahihul-Jami'ash-Shaghir no. 7634. Tirmidzi juga meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, bahawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap kebaikan adalah shadaqah, dan termasuk kebaikan jika kamu menampakkan wajah ceria ketika berjumpa dengan saudaramu, dan mengisi bejananya dengan air yang diambil dari embermu. "Hadith ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad III/344 dan 360, al-Baghawi dalam kitab Syarhus-Sunnah VI/143, dan ia menilainya hasan. Demikianjuga dengan al-Albani, ia menilainya hasan dalam kitab Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 4557. )
Dalam hadith lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
�Senyummu terhadap saudaramu adalah shadaqah.� (Potongan dari sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam al-liirr wash-Shillah no. 1956, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 2908, juga dalam ash-Shahihah no. 572, al-Albani jugamenisbatkannya kepada Ibnu Hibbanno. 864 dan Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad no. 128.)
Demikian pula dengan sabdanya:
�Kamu sekalian tidak akan masuk sorga sehingga beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai. Mahukah kamu, kutunjukkan sesuatu yang jika kamu lakukan, akan mem-buatmu saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu.� (Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Iman no 54, Tirmidzi dalam al-Isti'dzan�dalam pembukaannya�no 2688, Abu Dawud dalam al-Adab no.5193, Ibnu Majah dalam Muqaddimah no. 68dan al-Adab no. 3692, dan Ahmaddalamkitab al-Musnad 11/391, 442, 495, dan512)
Benar apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab: "Pertemuan dengan sahabat dapat menghilangkan duka." Sufyan pernah ditanya: "Apakah kebahagiaan hidup itu?" Ia menjawab: "Berjumpa dengan sahabat." Yang dinyatakan oleh Sufyan adalah benar, kerana menurut pepatah: "Sahabat yang tulus ibarat perhiasan di kala senang, benteng kukuh di kala susah. Jika melihatnya, hati merasa senang, jiwa menjadi tenang, dan duka pun sirna." Perasaan tulus adalah yang membuat seseorang sanggup mengutamakan kepentingan sahabat dari kepentingannya sendiri, sekalipun harus mempertaruhkan nyawanya. Ia meng-khawatirkan sahabatnya lebih dari kekhawatiran terhadap diri-nya sendiri, bersimpati atas semua musibah dan penderitaan yang dialaminya.
Seorang ulama� salaf berkata: "Jika seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku benar- benar tidak boleh tinggal diam." (Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Mukhlar minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. l43, dan al-'Iqdu al-Farid II/163, di dalamnya dinyatakan bahawa Sa'id bin , al-'Ash berkata: "Sesungguhnya aku merasa risih jika ada seekor lalat yang terbang di depan sahabatku, kerana khawatir membuatnya terganggu.")
Seorang Mukmin yang tulus cintanya, sanggup dan rela mengorbankan hartanya demi membantu meringankan beban saudaranya. Bahkan ketulusan cintanya dapat mendorongnya untuk mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan sahabatnya. Contoh-contoh yang menggambarkan ketulusan seperti ini sangat banyak dan terkenal, terutama dalam kehidupan para sahabat Nabi yang mulia, juga generasi salaf yang shalih.
Salah satunya adalah peristiwa pertemuan monumental antara kalangan Muhajirin dan Anshar, yang tidak memiliki hubungan kekerabatan atau keturunan, melainkan hubungan aqidah dan ukhuwah iman. Kalangan Anshar sebagai penduduk kota Madinah, menumpahkan ketulusan cinta dan ukhuwah, mereka berlumba-lumba menawarkan tempat tinggal untuk membantu kaum Muhajirin, berbagi harta benda yang mereka miliki. Bahkan di antara kalangan Anshar ada yang sanggup menceraikan salah seorang isterinya agar saudaranya dari kalangan Muhajirin dapat menikah, (Contohnya adalah sebuah riwayat yang dicatat oleh Bukhari dalam bab an-Nikah no. 5072 dari Anas bin Malik, ia berkata: "Ketika Abdurrahman bin 'Auf datang ke Madinah, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Sa'ad bin ar-Rabi' dari kalangan Anshar. Pada saat itu, Sa'ad memiliki dua isteri, lalu ia menawarkan untuk berbagi separuh harta dan salah satu isterinya kepada Abdurrahman. Namun Abdurrahman menolak, seraya berkata: "Semoga Allah menganugerahi keberkahan kepadamu, keluarga, dan hartamu. Tunjukkanlah aku, di mana letak pasar...?" Ibnu Hajar (Fathul-Bari IX/9) berkomentar: "Hadith tersebut menjelaskan besarnya itsar (mengutamakan pihak lain) yang ditunjukkan oleh para sahabat, bahkan menyangkut masalah jiwa dan keluarga." Hadith tersebut akan di-takhrij setelah ini) dan ada pula yang menghibahkan harta paling berharga yang dimilikinya untuk saudaranya.
Al-Waqidi (sejarawan Muslim klasik�Penj.) mencatat bahawa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi salam beranjak pindah dari perkampungan Bani 'Amr bin 'Auf di Quba' menuju Madinah, sahabat-sahabatnya dari kalangan Muhajirin pun ikut serta pindah. Maka ketika melihat kedatangan mereka, kaum Anshar berebut menawarkan tempat tinggal untuk mereka, sehingga untuk mendapatkan seorang Muhajir, mereka membuat undian dengan menggunakan anak panah. Pada akhirnya, tidak satu pun di antara kalangan Muhajirin ynng memilih tempat tinggal kecuali melalui proses undian tersebut. (Peristiwa undian untuk menetapkan tempat tinggal kalangan Muhajirin di antara kaumAnshar dinyatakan dihraShahihul-Bukhari. Bukhari meriwayatkannya dalam al-Jana�iz no. 1243, dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit bahawa Umm al-'Ala'�salah seorang wanita yang membai'at Rasulullah sallallahu alaihi wasalam �bercerita kepadanya bahawa: "Kaum Muhajirin dibagi-bagikan sesuai dengan undian. Kebetulan kami mendapatkan Utsman bin Mazh'un, maka kami menempatkannya di rumahkami..."Jugadiriwayatkan dalam Manaqibul-Anshar no. 3929, dan dalam asy-Syahadat no. 2687. dengan redaksi: "Panah�atas nama�Utsman bin Mazh'un jatuh di sebuah rumah ketika kaum Anshar sedang mengundi tempat tinggal bagi kaum Muhajirin." Umm al-'Ala' berkata: "Maka tinggallah Utsman bin Mazh'un di rumah kami..." Juga dalam kitabat-Ta'bir no. 7003, dengan lat'azh: "Umm al-'Ala' menceritakan kepadanya tentang peristiwa pengundian untuk menempatkan kaumMuhajirin. Umm al-'Ala' berkata: "Sementara kami mendapatkan undian�atas nama�Utsman bin Mazh'un, maka kami menempatkannya di rumah kami." Di dalam kitab yang sama no. 7018, dengan redaksi: "Kami mendapatkan panah undian� atas nama� Utsman bin Mazh'un jatuh di rumah kami, dalam peristiwa pengundian yang dilakukan oleh kaum Anshar untuk menempatkan kaum Muhajirin." Lihat penuturan kisah ini dalam buku Dirasat fis-Sirah am-Nabawiyyah, karya DR. Imaduddin Khalil, hlm. 153) Demikianlah, Islam menyatukan ruh ukhuwah dalam gambaran yang sangat menakjubkan, seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nescaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka" (al-Anfal |8|: 63).
Sungguh, peristiwa tersebut merupakan sebuah pertemuan akbar yang direstui oleh Allah dalam lembaran sejarah, ditulis dalam catatan abadi dan menjadi kebanggaan sepanjang masa. Sebuah pertemuan antara cinta pengorbanan aqidah dan iman. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orangyang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kalangan Muhajirin); dan mereka mengutamakan (kalangan Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka sangat memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (al-Hasyr [59]: 9).
Coba renungkan, perasaan macam apakah yang terjalin antara para sahabat satu sama lainnya? Perasaan macam apakah yang membawa mereka mencapai tingkatan empati dan pengorbanan yang begitu tinggi? (Salah satu kisah yang berkaitan dengan empati dan pengorbanan yang dilakukan demi sahabat adalah kisah al-Harits, Hisyam dan 'Ikrimah bin Abi Jahal dan 'Iyash bin Abi Rabi'ah dalam peristiwa Perang Yarmuk ketika mereka merintih meminta air kerana kehausan. Namun setelah tiba, masing-masing mengutamakan sahabatnya untuk minum terlebih dulu, sehingga ketiganya meninggal dunia tanpa ada satu pun yang sempat minum. Kendati kisah ini sangat masyhur, namun tidak ada riwayat shahih yang mencatatnya. Salah seorang yang mencatatnya adalah Thabrani, seperti yang dinyatakan oleh al-Haitsami dalam Majma'uz-Zawa'id VI/213. Namun al-Haitsami berkomentar: "Habib (salah seorang sumber kisah) tidak mnngalami peristiwa PerangYarmuk,dan salah seorang perawinya tidak sayaketahui." Hakim meriwayatkannya dalam kitab al-Mustadrak III/242 melalui riwayat Habib pula, yaitu Ibnu Abi Tsabit. Ibnu Qutaibah menyebutkan dalam kitab 'Uyunul-Akhbar 1/462-463, dan ia berkata: "Menurutku hadith ini mahudhu' (palsu), kerana para pakar sirah (sejarah) menyatakan bahawa 'Ikrimah terbunuh dalam Perang Ajnadin, 'Iyasy meninggal di Makkah, dan al-Harits meninggal di Syam ketika terjadi wabah 'Umras." Kerana alasan inilah, kami tidak menguraikan sanad dan matan riwayat ini untuk menerangkan masalah itsar. Hanya saya ingin menerangkan beberapa komentar para ulama mengenai kisah ini, dan Allah-lah Yang Mahatahu hakikatnya. Silakan lihat juga penjelasan seputar kisah tersebut dalam majalahal-Buhuts al-Islamiyyah yang diterbitkan oleh ar-Ri'asah al-'Ammah li Idaratil-Buhuts al-'Ilmiyyah wa al-lfta' wad-Da'wah wal-Irsyad, yang bermarkas di Riyadh, vol. 22, hlm. 30-35.) Dan jika perasaan dan kasih sayang itu pudar, akankah mereka sanggup mencapai derajat tersebut?
Cinta adalah perasaan hati yang dapat mendorong manusia untuk berbuat apa saja. Hati yang penuh cinta akan menggiring seseorang untuk mengorbankan segala yang-dimilikinya, demi orang yang dicintai. Dan ketika cinta didasari oleh iman, maka ia akan menciptakan peristiwa-peristiwa yang sangat luar biasa. Renungkanlah firman Allah berikut ini yang menggambarkan sikap empati kalangan Anshar terhadap kalangan Muhajirin:
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka..." (al-Hasyr [59]: 9).
Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan cinta kalangan Anshar terhadap saudara-saudaranya dari Muhajirin, yang terlihat jelas dalam sikap empati yang ditunjukkannya. Dalam hal ini, Allah tidak menyatakan�misalnya�bahawa sikap empati kalangan Ashar terhadap Muhajirin hanya sekadar jawaban atas perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, terlepas dari perasaan cinta. Sama sekali bukan demikian, kerana sikap seperti itu tidak mencerminkan sebuah gambaran ideal hubungan antara orang-orang yang saling mencintai.
Perlakuan seseorang terhadap orang yang dicintainya harus didasari oleh dua faktor sekaligus: faktor cinta dan perasaan yang tulus pada satu sisi, dan faktor komitmen terhadap etika dan ajaran agama pada sisi lain. Kedua hal tersebut dianjurkan oleh agama dan dicontohkan oleh para sahabat, dan generasi salaf yang salih. Namun ketika batas-batas syari'ah tidak dihiraukan lagi, atau ketika perasaan menjadi dingin dan acuh, pada saat itulah bunga-bunga ukhuwah menjadi layu dan jatuh berguguran.
Cuba anda renungkan contoh kisah di bawah ini yang menggambarkan perasaan yang sangat mendalam dan membuat seseorang sangat mengkhawatirkan sahabatnya. Ia berusaha keras menjaga ketenangannya dan menunjukkan empati luar biasa terhadap sahabatnya. Kisah ini diceritakan oleh Mush'ab bin Ahmad bin Mush'ab: "Suatu ketika, Abu Muhammad al-Marwazi singgah di Baghdad dalam perjalanannya menuju Makkah. Aku sangat berharap agar dapat menemani perjalanannya, maka aku datang menemui Abu Muhammad agar merestui keinginanku, namun Abu Muhammad menolak. Begitulah, ia tetap menolak keinginanku pada tahun berikutnya.
Pada tahun berikutnya lagi (kali ketiga), Abu Muhammad datang kembali, dan seperti biasa aku menemuinya agar diizinkan dapat menemani perjalanannya menuju Makkah (menunaikan ibadah Haji�Penj.). Kali ini, Abu Muhammad setuju, ia berkata: "Aku terima permohonanmu namun dengan satu syarat: salah satu dari kita harus menjadi pemimpin perjalanan dan harus ditaati." Spontan aku menyambut: "Engkau kuangkat sebagai pemimpin perjalanan." Ia menolak, "Tidak, kamu saja!" Aku mencoba memberi alasan: "Engkau lebih tua dan lebih layak dariku." Abu Muhammad akhirnya setuju, ia berkata: "Baiklah, tapi jangan bantah keputusanku." Aku menyahut: "Ya, baiklah."
Mush'ab tidak sadar bahawa Abu Muhammad al-Marwazi mahu menjadi pemimpin perjalanan dengan tujuan agar dapat melayaninya dan bukan sebaliknya. Selain itu, agar menjadi pelajaran bagi setiap pemimpin agar memposisikan diriya sebagai pelayan, penuh cinta, dan kasih sayang kepada orang-orang yang dipimpin.
Mush'ab melanjutkan ceritanya: "Lalu kami berangkat, dan sepanjang perjalanan, Abu Muhammad selalu mendahulukan aku untuk makan. Jika aku protes, ia menjawab: 'bukankah kita telah menyepakati sebuah syarat, bahawa engkau tidak boleh membantah keputusan yang aku buat?!' Demikianlah selama perjalanan; aku menyesal telah menemaninya, kerana membuatnya menderita."
Pada suatu hari, ketika kami tengah melanjutkan perjalanan, tiba-tiba hujan yang sangat deras turun mengejutkan kami. Abu Muhammad berkata: "Hai Abu Ahmad (nama panggilan untuk Mush'ab), cepat cari mil (Mil adalah batu yang dipancangkan dengan posisi berdiri sebagai tanda bagi musafir�terutama di jalan yang menuju arah Makkah�untuk menunjuk-kan jarak tempuh perjalanan. Jarak antara satu mil dengan lainnya adalah sejauh batas pandangan mata. Lihat: Min Akhlaqis-Salaf, hlm. 112. Dalam kamus Lisanul-'Arab disebutkan: rambu-rambu yang dibuat sepanjang jalan menuju Makkah. Disebut dengan amyal (bentukjamak dari kata mil�Penj.), kerana rambu tersebut dipancangkan dengan jarak sejauh batas pandangan mata antara satu mil dengan mil lainnya. Jadi mil adalah bangunan tinggi (menara) sebagai rambu bagi para musafir yang didirikan di jalan-jalan utama. Lihat: Lisanul-'Arab, hlm. 4311. ) yang paling dekat dari sini." Setelah berhasil menemukannya, Abu Muhammad kembali mengeluarkan perintah agar aku duduk pada asas mil, sementara ia menjulurkan dua tangannya menyentuh hujung bagian atas mil, ia berdiri dengan posisi miring dan menggeraikan jubah untuk melindungiku dari curahan deras air hujan. Melihat keadaannya, aku betul-betul menyesal. Andaikan aku tidak ikut, mungkin ia tidak akan menderita seperti itu. Begitulah perlakuan Abu Muhammad terhadapku sehingga kami sampai di kota Makkah. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya. (Min Akhlaqis-Salaf, hlm. 112, dinukil dari Shifatush-Shafwah IV/148-149. 49 )
Perasaan yang tulus akan mendorong seseorang untuk mendoakan sahabatnya ketika berpisah dan menyebut nama-nya dalam waktu-waktu terkabulnya doa. Sebagai contoh, Imam Ahmad pernah mendoakan beberapa sahabatnya di keheningan sepertiga malam terakhir dengan menyebut nama-nama mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun menganjurkan agar kita melakukannya. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menambah keutuhan ukhuwah dan cinta yang terjalin antara kaum Muslim, kecuali Nabi akan mengajarkannya. Beliau bersabda: �Doa seorang Muslim untuk kebaikan saudaranya yang dilakukan dari kejauhan, nescaya akan dikabulkan.� (Diriwayatkan oleh Muslim dalam adz-Dzikr wad-Du'a no. 2732 dan 2733, Ibnu Majah dalam al-Manasik no. 2895, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad V/195. 50 )
Jarang orang yang teringat saudara dan segala musibah yang dialaminya manakala hatinya jauh dari perasaan hangat dan kasih sayang. Orang seperti ini, jarang berdoa untuknya dari kejauhan, kecuali ketika ia memiliki kepentingan terhadap saudaranya tersebut, atau terjadi perselisihan antara kedua-nya, lalu berdoa agar ia kembali berbaik hati dan akur. Dengan demikian, orang yang berdoa seperti itu, secara subjektif berharap agar saudaranya mahu menerima dan mengakhiri perselisihan. Ia mencuba untuk menciptakan citra baik dengan doanya dalam setiap kesempatan dengan mengatakan:
"Sesungguhnya si Fulan, yang kalian kira berselisih denganku, adalah orang yang sangat kucintai, aku mendoakannya dari kejauhan." Seandainya ia ditanya: "Apa yang engkau doakan untuknya dari kejauhan itu?" Ia menjawab: "Aku berdoa semoga ia mendapat petunjuk dan mahu mengakui kebenaran." Atau dengan ungkapan-ungkapan semisalnya.
Ucapan seperti di atas, sama sekali tidak menunjukkan rasa cinta, melainkan cenderung berkonotasi menghina ketimbang mencintai. Ia menjadikan doa sebagai kesempatan untuk merendahkannya, menempatkannya dalam posisi orang yang sesat, tidak kredibel, menyimpang dan bodoh. Oleh kerananya, bersamaan dengan doa tersebut�misalnya, ia tidak mendoakannya agar Allah membalasnya dengan syurga Firdaus atau menemukan kebahagiaan dengan kekayaan, anak dan keluarganya, memberi keberkahan terhadap umurnya, mendapat kesejahteraan yang sempurna di dunia dan akhirat, atau doa-doa yang lazim diucapkan oleh seseorang untuk orang yang dicintainya.
Perasaan yang hangat mendorong setiap orang untuk memenuhi hak sahabatnya sebelum ditegur atau diingatkan oleh orang lain, membelanya ketika ia dibicarakan dalam suatu forum yang tidak dihadiri olehnya, ringan badan untuk membantu pekerjaan dan keperluannya, menyukainya seperti ia menyukai dirinya sendiri, turut bahagia atas nikmat yang ia terima, sama seperti ketika ia menerimanya. Hatinya bersih dari segala bentuk dengki, iri, makar, atau penghinaan. Hatinya tulus, setulus nurani burung-burung di angkasa.
Semua perasaan hati tersebut dianjurkan oleh Rasulullah shailallahu 'alaihi wa sallam, agar kita memiliki hati yang bersih, dan pada sisi lain beliau memperingatkan kita agar waspada terhadap jebakan-jebakan penyakitnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: �Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai apa-apa yang ada pada saudaranya seperti mencintai apa-apa yang ada pada dirinya.� (Lihat takhrij-nya pada footnote no. 46)
Dalam riwayat lain, beliau bersabda:
�Akan masuk syurga orang yang nuraninya seperti nurani burung.� ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Jannah wa Shifatu Na'imiha waAhliha no. 2840, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad 11/331.)
Juga sabda beliau:
"Atas dasar apakah, salah seorang di antara kamu membunuh saudaranya�memandang dengan penuh kedengkian? Jika kamu menyaksikan sesuatu yang menarik pada diri sau-daramu, maka berdoalah dengan memohon keberkahan untuknya. " (Redaksi hadith ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam ath-Thibb no. 3509, Malik dalam kitab al-Muwaththa bab al-'Ain II/938 dan 939, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad III/447. Dalam hadith tersebut terdapat suatu kisah, dan riwayatnya dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 2828, dan Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 4020)
Perasaan yang tulus akan mendorong seseorang untuk segera membesarkan hati saudaranya agar bahagia. Ia berusaha agar menjadi orang pertama yang melakukannya, kerana merasa senang jika melihat saudaranya berbahagia. Ia segera mengucapkan selamat ketika saudaranya mendapat nikmat.
Dalam hal ini, kita mempunyai contoh dalam kisah taubat-nya Ka'b bin Malik yang akan dituturkan dalam pembahasan yang akan datang.
Perasaan yang tulus mendorong seseorang untuk menjadikan hasratnya sama dengan hasrat saudaranya, juga menyukai apa-apa yang disukainya. Seorang penyair berkata:
jiwanya adalah jiwaku, jiwaku adalah jiwanya
hasratnya adalah hasratku, hasratku adalah hasratnya (Mereka berdua seakan satu ruh atau satu jiwa. Tentunya hal ini tidak boleh bertentangan dengan ketentuan syari'at dan tidak meninggalkan suatu fadhilah atau maslahat yang diatur oleh syari'at. Adapun penyatuan atau peleburan yang mutlak, kami tidak menyetujuinya. Bait puisi di atas diambil dari kitab al-Mukhtar minash-Shadaqah wash-Shadiq, karya Abu Hayyan at-Tauhidi, hlm. 48. )
Perasaan yang tulus membuat seseorang merasa sangat kehilangan ketika berjauhan. Ia tersiksa kerana berpisah dengannya. Perasaan ini diabadikan oleh seorang penyair dalam untaian puisi, ketika ia menangisi kepergian sahabatnya:
ketika kita harus berpisahantara aku dan engkauseperti aku dengan seorang rajakerana telah lama kita selalu bersamanamun kini kita lalui malam tanpa kebersamaan Atau seperti yang dinyatakan oleh seorang penyair:
aku sang musafir dengan dua jiwa
jiwa pertama ikut bersama
sedang jiwa kedua tergadai sahabat dan saudara
Penyair lain mengatakan:
semua nestapa yang menimpa sepanjang masa
kurasa ringan tak bererti
kecuali perpisahan dengan orang-orang tercinta
Betapa harunya perpisahan antara orang-orang yang saling mencintai, baik setelah berpisah atau ketika awal perpisahan. Seorang penyair melukiskan:
biarkanlah kata sabar menghiasi ucapan perpisahan
dari orang yang memendam rindu kepada dirimu
menyesal atas semua yang telah berlalu
kerana tiada bekal untuk perjalanan abadi
Penyair lain berkata:
wahai Abu Bakar
sekalipun beribu peristiwa dan jarak memisahkau kita
kami ta kpernah kehilangan nyawa
hanya gelura rindu yang menyesak di dada
diriku hampa kerana tulus cintamu kini tiada
juga budi luhur yang menyingkap awan
penutup purnama
ketika kuhantarkan dirinya ke gerbang perpisahan
seakan kuhantar jasad orang tua ke haribaan abadi
ketika kulepas dengan lambaian perpisahan
seakan jiwaku sedang melepas seluruh
kebahagiaan diri
tak sanggup kutatap kepergiannya
kerana tatapan hanya menambah pilu tak terperi
dulu, sebulan bagaikan sehari
namun kini, sehari bagaikan bulan-bulan
yang tak henti
Perasaan yang tulus membuat seseorang sangat memahami erti sahabat, sehingga menganggap perpisahan dengannya sebagai kerugian terbesar dan kesepian yang tak terhingga.
Ali bin Abu Thalib berkata kepada putranya, al-Hasan: "Anakku, orang asing adalah yang tidak mempunyai sahabat yang dicintai."
Ibnul-Mu'taz berkata: "Orang yang berhasil menjalin tali persaudaraan, nescaya mereka akan menjadi penolong terdekatnya."
Berkata Khalid bin Shafwan: "Manusia yang paling lemah adalah yang enggan bersahabat, dan lebih lemah lagi, orang yang memutuskan tali persahabatan yang pernah terjalin."
Seorang bijak mengatakan: "Harta karun yang paling berharga adalah sahabat sejati." Yang lain berkata: "Sahabat yang suka membantu adalah ibarat lengan dan siku." Seorang penyair berkata:
banyak orang mempunyai beragam angan-angan
sedang angan-anganku dalam kehidupan
hanya seorang sahabat yang rela berbagi nasib
kami berdua laksana satu ruh
yang dibagi untuk dua tubuh
tubuh kam idua
namun ruh kami satu
Menurut al-Kindi: "Sahabat adalah seorang manusia, dia ini kamu, hanya saja dia adalah orang lain."
Abu Ayyub as-Sikhtiyani berkata: "Jika aku mendengar kematian seorang sahabat, seakanakan salah satu organ tubuhku terlepas." (Uyunul-Akhbar,III/4.)
Orang bijak mengatakan: "Barangsiapa enggan menjalin persahabatan, nescaya hidupnya dipenuhi permusuhan dan kehinaan. Aku bersaksi bahawa sahabat sejati adalah kekayaan yang paling berharga dan bekal yang paling istimewa, kerana ia adalah sebagian dari jiwa dan penghapus duka." Sementara pepatah bijak lainnya menyatakan: "Seringkali seorang sahabat lebih dicintai daripada saudara kandung sendiri."
Mu'awiyah pernah ditanya: "Apa yang paling engkau sukai?" Ia menjawab: "Seorang sahabat yang mendorongku agar mencintai rakyat." (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 166.)
Ibnul-Mu'taz berkata: "Orang yang dekat terasa jauh kerana permusuhan, sementara orang yang jauh terasa dekat kerana cinta dan kasih sayang."
Seorang penyair berkata:
kaum kerabat seringkali mengkhianatimu
namun orang yang sanggup memenuhi janji
justru orang yang tak senasab denganmu
Perasaan yang tulus membuat seseorang tak bergeming untuk mempertahankan keutuhan ukhuwah, sekalipun kesetiaan sahabatnya mulai pudar. Orang yang penuh rasa cinta senantiasa ingin berada dekat dengan sahabatnya, jika terpaksa harus berpisah, ia tak pernah berhenti mendoakannya. Itulah puncak cinta, ketulusan, dan kesetiaan. Seorang penyair melukiskan:
jika seseorang mencintaiku,
maka akan kubalas
dengan ketulusan cinta sepanjang masa
namun ketika ia mulai menjauhisementara cintaku terus bersemikupanjatkan doa kepada Ilahiagar memberi petunjuk yang menerangi (Raudhatul-'Uqala, hlm. 207)
Dalam puisinya, Imam Syafi'i berkata:
pepatah mengatakan: jadilah dirimu sebagai anjingia sering dihalau jauh oleh tuannyanamun tak pernah bosan mematuhi perintahnya
Pepatah di atas menjelaskan bahawa seekor anjing, meski sering dipukul, dihalau, bahkan diusir oleh tuannya, namun tetap setia dan semakin dekat. Kisah Ashhabul-Kahfi bersama anjingnya merupakan contoh yang mesti direnungkan dan diambil pelajaran. (Dengan sedikit perubahan redaksional dari al-Mukhtar minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 115. Sementara bait puisi di atasnya dinyatakan oleh Ibnul-Qayyim dalam kitab Ighatsatut-Lahfan 1/89, ia menisbatkannya kepada asy-Syathibi. ) Satu hal yang perlu diperhatikan, beberapa orang yang hatinya dipenuhi kecintaan terhadap sahabat, sanggup berpisah atau�jelasnya�menjauhkan diri dari sahabatnya, meskipun penuh keberatan dan pengorbanan perasaan, dengan alasan agar dapat membahagiakan sahabatnya tersebut dan membuatnya lebih tenang, bukan disebabkan oleh rasa marah atau benci.
Seorang penyair menggambarkan hal ini:
kurasa engkau selalu menjauh dariku
maka aku pun menjauh seperti yang kau mahu
jauh darimu sungguh menyakitkanku
namun kedekatanku menyakitimu
apa yang harus kulakukan wahai sahabatku
Puisi di atas mengingatkan kita kepada kenyataan adanya perbedaan tingkat cinta antara orang-orang yang bersahabat. Hal ini merupakan masalah yang berkesan sangat dalam pada diri seseorang. Maksudnya, ketika anda merasakan bahawa cinta sahabatmu tidak sebesar cintamu kepadanya. Anda tidak merasa kecewa, melainkan berbahagia, mengingat kabar gembira yang disampaikan oleh Rasuliillah sallallahu �alaihi wa sallam dalam sabdanya:
"Tidaklah dua orang yang saling mencintai kerana Allah di kejauhan, kecuali orang yang
lebih besar cintanya kepada yang lain adalah yang lebih dicintai oleh Allah Subhanahu Wa
Ta�ala.." (Lihat takhrij-nya pada footnote no. 8. 55 )
Ada orang yang merasa kecewa ketika mengetahui bahawa sahabatnya tidak memiliki cinta sebesar yang ia berikan kepadanya. Sebenarnya, dalam menghadapi masalah ini ia dituntut lebih berlapang dada dan memandangnya sebagai perkara biasa. Secara umum, kadar cinta yang dimiliki dua sahabat tidak pernah benar-benar sama, bahkan, pada kenyataannya sangat sulit untuk ditemukan di lapangan...
Ada satu contoh kisah yang sangat menarik mengenai cinta dan kerinduan seorang sahabat sejati yang diceritakan oleh Qudamah bin Ja'far. Suatu ketika tokoh dalam kisah tersebut mengirim surat kepada sahabatnya, ia berpesan: "Menurut hematku, sebaiknya engkau menentukan hari tertentu agar aku dapat mengunjungimu." Sahabatnya menjawab: "Aku khawatir tidak dapat menepati janji kerana suatu alasan yang tidak dapat kuhindari, sehingga akan menimbulkan penyesalan yang jauh lebih besar dari sekadar jarak yang memisahkan kita selama ini." Kemudian ia membalas: "Sesungguhnya aku sangat merasa bahagia walau hanya dengan janji yang kau berikan, aku tetap sabar menunggumu. Seandainya ada suatu halangan yang membuatmu tidak dapat menepatinya, maka aku tetap bahagia kerena telah mendapatkan kebahagiaanku sendiri�dengan adanya janji, dan mendapat pahala atas penyesalanmu ketika aku tidak dapat berkunjung."
Seorang sahabat yang tidak dapat membalas cintamu sebesar yang kau berikan kepadanya, biasanya didorong oleh dua faktor. Pertama, mungkin pada dasarnya ia tidak suka bersahabat denganmu. Kedua, ia suka menjalin ukhuwah denganmu, hanya saja bahagian cintamu lebih besar dari cintanya.
Untuk faktor kedua, permasalahannya dapat diatasi dengan mudah. Anda hanya dituntut untuk menyerahkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semoga mendapat pahala dan balasan yang baik, lapangkanlah pintu maaf untuk sahabatmu. Keadaan ini merupakan nikmat dan anugerah Allah untukmu. Anda cukup mengingat khabar gembira yang dinyatakan dalam hadith terdahulu:
"Tidaklah dua orang yang saling mencintai kerana Allah di kejauhan, kecuali orang yang lebih besar cintanya kepada yang lain adalah yang lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Namun, jika sahabatmu sebetulnya memang tidak suka menjalin hubungan ukhuwah denganmu, dan respons yang selama ini ditunjukkannya hanya sekadar lip service pergaulan atau didorong oleh keterpaksaan belaka, maka tinggalkanlah. Anda tidak perlu menjalin hubungan ukhuwah yang bersifat khusus dengannya, biarkan hubunganmu dalam batas persahabatan islami yang biasa.
Saran ini dinyatakan oleh Imam Syafi'i dalam puisinya:
jika seseorang membalas persahabatanmu
dengan kepura-puraan
jauhilah danjangan terlanjur memberi belas kasihan
banyak orang yang boleh mengganti kedudukannya
dengan meninggalkan, engkau merasa lebih nyaman
hati masih sanggup menahan sabar menanti sang kekasih
walaujarak terlalujauh memisahkan
tidak semua orang yang kausuka
akan suka kepadamu
dan tidak semua orang yang kauberi kesetiaan
akan membalas dengan ketulusan
jika persahabatan tidak tercipta secara alami
apalah erti sebuah cinta yang penuh kepalsuan
apalah erti seorang sahabat
jika sanggup mengkhianati sahabatnya
berubah sikap dari cinta menjadi dendam melupakan keindahan hubungan yang pernah terjalin
membuka rahasia yang selama ini dijaga
apa erti kehidupan dunia jika tidak melahirkan
seorang sahabat nan setia, memegang janji
lagi baik hati
Dalam sebuah hadith shahih, A'isyah radhiyalla.hu 'anha menceritakan bahawa pada suatu saat, seorang dari kaum Anshar datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seraya berkata: "Wahai Rasulullah, sungguh engkau adalah orang yang lebih kucintai dari diriku sendiri, keluarga dan anakku. Ketika berada di rumah, aku selalu teringat denganmu, gejolak rinduku tak sanggup kutahan untuk menemuimu dan melihatmu. Namun jika teringat masa kematianku dan ajalmu, engkau pasti masuk syurga dengan derajat yang paling tinggi bersama para Nabi lainnya, sementara aku, seandainya masuk syurga pun, aku khawatir tidak dapat bertemu denganmu lagi." (Menurut al-Haitsami dalam kitab Majma'uz-Zawa'id VII/7: "Hadith ini diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab ash-Shaghirdan al-Ausath,sanad-nya sama dengan sanad kitab ash-Shahih, selain Abdullah bin Imran al-'Abidi, dan ia adalah tsiqah" JugaAbu Nu'aim dalam kitab al-Hilyah IV/240 dan VIII/125. Ibnu Katsir (Tafsir Ibni Kalsir 1/495) menambahkan bahawa hadithtersebut dinisbatkan juga kepada Ibnu Mardawaih dan al-Hafizh Abu Abdillah al-Maqdisi di dalam kitab Shifatul-Jarmah; iamengatakan: "Saya tidak menemukan cela dalam sanad-nya." Dan SyaikhMuqbil menyebutkan-nya dalam kitab ash-Shahih al-Musnad min Asbabin-Nuzul, hlm. 70-71)
Jika semua makna cinta yang mengikat hati orang Anshar tersebut dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hanya berkisar dalam ketaatan, maka akan berakhir dalam batasan kehidupan dunia saja, kerana tidak ada taklif di syurga. Namun orang tersebut di atas, memiliki gejolak perasaan dan kerinduan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak terputus atau pupus kerana berakhirnya masa taklif.
Dalam riwayat lain dinyatakan bahawa suatu saat datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seseorang dengan wajah murung dirundung duka, maka Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Wahai Fulan, apa yang membuatmu sedih?" Ia menjawab: "Wahai baginda Nabi, aku sedih kerana memikirkan sesuatu." Rasullullah bertanya lagi: Apakah gerangan?" Ia menjawab: "Selama ini kami datang dan pergi menemuimu, menatap wajahmu dan berkumpul denganmu. Namun nanti di alam akhirat engkau berada pada kedudukan yang lindungi bersama para Nabi, kami tidak sanggup mencapai derajat itu. "Sejenak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diam, sehingga datang Jibril dan mewahyukan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala kepadanya:
"Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang paling baik" (an-Nisa' [4]: 69).
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikan khabar gembira itu kepada sahabat yang bertanya tersebut. (Riwayat ini dinyatakan oleh Ibnu Jarir di dalam kitab Tafsirnya VIII/534/ 9924 dari riwayat Sa'id bin Jabir. Dengan demikianriwayat tersebut adalah mursal, namun diperkuat oleh hadith sebelumnya)
Cuba renungkan, apa yang mengusik hati sahabat tersebut, padahal ia telah masuk syurga dan merasakan kenikmatannya? Ia ingin berjumpa kembali dengan Rasullullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sungguh merupakan cinta kasih yang agung dan perasaan tulus yang begitu menggelora. Suatu perasaan yang tidak hanya menjadikan para sahabat merindukan peribadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, melainkan kerinduan terhadap sesama mereka. Perasaan yang membuat peribadi agung seperti Umar bin Khaththab tidak mampu memejamkan mata kerana teringat dan merindukan sahabatnya. Ia hitung detik jarum waktu (malam) menuju Subuh, sehingga ketika sang suria menjelang, ia segera beranjak menemuinya...
Imam Ahmad dalam bukunya az-Zuhd dan Ibnu Abi Dunya dalam bukunya al-Ikhwan, menceritakan bahawa pada suatu malam Umar bin Khaththab teringat kepada seorang sahabatnya, ia terus bergumam lirih: "Mengapa malam ini terasa begitu panjang." Maka setelah menunaikan shalat Subuh, Umar segera menemui sahabatnya itu dan memeluknya dengan erat. (Imam Ahmad dalam az-Zuhd, hlm. 152.)
Itulah perasaan yang membuat seseorang merindukan saudara dan sahabatnya, sehingga berangan-angan agar tidak berpisah darinya, baik di dunia mahupun di akhirat.
Sepertinya begitu indah untaian bait seorang penyair berikut ini:
duhai, ingin rasanya aku tetap hidup bersama mereka
sehingga jika perpisahan harus tiba saat itulah ajalku pun tiba
rumahku ada di antara rumah-rumah mereka
di antara pusara mereka pula
jasadku terbaring
Penyair lain berkata:
tiada yang berubah pada diriku sejak kita berpisah
selain selaksa duka dan derita yang mengharu biru
adakah orang yang bahagia tinggal di rumah
nan indah
tanpa orang-orang terkasih yang mengelilinginya (Al-Mukhtar min Risalatish-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 95)
Pujangga lain bersyair:
dulu kami selalu mengunjungimu
saat itu kita sekampung, namun setelah berpisah kita harus menghitung waktu untuk menemuimu
padahal gejolak rindu hati ini tiada terperi
Sementara penyair lain berujar:
aku heran, mengapa selalu merindukan mereka menanyakan keadaannya kepada setiap orang yang kutemui padahal mereka di sini bersamaku
mataku mencari mereka kesana-kemari
padahal mereka ada di dekat pelupuknya hatiku bergejolak merindukannya padahal mereka ada di antara tulang rusukku (Minhajus-Sunnah, V/377. 44 )
Berikut ini ungkapan indah lainnya dari seorang penyair:
sekalipun wajahku tak dapat menatapmu lagi
namun cinta dan ukhuwah tidak akan pernah sirna
aku tidak akan berhenti memujimu
dari kejauhan, bersama untaian doa
jiwaku akan selalu merindukanmu
bersua bersama penuh ketulusan dan cinta
Penyair berikut ini mencoba menggambarkan kebanggaan dan kerinduan terhadap sahabat:
ketika orang yang mengasihimu ini mencium
semerbak aroma kerinduan
kedua matanya tergerak melantunkan ayat-ayat
dari surah al-Mursalat
dalam kelapangan dada ini
sesukamu engkau boleh tinggal
kerana itulah erti tertinggi bagi hati gang bersemi
dapatkah malam-malam ini membahagiakan hati kita diteruskan oleh fajar Subuh agar menghapus penantian panjang penuh duka
sahabat-sahabatku...
menjaga cinta adalah ibarat hutang
kita masih tetap seperti dahulu kala
Tidak diragukan lagi, bahawa ketulusan perasaan dapat membuatkan rasa bahagia ketika berjumpa dengan sahabat tercinta; memperlihatkan rasa bahagia ketika berjumpa boleh menumbuhkan perasaan tulus. Demikian pula dengan keceriaan, senyuman, keramahan, dan ucapan salam. Semuanya dapat mendekatkan hati dan menghangatkannya. Untuk itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: �Jangan meremehkan kebaikan dalam bentuk apapun, walau hanya dengan menampakkan keceriaan ketika berjumpa , dengan saudaramu.� (Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Bir wash-Shillah no. 2626, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad V/173, dari riwayat Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Tirmidzi dalam al-Ath'imah no. 1833, dengan tambahan pada akhir hadith: "Dan jika kamu membeli daging atau memasak sesuatu maka perbanyaklah supnya (air), dan berikanlah sebagiannya kepada tetanggamu." Riwayat ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahihul-Jami'ash-Shaghir no. 7634. Tirmidzi juga meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, bahawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap kebaikan adalah shadaqah, dan termasuk kebaikan jika kamu menampakkan wajah ceria ketika berjumpa dengan saudaramu, dan mengisi bejananya dengan air yang diambil dari embermu. "Hadith ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad III/344 dan 360, al-Baghawi dalam kitab Syarhus-Sunnah VI/143, dan ia menilainya hasan. Demikianjuga dengan al-Albani, ia menilainya hasan dalam kitab Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 4557. )
Dalam hadith lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
�Senyummu terhadap saudaramu adalah shadaqah.� (Potongan dari sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam al-liirr wash-Shillah no. 1956, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 2908, juga dalam ash-Shahihah no. 572, al-Albani jugamenisbatkannya kepada Ibnu Hibbanno. 864 dan Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad no. 128.)
Demikian pula dengan sabdanya:
�Kamu sekalian tidak akan masuk sorga sehingga beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai. Mahukah kamu, kutunjukkan sesuatu yang jika kamu lakukan, akan mem-buatmu saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu.� (Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Iman no 54, Tirmidzi dalam al-Isti'dzan�dalam pembukaannya�no 2688, Abu Dawud dalam al-Adab no.5193, Ibnu Majah dalam Muqaddimah no. 68dan al-Adab no. 3692, dan Ahmaddalamkitab al-Musnad 11/391, 442, 495, dan512)
Benar apa yang dikatakan oleh Umar bin Khaththab: "Pertemuan dengan sahabat dapat menghilangkan duka." Sufyan pernah ditanya: "Apakah kebahagiaan hidup itu?" Ia menjawab: "Berjumpa dengan sahabat." Yang dinyatakan oleh Sufyan adalah benar, kerana menurut pepatah: "Sahabat yang tulus ibarat perhiasan di kala senang, benteng kukuh di kala susah. Jika melihatnya, hati merasa senang, jiwa menjadi tenang, dan duka pun sirna." Perasaan tulus adalah yang membuat seseorang sanggup mengutamakan kepentingan sahabat dari kepentingannya sendiri, sekalipun harus mempertaruhkan nyawanya. Ia meng-khawatirkan sahabatnya lebih dari kekhawatiran terhadap diri-nya sendiri, bersimpati atas semua musibah dan penderitaan yang dialaminya.
Seorang ulama� salaf berkata: "Jika seekor lalat hinggap di tubuh sahabatku, aku benar- benar tidak boleh tinggal diam." (Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Mukhlar minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. l43, dan al-'Iqdu al-Farid II/163, di dalamnya dinyatakan bahawa Sa'id bin , al-'Ash berkata: "Sesungguhnya aku merasa risih jika ada seekor lalat yang terbang di depan sahabatku, kerana khawatir membuatnya terganggu.")
Seorang Mukmin yang tulus cintanya, sanggup dan rela mengorbankan hartanya demi membantu meringankan beban saudaranya. Bahkan ketulusan cintanya dapat mendorongnya untuk mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan sahabatnya. Contoh-contoh yang menggambarkan ketulusan seperti ini sangat banyak dan terkenal, terutama dalam kehidupan para sahabat Nabi yang mulia, juga generasi salaf yang shalih.
Salah satunya adalah peristiwa pertemuan monumental antara kalangan Muhajirin dan Anshar, yang tidak memiliki hubungan kekerabatan atau keturunan, melainkan hubungan aqidah dan ukhuwah iman. Kalangan Anshar sebagai penduduk kota Madinah, menumpahkan ketulusan cinta dan ukhuwah, mereka berlumba-lumba menawarkan tempat tinggal untuk membantu kaum Muhajirin, berbagi harta benda yang mereka miliki. Bahkan di antara kalangan Anshar ada yang sanggup menceraikan salah seorang isterinya agar saudaranya dari kalangan Muhajirin dapat menikah, (Contohnya adalah sebuah riwayat yang dicatat oleh Bukhari dalam bab an-Nikah no. 5072 dari Anas bin Malik, ia berkata: "Ketika Abdurrahman bin 'Auf datang ke Madinah, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Sa'ad bin ar-Rabi' dari kalangan Anshar. Pada saat itu, Sa'ad memiliki dua isteri, lalu ia menawarkan untuk berbagi separuh harta dan salah satu isterinya kepada Abdurrahman. Namun Abdurrahman menolak, seraya berkata: "Semoga Allah menganugerahi keberkahan kepadamu, keluarga, dan hartamu. Tunjukkanlah aku, di mana letak pasar...?" Ibnu Hajar (Fathul-Bari IX/9) berkomentar: "Hadith tersebut menjelaskan besarnya itsar (mengutamakan pihak lain) yang ditunjukkan oleh para sahabat, bahkan menyangkut masalah jiwa dan keluarga." Hadith tersebut akan di-takhrij setelah ini) dan ada pula yang menghibahkan harta paling berharga yang dimilikinya untuk saudaranya.
Al-Waqidi (sejarawan Muslim klasik�Penj.) mencatat bahawa ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi salam beranjak pindah dari perkampungan Bani 'Amr bin 'Auf di Quba' menuju Madinah, sahabat-sahabatnya dari kalangan Muhajirin pun ikut serta pindah. Maka ketika melihat kedatangan mereka, kaum Anshar berebut menawarkan tempat tinggal untuk mereka, sehingga untuk mendapatkan seorang Muhajir, mereka membuat undian dengan menggunakan anak panah. Pada akhirnya, tidak satu pun di antara kalangan Muhajirin ynng memilih tempat tinggal kecuali melalui proses undian tersebut. (Peristiwa undian untuk menetapkan tempat tinggal kalangan Muhajirin di antara kaumAnshar dinyatakan dihraShahihul-Bukhari. Bukhari meriwayatkannya dalam al-Jana�iz no. 1243, dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit bahawa Umm al-'Ala'�salah seorang wanita yang membai'at Rasulullah sallallahu alaihi wasalam �bercerita kepadanya bahawa: "Kaum Muhajirin dibagi-bagikan sesuai dengan undian. Kebetulan kami mendapatkan Utsman bin Mazh'un, maka kami menempatkannya di rumahkami..."Jugadiriwayatkan dalam Manaqibul-Anshar no. 3929, dan dalam asy-Syahadat no. 2687. dengan redaksi: "Panah�atas nama�Utsman bin Mazh'un jatuh di sebuah rumah ketika kaum Anshar sedang mengundi tempat tinggal bagi kaum Muhajirin." Umm al-'Ala' berkata: "Maka tinggallah Utsman bin Mazh'un di rumah kami..." Juga dalam kitabat-Ta'bir no. 7003, dengan lat'azh: "Umm al-'Ala' menceritakan kepadanya tentang peristiwa pengundian untuk menempatkan kaumMuhajirin. Umm al-'Ala' berkata: "Sementara kami mendapatkan undian�atas nama�Utsman bin Mazh'un, maka kami menempatkannya di rumah kami." Di dalam kitab yang sama no. 7018, dengan redaksi: "Kami mendapatkan panah undian� atas nama� Utsman bin Mazh'un jatuh di rumah kami, dalam peristiwa pengundian yang dilakukan oleh kaum Anshar untuk menempatkan kaum Muhajirin." Lihat penuturan kisah ini dalam buku Dirasat fis-Sirah am-Nabawiyyah, karya DR. Imaduddin Khalil, hlm. 153) Demikianlah, Islam menyatukan ruh ukhuwah dalam gambaran yang sangat menakjubkan, seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nescaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka" (al-Anfal |8|: 63).
Sungguh, peristiwa tersebut merupakan sebuah pertemuan akbar yang direstui oleh Allah dalam lembaran sejarah, ditulis dalam catatan abadi dan menjadi kebanggaan sepanjang masa. Sebuah pertemuan antara cinta pengorbanan aqidah dan iman. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orangyang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kalangan Muhajirin); dan mereka mengutamakan (kalangan Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka sangat memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (al-Hasyr [59]: 9).
Coba renungkan, perasaan macam apakah yang terjalin antara para sahabat satu sama lainnya? Perasaan macam apakah yang membawa mereka mencapai tingkatan empati dan pengorbanan yang begitu tinggi? (Salah satu kisah yang berkaitan dengan empati dan pengorbanan yang dilakukan demi sahabat adalah kisah al-Harits, Hisyam dan 'Ikrimah bin Abi Jahal dan 'Iyash bin Abi Rabi'ah dalam peristiwa Perang Yarmuk ketika mereka merintih meminta air kerana kehausan. Namun setelah tiba, masing-masing mengutamakan sahabatnya untuk minum terlebih dulu, sehingga ketiganya meninggal dunia tanpa ada satu pun yang sempat minum. Kendati kisah ini sangat masyhur, namun tidak ada riwayat shahih yang mencatatnya. Salah seorang yang mencatatnya adalah Thabrani, seperti yang dinyatakan oleh al-Haitsami dalam Majma'uz-Zawa'id VI/213. Namun al-Haitsami berkomentar: "Habib (salah seorang sumber kisah) tidak mnngalami peristiwa PerangYarmuk,dan salah seorang perawinya tidak sayaketahui." Hakim meriwayatkannya dalam kitab al-Mustadrak III/242 melalui riwayat Habib pula, yaitu Ibnu Abi Tsabit. Ibnu Qutaibah menyebutkan dalam kitab 'Uyunul-Akhbar 1/462-463, dan ia berkata: "Menurutku hadith ini mahudhu' (palsu), kerana para pakar sirah (sejarah) menyatakan bahawa 'Ikrimah terbunuh dalam Perang Ajnadin, 'Iyasy meninggal di Makkah, dan al-Harits meninggal di Syam ketika terjadi wabah 'Umras." Kerana alasan inilah, kami tidak menguraikan sanad dan matan riwayat ini untuk menerangkan masalah itsar. Hanya saya ingin menerangkan beberapa komentar para ulama mengenai kisah ini, dan Allah-lah Yang Mahatahu hakikatnya. Silakan lihat juga penjelasan seputar kisah tersebut dalam majalahal-Buhuts al-Islamiyyah yang diterbitkan oleh ar-Ri'asah al-'Ammah li Idaratil-Buhuts al-'Ilmiyyah wa al-lfta' wad-Da'wah wal-Irsyad, yang bermarkas di Riyadh, vol. 22, hlm. 30-35.) Dan jika perasaan dan kasih sayang itu pudar, akankah mereka sanggup mencapai derajat tersebut?
Cinta adalah perasaan hati yang dapat mendorong manusia untuk berbuat apa saja. Hati yang penuh cinta akan menggiring seseorang untuk mengorbankan segala yang-dimilikinya, demi orang yang dicintai. Dan ketika cinta didasari oleh iman, maka ia akan menciptakan peristiwa-peristiwa yang sangat luar biasa. Renungkanlah firman Allah berikut ini yang menggambarkan sikap empati kalangan Anshar terhadap kalangan Muhajirin:
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka..." (al-Hasyr [59]: 9).
Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan cinta kalangan Anshar terhadap saudara-saudaranya dari Muhajirin, yang terlihat jelas dalam sikap empati yang ditunjukkannya. Dalam hal ini, Allah tidak menyatakan�misalnya�bahawa sikap empati kalangan Ashar terhadap Muhajirin hanya sekadar jawaban atas perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, terlepas dari perasaan cinta. Sama sekali bukan demikian, kerana sikap seperti itu tidak mencerminkan sebuah gambaran ideal hubungan antara orang-orang yang saling mencintai.
Perlakuan seseorang terhadap orang yang dicintainya harus didasari oleh dua faktor sekaligus: faktor cinta dan perasaan yang tulus pada satu sisi, dan faktor komitmen terhadap etika dan ajaran agama pada sisi lain. Kedua hal tersebut dianjurkan oleh agama dan dicontohkan oleh para sahabat, dan generasi salaf yang salih. Namun ketika batas-batas syari'ah tidak dihiraukan lagi, atau ketika perasaan menjadi dingin dan acuh, pada saat itulah bunga-bunga ukhuwah menjadi layu dan jatuh berguguran.
Cuba anda renungkan contoh kisah di bawah ini yang menggambarkan perasaan yang sangat mendalam dan membuat seseorang sangat mengkhawatirkan sahabatnya. Ia berusaha keras menjaga ketenangannya dan menunjukkan empati luar biasa terhadap sahabatnya. Kisah ini diceritakan oleh Mush'ab bin Ahmad bin Mush'ab: "Suatu ketika, Abu Muhammad al-Marwazi singgah di Baghdad dalam perjalanannya menuju Makkah. Aku sangat berharap agar dapat menemani perjalanannya, maka aku datang menemui Abu Muhammad agar merestui keinginanku, namun Abu Muhammad menolak. Begitulah, ia tetap menolak keinginanku pada tahun berikutnya.
Pada tahun berikutnya lagi (kali ketiga), Abu Muhammad datang kembali, dan seperti biasa aku menemuinya agar diizinkan dapat menemani perjalanannya menuju Makkah (menunaikan ibadah Haji�Penj.). Kali ini, Abu Muhammad setuju, ia berkata: "Aku terima permohonanmu namun dengan satu syarat: salah satu dari kita harus menjadi pemimpin perjalanan dan harus ditaati." Spontan aku menyambut: "Engkau kuangkat sebagai pemimpin perjalanan." Ia menolak, "Tidak, kamu saja!" Aku mencoba memberi alasan: "Engkau lebih tua dan lebih layak dariku." Abu Muhammad akhirnya setuju, ia berkata: "Baiklah, tapi jangan bantah keputusanku." Aku menyahut: "Ya, baiklah."
Mush'ab tidak sadar bahawa Abu Muhammad al-Marwazi mahu menjadi pemimpin perjalanan dengan tujuan agar dapat melayaninya dan bukan sebaliknya. Selain itu, agar menjadi pelajaran bagi setiap pemimpin agar memposisikan diriya sebagai pelayan, penuh cinta, dan kasih sayang kepada orang-orang yang dipimpin.
Mush'ab melanjutkan ceritanya: "Lalu kami berangkat, dan sepanjang perjalanan, Abu Muhammad selalu mendahulukan aku untuk makan. Jika aku protes, ia menjawab: 'bukankah kita telah menyepakati sebuah syarat, bahawa engkau tidak boleh membantah keputusan yang aku buat?!' Demikianlah selama perjalanan; aku menyesal telah menemaninya, kerana membuatnya menderita."
Pada suatu hari, ketika kami tengah melanjutkan perjalanan, tiba-tiba hujan yang sangat deras turun mengejutkan kami. Abu Muhammad berkata: "Hai Abu Ahmad (nama panggilan untuk Mush'ab), cepat cari mil (Mil adalah batu yang dipancangkan dengan posisi berdiri sebagai tanda bagi musafir�terutama di jalan yang menuju arah Makkah�untuk menunjuk-kan jarak tempuh perjalanan. Jarak antara satu mil dengan lainnya adalah sejauh batas pandangan mata. Lihat: Min Akhlaqis-Salaf, hlm. 112. Dalam kamus Lisanul-'Arab disebutkan: rambu-rambu yang dibuat sepanjang jalan menuju Makkah. Disebut dengan amyal (bentukjamak dari kata mil�Penj.), kerana rambu tersebut dipancangkan dengan jarak sejauh batas pandangan mata antara satu mil dengan mil lainnya. Jadi mil adalah bangunan tinggi (menara) sebagai rambu bagi para musafir yang didirikan di jalan-jalan utama. Lihat: Lisanul-'Arab, hlm. 4311. ) yang paling dekat dari sini." Setelah berhasil menemukannya, Abu Muhammad kembali mengeluarkan perintah agar aku duduk pada asas mil, sementara ia menjulurkan dua tangannya menyentuh hujung bagian atas mil, ia berdiri dengan posisi miring dan menggeraikan jubah untuk melindungiku dari curahan deras air hujan. Melihat keadaannya, aku betul-betul menyesal. Andaikan aku tidak ikut, mungkin ia tidak akan menderita seperti itu. Begitulah perlakuan Abu Muhammad terhadapku sehingga kami sampai di kota Makkah. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya. (Min Akhlaqis-Salaf, hlm. 112, dinukil dari Shifatush-Shafwah IV/148-149. 49 )
Perasaan yang tulus akan mendorong seseorang untuk mendoakan sahabatnya ketika berpisah dan menyebut nama-nya dalam waktu-waktu terkabulnya doa. Sebagai contoh, Imam Ahmad pernah mendoakan beberapa sahabatnya di keheningan sepertiga malam terakhir dengan menyebut nama-nama mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun menganjurkan agar kita melakukannya. Tidak ada sesuatu pun yang dapat menambah keutuhan ukhuwah dan cinta yang terjalin antara kaum Muslim, kecuali Nabi akan mengajarkannya. Beliau bersabda: �Doa seorang Muslim untuk kebaikan saudaranya yang dilakukan dari kejauhan, nescaya akan dikabulkan.� (Diriwayatkan oleh Muslim dalam adz-Dzikr wad-Du'a no. 2732 dan 2733, Ibnu Majah dalam al-Manasik no. 2895, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad V/195. 50 )
Jarang orang yang teringat saudara dan segala musibah yang dialaminya manakala hatinya jauh dari perasaan hangat dan kasih sayang. Orang seperti ini, jarang berdoa untuknya dari kejauhan, kecuali ketika ia memiliki kepentingan terhadap saudaranya tersebut, atau terjadi perselisihan antara kedua-nya, lalu berdoa agar ia kembali berbaik hati dan akur. Dengan demikian, orang yang berdoa seperti itu, secara subjektif berharap agar saudaranya mahu menerima dan mengakhiri perselisihan. Ia mencuba untuk menciptakan citra baik dengan doanya dalam setiap kesempatan dengan mengatakan:
"Sesungguhnya si Fulan, yang kalian kira berselisih denganku, adalah orang yang sangat kucintai, aku mendoakannya dari kejauhan." Seandainya ia ditanya: "Apa yang engkau doakan untuknya dari kejauhan itu?" Ia menjawab: "Aku berdoa semoga ia mendapat petunjuk dan mahu mengakui kebenaran." Atau dengan ungkapan-ungkapan semisalnya.
Ucapan seperti di atas, sama sekali tidak menunjukkan rasa cinta, melainkan cenderung berkonotasi menghina ketimbang mencintai. Ia menjadikan doa sebagai kesempatan untuk merendahkannya, menempatkannya dalam posisi orang yang sesat, tidak kredibel, menyimpang dan bodoh. Oleh kerananya, bersamaan dengan doa tersebut�misalnya, ia tidak mendoakannya agar Allah membalasnya dengan syurga Firdaus atau menemukan kebahagiaan dengan kekayaan, anak dan keluarganya, memberi keberkahan terhadap umurnya, mendapat kesejahteraan yang sempurna di dunia dan akhirat, atau doa-doa yang lazim diucapkan oleh seseorang untuk orang yang dicintainya.
Perasaan yang hangat mendorong setiap orang untuk memenuhi hak sahabatnya sebelum ditegur atau diingatkan oleh orang lain, membelanya ketika ia dibicarakan dalam suatu forum yang tidak dihadiri olehnya, ringan badan untuk membantu pekerjaan dan keperluannya, menyukainya seperti ia menyukai dirinya sendiri, turut bahagia atas nikmat yang ia terima, sama seperti ketika ia menerimanya. Hatinya bersih dari segala bentuk dengki, iri, makar, atau penghinaan. Hatinya tulus, setulus nurani burung-burung di angkasa.
Semua perasaan hati tersebut dianjurkan oleh Rasulullah shailallahu 'alaihi wa sallam, agar kita memiliki hati yang bersih, dan pada sisi lain beliau memperingatkan kita agar waspada terhadap jebakan-jebakan penyakitnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: �Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai apa-apa yang ada pada saudaranya seperti mencintai apa-apa yang ada pada dirinya.� (Lihat takhrij-nya pada footnote no. 46)
Dalam riwayat lain, beliau bersabda:
�Akan masuk syurga orang yang nuraninya seperti nurani burung.� ( Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Jannah wa Shifatu Na'imiha waAhliha no. 2840, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad 11/331.)
Juga sabda beliau:
"Atas dasar apakah, salah seorang di antara kamu membunuh saudaranya�memandang dengan penuh kedengkian? Jika kamu menyaksikan sesuatu yang menarik pada diri sau-daramu, maka berdoalah dengan memohon keberkahan untuknya. " (Redaksi hadith ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam ath-Thibb no. 3509, Malik dalam kitab al-Muwaththa bab al-'Ain II/938 dan 939, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad III/447. Dalam hadith tersebut terdapat suatu kisah, dan riwayatnya dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah no. 2828, dan Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 4020)
Perasaan yang tulus akan mendorong seseorang untuk segera membesarkan hati saudaranya agar bahagia. Ia berusaha agar menjadi orang pertama yang melakukannya, kerana merasa senang jika melihat saudaranya berbahagia. Ia segera mengucapkan selamat ketika saudaranya mendapat nikmat.
Dalam hal ini, kita mempunyai contoh dalam kisah taubat-nya Ka'b bin Malik yang akan dituturkan dalam pembahasan yang akan datang.
Perasaan yang tulus mendorong seseorang untuk menjadikan hasratnya sama dengan hasrat saudaranya, juga menyukai apa-apa yang disukainya. Seorang penyair berkata:
jiwanya adalah jiwaku, jiwaku adalah jiwanya
hasratnya adalah hasratku, hasratku adalah hasratnya (Mereka berdua seakan satu ruh atau satu jiwa. Tentunya hal ini tidak boleh bertentangan dengan ketentuan syari'at dan tidak meninggalkan suatu fadhilah atau maslahat yang diatur oleh syari'at. Adapun penyatuan atau peleburan yang mutlak, kami tidak menyetujuinya. Bait puisi di atas diambil dari kitab al-Mukhtar minash-Shadaqah wash-Shadiq, karya Abu Hayyan at-Tauhidi, hlm. 48. )
Perasaan yang tulus membuat seseorang merasa sangat kehilangan ketika berjauhan. Ia tersiksa kerana berpisah dengannya. Perasaan ini diabadikan oleh seorang penyair dalam untaian puisi, ketika ia menangisi kepergian sahabatnya:
ketika kita harus berpisahantara aku dan engkauseperti aku dengan seorang rajakerana telah lama kita selalu bersamanamun kini kita lalui malam tanpa kebersamaan Atau seperti yang dinyatakan oleh seorang penyair:
aku sang musafir dengan dua jiwa
jiwa pertama ikut bersama
sedang jiwa kedua tergadai sahabat dan saudara
Penyair lain mengatakan:
semua nestapa yang menimpa sepanjang masa
kurasa ringan tak bererti
kecuali perpisahan dengan orang-orang tercinta
Betapa harunya perpisahan antara orang-orang yang saling mencintai, baik setelah berpisah atau ketika awal perpisahan. Seorang penyair melukiskan:
biarkanlah kata sabar menghiasi ucapan perpisahan
dari orang yang memendam rindu kepada dirimu
menyesal atas semua yang telah berlalu
kerana tiada bekal untuk perjalanan abadi
Penyair lain berkata:
wahai Abu Bakar
sekalipun beribu peristiwa dan jarak memisahkau kita
kami ta kpernah kehilangan nyawa
hanya gelura rindu yang menyesak di dada
diriku hampa kerana tulus cintamu kini tiada
juga budi luhur yang menyingkap awan
penutup purnama
ketika kuhantarkan dirinya ke gerbang perpisahan
seakan kuhantar jasad orang tua ke haribaan abadi
ketika kulepas dengan lambaian perpisahan
seakan jiwaku sedang melepas seluruh
kebahagiaan diri
tak sanggup kutatap kepergiannya
kerana tatapan hanya menambah pilu tak terperi
dulu, sebulan bagaikan sehari
namun kini, sehari bagaikan bulan-bulan
yang tak henti
Perasaan yang tulus membuat seseorang sangat memahami erti sahabat, sehingga menganggap perpisahan dengannya sebagai kerugian terbesar dan kesepian yang tak terhingga.
Ali bin Abu Thalib berkata kepada putranya, al-Hasan: "Anakku, orang asing adalah yang tidak mempunyai sahabat yang dicintai."
Ibnul-Mu'taz berkata: "Orang yang berhasil menjalin tali persaudaraan, nescaya mereka akan menjadi penolong terdekatnya."
Berkata Khalid bin Shafwan: "Manusia yang paling lemah adalah yang enggan bersahabat, dan lebih lemah lagi, orang yang memutuskan tali persahabatan yang pernah terjalin."
Seorang bijak mengatakan: "Harta karun yang paling berharga adalah sahabat sejati." Yang lain berkata: "Sahabat yang suka membantu adalah ibarat lengan dan siku." Seorang penyair berkata:
banyak orang mempunyai beragam angan-angan
sedang angan-anganku dalam kehidupan
hanya seorang sahabat yang rela berbagi nasib
kami berdua laksana satu ruh
yang dibagi untuk dua tubuh
tubuh kam idua
namun ruh kami satu
Menurut al-Kindi: "Sahabat adalah seorang manusia, dia ini kamu, hanya saja dia adalah orang lain."
Abu Ayyub as-Sikhtiyani berkata: "Jika aku mendengar kematian seorang sahabat, seakanakan salah satu organ tubuhku terlepas." (Uyunul-Akhbar,III/4.)
Orang bijak mengatakan: "Barangsiapa enggan menjalin persahabatan, nescaya hidupnya dipenuhi permusuhan dan kehinaan. Aku bersaksi bahawa sahabat sejati adalah kekayaan yang paling berharga dan bekal yang paling istimewa, kerana ia adalah sebagian dari jiwa dan penghapus duka." Sementara pepatah bijak lainnya menyatakan: "Seringkali seorang sahabat lebih dicintai daripada saudara kandung sendiri."
Mu'awiyah pernah ditanya: "Apa yang paling engkau sukai?" Ia menjawab: "Seorang sahabat yang mendorongku agar mencintai rakyat." (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 166.)
Ibnul-Mu'taz berkata: "Orang yang dekat terasa jauh kerana permusuhan, sementara orang yang jauh terasa dekat kerana cinta dan kasih sayang."
Seorang penyair berkata:
kaum kerabat seringkali mengkhianatimu
namun orang yang sanggup memenuhi janji
justru orang yang tak senasab denganmu
Perasaan yang tulus membuat seseorang tak bergeming untuk mempertahankan keutuhan ukhuwah, sekalipun kesetiaan sahabatnya mulai pudar. Orang yang penuh rasa cinta senantiasa ingin berada dekat dengan sahabatnya, jika terpaksa harus berpisah, ia tak pernah berhenti mendoakannya. Itulah puncak cinta, ketulusan, dan kesetiaan. Seorang penyair melukiskan:
jika seseorang mencintaiku,
maka akan kubalas
dengan ketulusan cinta sepanjang masa
namun ketika ia mulai menjauhisementara cintaku terus bersemikupanjatkan doa kepada Ilahiagar memberi petunjuk yang menerangi (Raudhatul-'Uqala, hlm. 207)
Dalam puisinya, Imam Syafi'i berkata:
pepatah mengatakan: jadilah dirimu sebagai anjingia sering dihalau jauh oleh tuannyanamun tak pernah bosan mematuhi perintahnya
Pepatah di atas menjelaskan bahawa seekor anjing, meski sering dipukul, dihalau, bahkan diusir oleh tuannya, namun tetap setia dan semakin dekat. Kisah Ashhabul-Kahfi bersama anjingnya merupakan contoh yang mesti direnungkan dan diambil pelajaran. (Dengan sedikit perubahan redaksional dari al-Mukhtar minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 115. Sementara bait puisi di atasnya dinyatakan oleh Ibnul-Qayyim dalam kitab Ighatsatut-Lahfan 1/89, ia menisbatkannya kepada asy-Syathibi. ) Satu hal yang perlu diperhatikan, beberapa orang yang hatinya dipenuhi kecintaan terhadap sahabat, sanggup berpisah atau�jelasnya�menjauhkan diri dari sahabatnya, meskipun penuh keberatan dan pengorbanan perasaan, dengan alasan agar dapat membahagiakan sahabatnya tersebut dan membuatnya lebih tenang, bukan disebabkan oleh rasa marah atau benci.
Seorang penyair menggambarkan hal ini:
kurasa engkau selalu menjauh dariku
maka aku pun menjauh seperti yang kau mahu
jauh darimu sungguh menyakitkanku
namun kedekatanku menyakitimu
apa yang harus kulakukan wahai sahabatku
Puisi di atas mengingatkan kita kepada kenyataan adanya perbedaan tingkat cinta antara orang-orang yang bersahabat. Hal ini merupakan masalah yang berkesan sangat dalam pada diri seseorang. Maksudnya, ketika anda merasakan bahawa cinta sahabatmu tidak sebesar cintamu kepadanya. Anda tidak merasa kecewa, melainkan berbahagia, mengingat kabar gembira yang disampaikan oleh Rasuliillah sallallahu �alaihi wa sallam dalam sabdanya:
"Tidaklah dua orang yang saling mencintai kerana Allah di kejauhan, kecuali orang yang
lebih besar cintanya kepada yang lain adalah yang lebih dicintai oleh Allah Subhanahu Wa
Ta�ala.." (Lihat takhrij-nya pada footnote no. 8. 55 )
Ada orang yang merasa kecewa ketika mengetahui bahawa sahabatnya tidak memiliki cinta sebesar yang ia berikan kepadanya. Sebenarnya, dalam menghadapi masalah ini ia dituntut lebih berlapang dada dan memandangnya sebagai perkara biasa. Secara umum, kadar cinta yang dimiliki dua sahabat tidak pernah benar-benar sama, bahkan, pada kenyataannya sangat sulit untuk ditemukan di lapangan...
Ada satu contoh kisah yang sangat menarik mengenai cinta dan kerinduan seorang sahabat sejati yang diceritakan oleh Qudamah bin Ja'far. Suatu ketika tokoh dalam kisah tersebut mengirim surat kepada sahabatnya, ia berpesan: "Menurut hematku, sebaiknya engkau menentukan hari tertentu agar aku dapat mengunjungimu." Sahabatnya menjawab: "Aku khawatir tidak dapat menepati janji kerana suatu alasan yang tidak dapat kuhindari, sehingga akan menimbulkan penyesalan yang jauh lebih besar dari sekadar jarak yang memisahkan kita selama ini." Kemudian ia membalas: "Sesungguhnya aku sangat merasa bahagia walau hanya dengan janji yang kau berikan, aku tetap sabar menunggumu. Seandainya ada suatu halangan yang membuatmu tidak dapat menepatinya, maka aku tetap bahagia kerena telah mendapatkan kebahagiaanku sendiri�dengan adanya janji, dan mendapat pahala atas penyesalanmu ketika aku tidak dapat berkunjung."
Seorang sahabat yang tidak dapat membalas cintamu sebesar yang kau berikan kepadanya, biasanya didorong oleh dua faktor. Pertama, mungkin pada dasarnya ia tidak suka bersahabat denganmu. Kedua, ia suka menjalin ukhuwah denganmu, hanya saja bahagian cintamu lebih besar dari cintanya.
Untuk faktor kedua, permasalahannya dapat diatasi dengan mudah. Anda hanya dituntut untuk menyerahkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semoga mendapat pahala dan balasan yang baik, lapangkanlah pintu maaf untuk sahabatmu. Keadaan ini merupakan nikmat dan anugerah Allah untukmu. Anda cukup mengingat khabar gembira yang dinyatakan dalam hadith terdahulu:
"Tidaklah dua orang yang saling mencintai kerana Allah di kejauhan, kecuali orang yang lebih besar cintanya kepada yang lain adalah yang lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Namun, jika sahabatmu sebetulnya memang tidak suka menjalin hubungan ukhuwah denganmu, dan respons yang selama ini ditunjukkannya hanya sekadar lip service pergaulan atau didorong oleh keterpaksaan belaka, maka tinggalkanlah. Anda tidak perlu menjalin hubungan ukhuwah yang bersifat khusus dengannya, biarkan hubunganmu dalam batas persahabatan islami yang biasa.
Saran ini dinyatakan oleh Imam Syafi'i dalam puisinya:
jika seseorang membalas persahabatanmu
dengan kepura-puraan
jauhilah danjangan terlanjur memberi belas kasihan
banyak orang yang boleh mengganti kedudukannya
dengan meninggalkan, engkau merasa lebih nyaman
hati masih sanggup menahan sabar menanti sang kekasih
walaujarak terlalujauh memisahkan
tidak semua orang yang kausuka
akan suka kepadamu
dan tidak semua orang yang kauberi kesetiaan
akan membalas dengan ketulusan
jika persahabatan tidak tercipta secara alami
apalah erti sebuah cinta yang penuh kepalsuan
apalah erti seorang sahabat
jika sanggup mengkhianati sahabatnya
berubah sikap dari cinta menjadi dendam melupakan keindahan hubungan yang pernah terjalin
membuka rahasia yang selama ini dijaga
apa erti kehidupan dunia jika tidak melahirkan
seorang sahabat nan setia, memegang janji
lagi baik hati
(Diambil dari antologi puisi yang dinisbatkan kepada Imam asy-Syafi'i (Diwan asy-Syafi'i), tahqiq oleh: DR. Muhammad Abdul Mun'im Khafaji, hlm. 94. 57 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar