software hati

kisah kisah melunakan hati

Kamis, 24 Maret 2011

allah vs tuhan

MENCARI ALLAH
   
   
  TUHAN ALLAH vs TUHAN TUHANAN
   
  Bagian ini adalah suatu tahapan dimana kita mencoba menguji cara berpikir 
kita, benarkah Allah adalah Dzat yang layak kita jadikan Tuhan.
   
  Maka, cara yang paling tegas adalah dengan 'menghadapkan' Allah kepada 
eksistensi lain yang dianggap sebagai Tuhan. Benarkah tuhan lain itu TUHAN. 
Atau sekadar TUHAN-TUHANAN. Sebaliknya, benarkah Allah yang memperkenalkan DIRI 
sebagai Tuhan itu adalah TUHAN, yang pantas kita jadikan Tuhan.
   
  Jika ada dua 'Tuhan' berhadap-hadapan untuk 'dipertandingkan' maka akan ada 
tiga kemungkinan yang bakal terjadi. Yang pertama, salah satunya akan kalah, 
dan yang lainnya menang. Yang kedua, sama-sama kuat. Yang ketiga sama-sama 
kalah.
   
  Kemungkinan kedua dan ketiga, bisa kita sebut sebagai hasil seri alias draw. 
Ini berarti, mereka berdua tidak ada yang bisa saling mengalahkan. Dan karena 
itu, menunjukkan 'kelemahan' sebagai Tuhan. TUHAN yang sesungguhnya mestilah 
memiliki kekuatan dan kekuasaan yang tidak ada batasnya. Sehingga, tidak ada 
sesuatu pun yang bisa menandingiNya.
   
  Jadi, kemungkinannya tinggal satu saja, yaitu kemungkinan pertama. Bahwa 
salah satu tuhan itu pasti kalah dan yang lainnya menang. Yang menang pastilah 
Lebih Berkuasa dan Lebih Perkasa. Sedangkan yang kalah, pastilah dia bukan 
Tuhan yang sesungguhnya, alias sekadar TUHAN-TUHANAN.
   
  Begitulah cara Allah menggiring pemikiran dan logika kita dalam mencari 
Allah. DIA berfirman dalam Al Qur’an, dalam jumlah yang cukup banyak untuk 
membimbing kita menemukan Tuhan yang sesungguhnya.
   
  Langkah pertama, kita disuruh untuk berpikir dan bermain logika: Benarkah di 
alam semesta ini cuma ada satu Tuhan. Apa nggak mungkin lebih dari satu? Apa ya 
jadinya kalau di alam semesta ini ada Tuhan lebih dari satu.
   
  Pastilah mereka akan 'bertengkar'. Masing-masing tidak mau berada di bawah 
yang lain. Masing-masing pasti ingin menjadi yang ter'Maha'. Maka tidak ada 
jalan lain, mereka akan bersaing dan kemudian saling mengalahkan.
   
  Kecuali, kalau kita menganggap bahwa Tuhan bukanlah Dzat Paling Sempurna. 
Dzat lemah yang butuh pertolongan satu sama lain??! Ayat berikut ini menantang 
kita untuk bermain logika.
   
  QS. Al Anbilyaa (21) : 22
  Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah 
keduanya itu telah binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada 
apa yang mereka sifatkan.
   
  QS. Al Mukminuun (23) : 91
  Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang 
lain) beserta Nya, kalau ada tuhan beserta Nya, masing-masing tuhan itu akan 
membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan 
mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan 
itu,
   
  QS. Al Israa (17) : 42
  Katakanlah: "Jikalau ada tuhan-tuhan di Samping-Nya, sebagaimana yang mereka 
katakan, niscaya tuhan-tuhan itu mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 
'Arsy".
   
  Dengan sempurnanya Allah memancing kita untuk berlogika, bahwa tidak bisa 
tidak, yang namanya Tuhan itu ya hanya satu saja. Masa iya, Tuhan ada ada 
beberapa?!! Kalau ada beberapa, maka tidak bisa tidak, tuhan-tuhan itu akan 
memberikan pengakuan kepada Tuhan yang paling kuat. Yang menguasai dan 
menciptakan seluruh alam semesta. Itulah Tuhan yang memiliki Arsy   'kerajaan' 
yang mengontrol berlangsungnya seluruh peristiwa yang ada di seluruh penjuru 
alam.
  Jadi, kenapa kita mesti bertuhan kepada tuhan-tuhan yang lemah itu. Kenapa 
tidak kepada yang Paling Kuat saja?! Begitulah mestinya kita berpikir dan 
mengambil keputusan dalam bertuhan.
   
  Sehingga, Allah menggambarkan, suatu ketika nanti, orang-orang itu akan 
menyesal karena telah bertuhan secara keliru. Yang bukan Tuhan dianggapnya 
Tuhan. Atau, setidak-tidaknya menyamakan yang bukan Tuhan seperti Tuhan.
   
  QS. Asy Syu'araa' (26) : 97-98
  Demi Allah; sungguh kita dahulu dalam kesesatan yang nyata. Karena kita 
mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam".
   
  Dan selanjutnya, Allah membangun logika kembali dengan pertanyaan: menurut 
kita, sebenarnya lebih baik mana, bertuhan kepada Allah ataukah kepada yang 
selain Allah. Sebuah pertanyaan yang sangat eksplisit.
   
  QS. An Naml (27 ): 59
  Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya 
yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka 
persekutukan dengan Dia?"
   
  Tentu, kita menjadi ragu-ragu karenanya. Dan kemudian berusaha 
menimbang-nimbang : iya, baik mana ya bertuhan kepada Allah ataukah kepada 
selain Dia?! Belum sempat kita beranjak jauh, Allah sudah 'memberondong' kita 
dengan ayat-ayat berikutnya. Agar kita mantap mengambil keputusan lewat logika 
yang jelas dan gamblang. Bukan sekadar ikut-ikutan.
   
  Dengan frontal, Allah langsung membandingkan Dirinya dengan 'kekuasaan lain' 
yang dipersaingkan denganNya itu. 'Coba pikirkan siapa yang lebih layak disebut 
Tuhan' kira-kira begitulah Allah menantang kita untuk berlogika.
   
  QS. An Naml (27) : 60
  Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air 
untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang 
berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan 
pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan 
(sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari  kebenaran) 
   
  Logika pertama, kita 'ditabrakkan' kepada proses penciptaan alam semesta. 
Coba pikirkan siapa yang menciptakan alam semesta yang demikian raksasa, dengan 
bertriliun-triliun benda langit dalam keseimbangan sempurna itu. Apakah ada 
kekuasaan selain Allah yang bisa menciptakannya?!
   
  Para pakar Astrofisika kini merasa ngeri dengan kenyataan makrokosmos 
tersebut. Karena tidak bisa tidak, alam semesta ini telah diciptakan oleh 
'Suatu Kecerdasan yang Tidak Terbatas' dalam skala besarnya maupun 
ketelitiannya. Itulah Allah, Tuhan yang sesungguhnya.
   
  Logika kedua, kita 'ditabrakkan' pada kenyataan sirkulasi air di bumi yang 
telah memegang peranan kunci dalam kehidupan kita. Tidak kurang dari 400 miliar 
ton air per tahun disirkulasi dengan ketelitian yang menakjubkan, agar terjadi 
kehidupan di muka bumi. Dalam berbagai ayat yang lain, Allah menggambarkan 
betapa DIA telah mengatur sirkulasi air dengan kadar yang terukur. Hal ini 
telah saya bahas pada diskusi-diskusi sebelumnya.
   
  Dengan air itu Allah menumbuhkan berbagai tanaman dan pepohonan, sehingga 
menjadikan bumi ini subur dan indah. Perhatikan kalimat berikutnya dalam ayat 
tersebut: ".. yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohon itu.  
   
  Maka, Allah lantas 'menyergap' logika kita dengan kalimat berikutnya: "Apakah 
disamping Allah ada tuhan (yang lain)?" Kalau kita berpendapat iya, maka kata 
Allah, kita termasuk orang-orang yang tidak bisa berpikir dengan baik dan 
lurus. Kita telah berpikir menyimpang.
   
  Berikutnya, Allah memancing lagi dengan logika bersambung. Siapakah yang 
menjadikan bumi sebagai tempat berdiam? Ya, pernahkah kita berpikir kenapa 
kehidupan manusia hanya ada di muka bumi. kenapa tidak di planet lain, semisal 
Mars, Yupiter atau planet-planet di tatasurya dan galaksi lain.
   
  Sampai detik ini para pakar Astronomi belum bisa menemukan adanya kehidupan 
di planet lain, selain bumi. Mereka juga tidak faham, kenapa kehidupan mesti 
muncul di bumi saja? Siapakah yang menyengaja ini?!!
   
  Tiba-tiba muncul kengerian atas adanya 'Kekuasaan dan Kehendak tak Terbatas'. 
Yang tidak bisa dihalangi oleh apa pun dan oleh siapa pun yang dengan 
kehendakNya itu, DIA memilih Bumi sebagai tempat berdiam manusia dan segala 
fasilitas yang menyertainya, (QS. 7: 25, QS. 2: 29). Termasuk sungai, gunung, 
dan lautan.
   
  QS. An Naml (27) : 61
  Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang 
menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung 
untuk (mengkokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah 
di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari 
mereka tidak mengetahui.
   
  Dan kembali, lewat ayat di atas, Allah mempertanyakan: apakah ada Tuhan lain 
selain Allah yang mampu menciptakan dengan kesempurnaan seperti itu. Jika kita 
masih juga tidak mampu mengambil kesimpulan yang baik, sungguh patut 
disayangkan. Sebab, ternyata kita tidak bisa berpikir jernih. Sebagaimana 
kebanyakan mereka, yang tidak mengetahui.
   
  Allah terus memprovokasi logika kita dengan mengambil contoh-contoh dalam 
kehidupan kita. Betapa seringnya kita mengalami problematika kehidupan. Dan 
kemudian Allah mengambilnya sebagai contoh kasus untuk berlogika terhadap 
keberadaan Dzat yang Maha Penolong.
   
  Siapakah yang menolong kita waktu kita menghadapi berbagai masalah? 
Menghindarkan kita dari kesusahan yang menghimpit? Bahkan kemudian memberikan 
jalan kekuasaan kepada orang-orang yang berjuang memperolehnya? Itulah Tuhan 
yang sebenarnya, tempat kita meminta pertolongan di kala membutuhkannya. 
Meskipun kebanyakan manusia tidak ingat dan tidak bersyukur atas pertolongan 
Tuhannya.
   
  QS. An Naml (27) : 62
  Atau siapakah yanq memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila 
ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan 
kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?Apakah disamping Allah ada tuhan (yang 
lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).
   
  Dan seterusnya, Allah memberondong kita dengan pertanyaan-pertanyaan retorika 
yang memaksa kita harus memainkan logika lebih baik, agar kita bisa memiliki 
kesadaran tentang keberadaan Allah sebagai Tuhan yang sebenarnya. Bukan yang 
sekadar Tuhan-Tuhanan.
   
  QS. An Naml (27) : 63
  Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan 
siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum 
(kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha 
Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya) 
   
  QS. An Naml (27) : 64
  Atau siapakah yang menciptakan, kemudian mengulanginya, dan siapa (pula) yang 
memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada 
tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu 
memang orang-orang yang benar".
   
  QS. An Naml (27) : 65
  Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui 
perkara yang ghaib, kecuali Allah" dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan 
dibangkitkan,
   
  QS. An Nami (27) : 66
  Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai, malahan mereka 
ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta dari padanya.
   
  Dalam ayat-ayat berikutnya itu, bahkan Allah langsung menantang orang-orang 
yang masih belum bisa berpikir jernih. Kata Allah: “Tunjukkanlah bukti 
kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benarE
   
  Dan akhirnya, Allah menegaskan kepada kita bahwa orang yang demikian itu 
sebenarnya adalah orang yang tidak mau mengembangkan wacana berpikir secara 
terbuka. Atau, bisa jadi karena pengetahuan mereka memang tidak sampai. Mereka 
ragu-ragu. Sehingga Dampaknya, 'membutakan' mata hati mereka sendiri. Naudzu 
billahi min dzalik..
   
  Suatu ketika saya hadir sebagai pembicara dalam acara diskusi. Di antaranya, 
kami berdiskusi tentang hal ghaib. Salah seorang pembahas diskusi mengatakan 
bahwa di dalam Al Qur’an sudah ditegaskan, kita tidak bisa memahami tentang 
yang ghaib. Di antaranya adalah tentang Dzat Allah. Menurutnya, Allah adalah 
Dzat yang Ghaib yang tidak mungkin bisa kita pahami. Harus diterima begitu saja!
   
  Saya adalah orang yang kurang bisa menerima pendapat itu. Ada dua alasan yang 
menjadi dasar. Pertama, saya tidak pernah menemukan penjelasan di dalam Al 
Qur’an bahwa Allah adalah Dzat yang Ghaib. Pendapat tersebut, menurut saya, 
hanyalah kesimpulan penafsir. Bukan pernyataan Al Qur’an secara tekstual.
   
  Dan yang kedua, Allah berulangkali justru memperkenalkan Sifat-Sifat-Nya 
termasuk DzatNya, lewat Al Qur’an. Sehingga, karenanya, saya justru melakukan 
eksplorasi terhadap eksistensi Allah itu dari dalam Al Qur’an, agar saya lebih 
mengenalNya.
   
  Sungguh, saya tidak menemukan satu ayat pun yang menceritakan bahwa Allah itu 
ghaib. Yang ada justru sebaliknya. Bahwa Allah adalah Dzat yang Nyata. Di ayat 
yang lain bahkan DIA berfirman bahwa Allah adalah Dzat yang Zhahir dan Bathin. 
Alias, bersifat Lahiriah Dan Batiniah. 'Tampak' dan 'Tidak Tampak' sekaligus!
   
  Anda tentu terkejut dengan kesimpulan saya ini. Apalagi kesimpulan ini bukan 
sekadar tafsir buta, melainkan langsung mengutip ayat Qur'an secara tekstual. 
Ya, ternyata Allah itu tidak ghaib, melainkan NYATA, LAHIRIAH dan BATINIAH 
sekaligus.
   
  Pernyataan itu bisa kita jumpai dari ayat-ayat yang saya kutip berikut ini. 
Coba cermati kata-kata yang ditebalkan dalam terjemahannya. Juga perhatikan 
kata-kata dalam teks aslinya,
   
  ‘al MubiinE  Kata alMubiin itu banyak digunakan dalam ayat-ayat yang lain 
dengan makna yang sama, yaitu ‘nyataEdan 'menjelaskan'.
   
  QS. An Nur (24) : 25
  Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut 
semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allahlah Al Haq (Yang Maha Benar), lagi Al 
Mubiin (Yang Maha Nyata dan Maha Menjelaskan).
   
  QS. An Naml (27) : 16
  Dan sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: "Hai Manusia, kami telah 
diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. 
Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata (fadhlu al 
mubiin)".
   
  QS. An Naml (27) : 75
  Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam 
kitab yang nyata (kitaabin mubiin).
   
  QS. An Naml (27) : 79
  Sebab itu bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas 
kebenaran yang nyata ('ala al haqqi al mubiin).
   
  QS. Al Qashash (28) : 2
  Ini adalah ayat-ayat Kitab yang nyata (al kitaabi al mubiin).
   
  Dan masih banyak lagi ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menggunakan kata al 
mubiin dengan makna 'nyata'. Ayat-ayat di atas sengaja saya kutipkan untuk 
menegaskan makna bahwa Allah yang al mubiin adalah Dzat yang Maha Nyata. 
Pembahasan lebih jauh akan kita diskusikan di bagian berikutnya, dalam diskusi 
ini.
   
  Selain Maha Nyata, Allah juga bersifat Zhahir dan Bathin. Kata Zhahir 
seringkali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata 'lahir' 
(Lahiriah, fisikal). Sedangkan kata Bathin diterjemahkan ke dalam bahasa 
Indonesia dengan 'batin' (batiniah, sesuatu yang tersembunyi).
   
  Maka, ketika Allah memproklamirkan DiriNya sebagai Dzat yang al zhaahiru wal 
baathinu, maka kita bisa menerjemahkannya sebagai 'lahir dan batin', alias 
bersifat lahiriah dan batiniah sebagaimana kefahaman kita pada umumnya.
   
  Tentu ini agak merancukan kefahaman kita selama ini, bahwa Allah adalah Dzat 
yang ghaib. Kita sudah terlanjur yakin bahwa Allah memang tidak bisa kita 
observasi dengan panca indera, sehingga kita menyimpulkan sebagai Dzat yang 
Ghaib. Namun, Cobalah mencermati ayat-ayat berikut ini.
   
  QS. Al Hadid (57) : 3
  Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha 
Mengetahui segala sesuatu.
   
  QS. Ar Ruum (30) : 7
  Mereka hanya mengetahui yang zhahir (Zahiriah saja) dari kehidupan dunia; 
sedang tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.
   
  Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk 
(kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan 
untukmu ni'mat-Nya lahir dan batin (zhaahiratan wa baathinatan). Dan di antara 
manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau 
petuniuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.
   
  Makna zhaahir benar-benar menunjuk kepada suatu makna Yang bersifat lahiriah! 
Jadi, apakah kita harus memahami bahwa Allah adalah Dzat Yang bersifat 
lahiriah?! Tentu saja jangan mengambil kefahaman sempit dengan hanya mengambil 
satu ayat sebagai pijakan untuk menyimpulkan. Ayat-ayat tentang Allah jumlahnya 
ratusan. Kita harus mengambi kesimpulan secara holistik dari keseluruhannya.
   
  Sebagai contoh, ketika Allah mengatakan ‘Dia Maha melihatE bukan berarti 
Allah punya mata. Atau ketika Dia menyebut 'Maha Mendengar', lantas kita 
membayangkan Allah punya telinga. Atau, ketika Allah mengatakan memiliki Kursi, 
lantas kita bayangkan bahwa Allah duduk di atas Singgasana-Nya. Tentu, kita 
tidak bisa mengambil pemahaman secara terpotong-potong begitu. Sekali lagi 
pernahamannya
  harus bersifat holistik menyeluruh. 
   
  Meskipun Allah 'Nyata' dan 'ZhahirE. tidak berarti kita lantas bisa 
melihatNya. Tidak selalu kita bisa melihat 'sesuatu', meskipun 'sesuatu' itu 
nyata dan zhahir.
   
  Sebagai contoh, seekor gajah. Apakah seekor gajah bersifat nyata? Pastilah 
Anda menjawab ya. pertanyaan berikutnya, apakah gajah bersifat zhahir? Jawabnya 
pun pasti ya. Kemudian Anda bertanya kepada saya, apakah saya bisa melihat 
gajah itu? jawabnya: belum tentu!! Kenapa demikian?
   
  Kalau gajah itu disembunyikan di balik tembok, maka gajah yang nyata dan 
zhahir, ternyata tidak bisa terlihat oleh mata saya. Begitu pula jika gajah itu 
dijauhkan, sejauh-jauhnya, gajah itu pun tidak akan terlihat oleh mata saya. 
Demikian juga jika gajah tersebut didekatkan sedekat-dekatnya ke mata saya, 
maka justru saya tidak pernah bisa melihatnya.
   
  Kenapa bisa demikian? Jawabnya: karena kemampuan indera saya sangat terbatas. 
Jadi, kesimpulannya, belum tentu sesuatu Yang nyata dan zhahir bisa kita 
observasi dengan sejelas-jelasnya, disebabkan oleh adanya keterbatasan Yang 
kita miliki.
   
  Begitulah Allah. Meskipun Dia memproklamirkan DiriNya sebagai Yang Nyata dan 
Zhahir, tidak mesti kita bisa memahamiNya secara keseluruhan DzatNya. Bahkan, 
Allah mengatakan, Dzat Yang Zhahir dan Nyata itu ternyata tidak bisa dicapai 
oleh penglihatan mata. Itu terungkap dari ayat berikut ini.
   
  QS. Al An'am (6) : 103
  Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat 
segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui
   
  Kita juga sudah mengetahui, bahwa nabi Musa pernah pingsan karena ingin 
melihat Allah. DzatNya terlalu dahsyat untuk bisa dilihat dengan mata. Jadi, 
masalahnya bukanlah Dzat itu yang tidak bisa dilihat dengan mata, tetapi mata 
kita yang tidak mampu melihatNya.
   
  Justru, karena 'sangat nyata' dan 'sangat zhahir' itulah, maka Dzat Allah 
menjadi di luar kemampuan inderawi manusia. Lebih jauh akan kita bahas pada 
bagian selanjutnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar