Ada orang yang berusaha mencari perhatian rakan-rakannya dengan cara mengaku bahawa ia adalah sahabat seorang ulama atau da'i terkenal. Ia begitu dekat dengannya, sering bertemu dan berkunjung ke rumahnya. Ketika ada kesempatan bertemu dalam suatu acara ia bertindak seakan-akan orang yang paling dekat dengan da'i tersebut daripada semua yang turut hadir, dan beberapa tindakan lain yang pada dasarnya tidak disukai oleh ulama atau da'i tadi, kerana hal tersebut boleh menimbulkan kecemburuan yang tidak sehat pada sahabat-sahabatnya yang lain, atau boleh membuat suasana tidak nyaman. Melihat gejala-gejala seperti itu, sang da'i memutuskan untuk membekukan hubungannya dengan orang yang sombong tersebut demi menghindari hal-hal yang negatif. Dengan demikian, putuslah hubungan yang sebelumnya sudah terjalin antara mereka berdua.
Ada gambaran lain mengenai kebiasaan suka menonjolkan kelebihan peribadi atau reputasi di depan para mad'u, di mana sifat tersebut dapat mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang dapat merusak ukhuwah demi mencapai ambisinya. Seperti memperlakukan sahabatnya di dalam forum tersebut seakan-akan berada di bawahnya, atau mengurauinya dengan nada meremehkan, seakan-akan ia sebagai 'tuan' yang mengeluarkan perintah dan sejenisnyayang mengindikasikan kelebihannya di depan para mad'u.
Adakalanya ambisi untuk tampil lebih unggul di depan mad'u mendorongnya untuk mencari kesempatan agar sahabatnya mahu mengakui dan memuji prestasinya. Ia akan marah jika tidak dipuji dengan cara apa pun di depan orang lain.
Jika manusia terbebas dari ambisi untuk menonjolkan kelebihan dan mencari reputasi nescaya terhindar dari berbagai perasaan dan tindakan yang menodai kemurnian ukhuwah dan persahabatan.
Demikianlah, hasrat untuk tampil lebih di depan publik atau mad'u, atau�jelasnya� hasrat untuk menguasai mad'u demi ambisi pribadi, bukan kerana dakwah, akan menjerumus-kannya dalam kecemburuan yang sangat besar jika ada orang lain yang memiliki hubungan yang sama dengan mad'u-nya, baik dalam bentuk mu'amalah, kebiasaan saling memberi hadiah, surat-menyurat, saling mengunjungi dan sebagainya. Pada tahap berikutnya, perasaan cemburu akan merusak hubungan antara dia dengan sahabatnya. Bahkan, cinta boleh berubah menjadi benci.
Jika seorang da'i mendermakan dakwahnya hanya untuk Allah semata, bukan untuk kepentingan peribadi, perasaan-perasaan seperti itu akan terasa ringan, masalah-masalah biasa tidak akan berubah menjadi problema besar atau malapetaka.
Gambaran lain mengenai hasrat ingin tampil lebih yang menodai ukhuwah, adalah menisbatkan suatu keberhasilan atau prestasi yang diraih secara kolektif kepada dirinya sendiri.
Klaim tersebut akan menyakiti sahabatnya yang lain, apalagi jika suatu saat mereka mengalami kegagalan, ia malah menyalahkan orang lain atau 'mencuci tangan' dengan menyangkal bahawa dirinya terlibat dalam usaha yang gagal tersebut.
Orang yang memiliki sifat seperti itu tentu tidak akan disukai oleh sahabat-sahabatnya, bahkan semua orang. Pada umumnya, manusia tidak menyukai orang yang suka menisbatkan suatu keberhasilan atau prestasi kepada dirinya, dan melimpahkan kegagalan kepada orang lain. Orang seperti itu tidak mungkin meraih kehormatan yang hakiki. Ia tidak mungkin dipercaya menempati posisi direksi atau eksekutif, kerana pemimpin yang ideal adalah orang yang dimintai pertanggungjawaban atas kegagalan dan tidak menisbatkan kejayaan kepada dirinya saja. Logikanya, jika anda ingin mengetahui siapa ketua sebuah institusi dakwah, perusahaan dagang, komersial dan seterusnya, tanyakan saja, siapa yang bertanggungjawab jika terjadi kegagalan?
Orang yang ikhlas cukup merasa bahagia jika manusia mahu mengikuti ide-idenya dan mengamalkan ilmunya, meski ide-ide dan ilmu tersebut tidak dinisbatkan kepadanya. Ia lebih menyukai pengamalan daripada menyebut dirinya.
Imam Syafi'i rahimahullah berkata: "Aku berangan-angan, andai semua manusia mempelajari ilmu ini tanpa satu pun yang dinisbatkan kepadaku." (Hilyatul-Auliya' IX/118, dan Siyaru A'lamin-Nubala' X/29.)
Dalam sebuah surat yang dikirim kepada saudara perempuannya, Sayyid Quthb berkata: "Hanya para pedagang, yang berkepentingan dengan merek barangnya ketika ada orang lain yang meniru dan mengurangi keuntungannya. Adapun kaum intelek dan para pengusung aqidah, cukup merasa bahagia jika manusia dari generasi berbeza saling mewarisi dan menganut pemikiran dan keyakinan-keyakinan aqidahnya. Sekali-pun mereka kemudian menisbatkannya kepada dirinya sendiri, bukan kepada pencetus pertamanya. Oleh kerana itu, kita harus membiarkan manusia merasa bahawa pemikiran yang ia yakini adalah murni hasil pikirannya sendiri dan merekalah yang mencetuskannya, agar tumbuh semangat ilmiah dan pengamalannya." (Disadur dari Fannut-Ta'amulma'an-Nas, hlm. 36 dan 37 dengan perubahan redaksional dan tambahan ucapan asy-Syafi'i.
MENGINGKARI JANJI DAN KESEPAKATAN TANPA ALASAN YANG KUAT
Sifat buruk ini akan menumbuhkan anggapan dalam diri saudara anda bahawa anda tidak memperhatikannya, kerana orang yang mengingkari janji atau kesepakatan bererti telah meninggalkan sesuatu yang dianggap kurang penting demi meraih sesuatu yang dianggap lebih penting. Alasan ini sudah cukup untuk membuat sahabatmu sedih, menodai cinta dan merusak ukhuwah.
Bagaimana hal ini boleh terjadi, padahal kaum Muslim diwajibkan untuk memenuhi janji. Pada sisi lain ia dilarang mengingkarinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganggap ingkar janji sebagai salah satu tanda munafik, beliau bersabda:
�Tanda-tanda munafik ada tiga; jika berkata ia berdusta jika berjanji ia mengingkari; dan jika dipercaya ia berkhianat.� (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Iman no. 33, asy-Syahadat no. 2682, al-Washaya no. 2749, dmal-Adab no. 6095. Juga diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Iman no. 59, Tirmidzi dalam al-Iman no. 2631, an-Nasa'i dalam al-Iman VIII/117, Ahmad dalam kitab al-Musnad 11/357, dan al-Baghawi dalam kitab Syarhus-Sunnah no. 35, 1/72, semuanya dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Sebenarnya, jika kita berpegang teguh dengan etika agama dan tatakrama islami dalam seluruh aspek kehidupan, nescaya ukhuwah akan bertambah baik dan kukuh. Keakraban dan cinta akan terus bersemi.
SELALU MENCERITAKAN PERKARA YANG MEMBANGKITKAN KESEDIHANNYA DAN SUKA MENYAMPAIKAN BERITA YANG MEMBUAT RESAH
Salah satu sebab rusaknya ukhuwah adalah menyampaikan berita yang membuat sahabatmu sedih atau berita yang sama sekali tidak berguna baginya. Juga menyembunyikan berita yang boleh membahayakannya jika disimpan.
Ibnu Hazm rahimahullah berkata: "Jangan sampaikan berita yang membuat sahabatmu sedih atau tidak bermanfaat baginya, kerana itu adalah perbuatan orang-orang kerdil. Dan jangan menyembunyikan berita yang boleh membahayakannya jika ia tidak tahu, kerana itu merupakan pekerjaan orang-orang jahat."
Yahya bin Mu'adz menyatakan: "Jadikanlah tiga hal berikut ini sebagai sikapmu terhadap orang-orang Mukmin; jika tidak boleh memberi manfaat, maka jangan membahayakannya. Jika tidak boleh membahagiakannya, maka jangan membuatnya sedih. Jika tidak memujinya, maka jangan mencacinya."
TERLALU CINTA
Maksudnya adalah menghindari hal-hal yang berlebihan, seperti ketergantungan atau rasa suka terhadap sahabat, membebani diri dengan beban yang terlalu berat dalam upaya melayani atau mendekatinya. Cinta yang berlebihan bukan bererti memberi yang terbaik dalam rangka memenuhi hak ukhuwah dan cinta. Hak-hak ukhuwah harus ditunaikan, seperti memberi nasihat dan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga masing-masing dalam koridor alhaq (kebenaran). Upaya seperti itu tidak dikategorikan berlebihan atau melampaui batas walaupun dilakukan dengan sekuat tenaga. (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 178. )
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti. " (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam al-Birr wash-Shillah no. 1997, as-Sulami dalam kitab Adabush-Shuhbah, hlm. 114, dan al-Khathib dalam kitab Tarikh Baghdad XI/427-428, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu secara marfu'. Al-Albani menyatakannya shahih dalam kitab Shahihul-Jami'ash-Shaghir no. 178. Juga diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad'no. 1321 secara mauquf kepadaAli binAbiThalib radhiyallahu 'anhu. Riwayat mauquf ini dinilai hasan li ghairihi oleh al-Albani dalam kitab Shahihul-Adab al-Mufrad no. 992, ia berkata: "Hadith ini dinyatakan shahih 72 dalam riwayat yang marfu'.� )
Umar bin Khaththab berkata: "Janganlah cinta membuatmu terbelenggu oleh beban yang berat, dan janganlah rasa bencimu membuatmu hancur lebur." (Ririwayatkan oleh Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad no. 1322. Dalam riwayat tersebut dinyatakan: lalu aku (Aslam) bertanya: "Bagaimana hal itu boleh terjadi?" Umar menjawab: "Jika kamu cinta, maka kamu berusaha mencintainya secara berlebihan seperti bayi. Dan jika kamu membenci sahabat-mu, maka kamu menginginkan dia hancur." Sanad riwayat ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahihul-Adab al-Mufrad no. 993. )
Abul-Aswad berkata:
cintailah kekasihmu dengan cinta yang sederhana
kerana kamu tidak tahu kapan ia menjauhimu
jika harus benci, maka bencilah
tapi jangan menjauhi
kerana kamu tidak tahu
kapan harus kembali
Maksudnya adalah menghindari hal-hal yang berlebihan, seperti ketergantungan atau rasa suka terhadap sahabat, membebani diri dengan beban yang terlalu berat dalam upaya melayani atau mendekatinya. Cinta yang berlebihan bukan bererti memberi yang terbaik dalam rangka memenuhi hak ukhuwah dan cinta. Hak-hak ukhuwah harus ditunaikan, seperti memberi nasihat dan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga masing-masing dalam koridor alhaq (kebenaran). Upaya seperti itu tidak dikategorikan berlebihan atau melampaui batas walaupun dilakukan dengan sekuat tenaga. (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 178. )
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti. " (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam al-Birr wash-Shillah no. 1997, as-Sulami dalam kitab Adabush-Shuhbah, hlm. 114, dan al-Khathib dalam kitab Tarikh Baghdad XI/427-428, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu secara marfu'. Al-Albani menyatakannya shahih dalam kitab Shahihul-Jami'ash-Shaghir no. 178. Juga diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad'no. 1321 secara mauquf kepadaAli binAbiThalib radhiyallahu 'anhu. Riwayat mauquf ini dinilai hasan li ghairihi oleh al-Albani dalam kitab Shahihul-Adab al-Mufrad no. 992, ia berkata: "Hadith ini dinyatakan shahih 72 dalam riwayat yang marfu'.� )
Umar bin Khaththab berkata: "Janganlah cinta membuatmu terbelenggu oleh beban yang berat, dan janganlah rasa bencimu membuatmu hancur lebur." (Ririwayatkan oleh Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad no. 1322. Dalam riwayat tersebut dinyatakan: lalu aku (Aslam) bertanya: "Bagaimana hal itu boleh terjadi?" Umar menjawab: "Jika kamu cinta, maka kamu berusaha mencintainya secara berlebihan seperti bayi. Dan jika kamu membenci sahabat-mu, maka kamu menginginkan dia hancur." Sanad riwayat ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahihul-Adab al-Mufrad no. 993. )
Abul-Aswad berkata:
cintailah kekasihmu dengan cinta yang sederhana
kerana kamu tidak tahu kapan ia menjauhimu
jika harus benci, maka bencilah
tapi jangan menjauhi
kerana kamu tidak tahu
kapan harus kembali
(Raudhatul-Vqala'Mm.96-97,Adabud-Dunyawad-Din,h\m.\7&.k\-'kj\ur\i mencatatnya dalam kitab Kasyful-Khafa' 1/54 dan menisbalkannya kepada Ali radhiyallahu 'anhu, sedang al-Amir Usamah bin Munqidz mencatatnya dalam buku Lubabul-Adab hlm. 25, dan menisbatkannya kepada Hadbah bin al-Khasyram al-'Adzri )
Dalam hal ini 'Adi bin Zaid berkata:
jangan berpikir kamu tidak akan dimusuhi
oleh orang yang tinggal dekat denganmu
dan jangan berpikir
seorang sahabat tak kan bosan
lalu pergi menjauh darimu (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 178)
Maka kita tidak boleh berlebihan dalam mencintai seseorang, kerana akan melemahkan persahabatan. Lebih baik cinta yang terus merangkak namun menanjak daripada cinta yang melonjak namun lekas surut. (Ibid, hlm. 177)
Namun demikian, jadikanlah cintamu kepada sahabat lebih besar dari cintanya kepadamu, agar dapat mer aihfadhilah (keutamaan) yang dijanjikan Allah melalui sabda Rasul-Nya:
�Tidaklah dua orang yang saling mencintai kerana Allah, kecuali orang yang lebih besar cintanya adalah yang lebih utama di antara keduanya.� (Lihat catatan kaki no. 98. )
Dalam hal ini 'Adi bin Zaid berkata:
jangan berpikir kamu tidak akan dimusuhi
oleh orang yang tinggal dekat denganmu
dan jangan berpikir
seorang sahabat tak kan bosan
lalu pergi menjauh darimu (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 178)
Maka kita tidak boleh berlebihan dalam mencintai seseorang, kerana akan melemahkan persahabatan. Lebih baik cinta yang terus merangkak namun menanjak daripada cinta yang melonjak namun lekas surut. (Ibid, hlm. 177)
Namun demikian, jadikanlah cintamu kepada sahabat lebih besar dari cintanya kepadamu, agar dapat mer aihfadhilah (keutamaan) yang dijanjikan Allah melalui sabda Rasul-Nya:
�Tidaklah dua orang yang saling mencintai kerana Allah, kecuali orang yang lebih besar cintanya adalah yang lebih utama di antara keduanya.� (Lihat catatan kaki no. 98. )
SO..............?
Mengingat begitu banyak noda-noda yang dapat merusak ukhuwah, sementara cinta yang tulus begitu sulit dicari, maka banyak sekali pendapat yang menjelaskan definisi kata ash-shadiq (sahabat). (Abu Hayyan berkata: aku bertanya kepada al-Andalusi, "Apa asal kata ash-shadiq (sahabat)?" Ia menjawab: "Asal katanya adalah ash-shidq (kejujuran/ ketulusan), iaitu lawan dari al-kidzb (kedustaan)." Namun dalam kesempatan lain ia menjawab: "Asal katanya adalah ash-shadq (keras), dengan alasan ada yang mengatakan ramhun shadqun, ertinya tombak yang keras (kukuh)." Dari dua asal kata tersebut disimpulkan bahawa sahabat adalah orang yang jujur ketika berbicara dan keras (kukuh) ketika berbuat. Lihat: al-Mukhtar minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 61) Banyak pakar bahasa dan orang bijak yang berusaha menjelaskan karakteristik kata tersebut. Di antara mereka ada yang mengalami kebingungan, ada juga yang putus asa, sehingga menafikan adanya seorang sahabat ideal dalam kehidupan realiti. Pada hakikatnya, pendapat yang variatif dan tiadanya kesepakatan itu lebih menunjukkan urgensinya persoalan 'Sahabat' ini.
Sebahagian berkata:
tanda seorang sahabat
dalam pandangan kaum cerdik
adalah cinta tanpa pamrih
dan kejujuran merupakan modal wajib
secara pasti
dia adalah cinta kerana Ilahi
Keistimewaan ungkapan puitis di atas adalah, ia menjelaskan bentuk hubungan yang paling baik dengan menyatakan bahawa persahabatan atau ukhuwah adalah hubungan cinta yang berdasarkan iman, bebas pamrih dan ikhlas kerana Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Al-Kindi berkata: "Sahabat adalah manusia, dia adalah kamu, hanya saja dia adalah orang lain."
Beberapa penyair berselisih ketika mencoba mendefinisi-kan kata 'sahabat', dan perselisihan tersebut dirangkai dalam bait-bait berikut:
mereka berkata sahabat
adalah orang yang tulus cintanya
dan tidak menipu
yang lain berkata
ia adalah yang tidak menuduh
dengan mengatakan 'kamu'atau 'saya'
ada juga yang berkata
ia adalah kata yang tidak jelas maknanya
dalam kehidupan maya
Seperti yang tertera dalam ungkapan bait terakhir, ada yang berpendapat bahawa 'sahabat' adalah kata yang tidak memiliki makna. Sementara yang lain berpendapat bahawa 'sahabat' adalah kata yang tidak berjenis/berbentuk.
Ketika di antara mereka ada yang ditanya: "Tunjukkan padaku orang yang darinya ku dapatkan kedamaian, baik ketika senang mahupun susah." Ia menjawab: "Orang seperti itu adalah ibarat barang yang hilang yang tidak akan pernah ditemukan."
Seorang Badwi ditanya: "Bagaimana bentuk kehangatanmu dengan seorang sahabat." Ia balik bertanya: "Sahabat? Apakah ada yang disebut dengan sahabat? Atau apakah ada yang serupa dengan sahabat? Bahkan, adakah bayangan yang menyerupai dengan kembaran sahabat itu?"
Seorang penyair berkata:
kami mendengar cerita tentang sahabat
tapi selamanya belum pernah ku lihat
ia hadir di tengah manusia
aku mengira ia hanya legenda
atau dongeng orang tua
yang diceritakan penuh keindahan belaka
Dengan alasan di atas, ada di antara mereka yang lebih memilih mengasingkan diri dan menyepi, ada juga yang mewanti-wanti agar tidak terjebak kamuflase persahabatan, bahkan ada yang mencela orang yang selalu mencari sahabat.
Seorang penyair berkata:
menghadapi musuh
berhati-hatilah sekali
tapi menghadapi sahabat
berhati-hatilah seribu kali
sahabat boleh saja berbalik memusuhi
sehingga ia lebih mengerti
bagaimana cara menyakiti (Bahjatul-Majalis V/696)
Penyair lain berkata:
musuh yang tadinya kawan
sangatlah lihai
maka jangan terus
mencari sahabat untuk didekati
kebanyakan racun yang kau temuisungguh berasaldari makanan dan minuman sehari-hari (Al-Khaththabi, al-�Uzlah, hlm. 58, dan Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 171. 140)
Dari ungkapan di atas kita menyimpulkan bahawa alasan yang mendorong mereka bersikap seperti itu adalah pengalaman-pengalaman pahit yang mereka alarm sepanjang menjalin persahabatan. Mereka pernah kecewa dengan sahabat-sahabat dekatnya...dan kerana kekecewaan tersebut kerap terulang kembali, akhirnya mereka yakin bahawa tidak pernah ada yang dinamakan 'sahabat'.
Di zaman klasik, Labid berkata:
telah tiada orang-orang yang ku anggap kawan sejati
tinggallah diriku hidup
di tengah masyarakat kerdil
ibarat kulit yang terkelupas
dari penyakit yang sudah kering (Al-Khaththabi, al-'Uzlah, hlm. 91. 141 )
Berkata al-Busti:
kebanyakan manusiayang datang mengunjungimujika bertemujustru lebih banyak menambah dosa
maka janganlah engkau peduli
apakah mereka mahu pergi
atau datang lagi
Seorang penyair berkata:
telah tiada
orang yang layak diteladani
ia selalu mengingkari segala perbuatan
tinggallah diriku di tengah manusia tak berguna hidup saling mengandalkan ibarat si buta yang menjaga orang yang sama butanya
Berkata 'Alam al-Huda:
telah tiada orang
yang jika kau beri kebaikan
membalasnya dengan kebaikan sama
atau lebih sempurna
tinggallah diriku di tengah kaum
yang buruk perangainya
selalu mengingkari kebaikanyang pernah kuberi padanya
Ada juga yang berkata: "Jika bukan kerana khawatir mendapat godaan, aku pasti tinggal di belahan bumi yang tidak berpenghuni." (Ash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 93. Dalam buku itu, ujaran tersebut dinisbatkan kepada Ali radhiyallahu 'anhu)
Ketika ada yang ditanya: "Kenapa engkau tidak mengangkat seseorang sebagai sahabat?" Ia menjawab: "Agar aku terbebas dari musuh. Aku sedang mencari sahabat dari golongan jin, kerana dialah yang pernah mengecewakanku ketika bersahabat dengan manusia." (Ibid, hlm. 101)
Seorang kakek tua dari kota ar-Ray menulis ungkapan berikut ini di pintu rumahnya: "Semoga Allah membalas budi baik orang yang tidak kami kenal dan tidak mengenal kami. Sementara bagi sahabat-sahabat karib, semoga Allah tidak memberinya balasan apa pun, kerana kami tidak menderita seperti ini kecuali kerana ulahnya." (Bahjatul-Majalis II/673.)
Di antara mereka ada yang berkata: "Menyepilah dan jangan memiliki banyak sahabat, kerana tiada yang boleh menyakitimu kecuali orang-orang yang kau kenal." Lalu ia melantunkan bait puisi berikut ini:
semoga Allah membalas budi baikorang yang tak pernah terikat cinta dengan kamisehingga harus saling mengenali
tiada racun yang dapat membunuhatau penyakit yang membawa deritakecuali berasal dari orangyang dicinta dan dikenali (Ash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 95, dan pada bagian lain (hlm. 10) bait pertama berbunyi:waspadalah terhadap kebencianyang muncul dari kawansesungguhnya tiada orang yang lebih menyakitimukecuali orang yang kaukenal... dan seterusnyaJuga dalam kitab Minhajul-'Abidin karya al-Ghazali, hlm. 47, dengan redaksi yang serupa)
Dalam pembahasan terdahulu, kami nukilkan kata-kata seorang bijak mengenai sahabat yang justru berbahaya jika dekat dengan kita: "Dia adalah orang yang jika dekat, ia berusaha mengetahui rahasia, mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan kita, memerhatikan kesalahan dan kekurangan, menghitung kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disengaja, menghafal saat-saat kita tergelincir ucapan atau perbuatan spontan dalam keadaan biasa mahupun sedang marah, atau di dalam pembicaraan terbuka dan lepas yang siapa pun sulit terhindar dari kelalaian. Kemudian ia menjadikan semua hal di atas sebagai senjata untuk menjatuhkan sahabatnya di kala terjadi perselisihan." (Lihat catatan kaki no. 190.)
Ungkapan di atas merupakan gambaran kekecewaan yang sangat dahsyat, kerana ulah keji sahabatnya yang membocor-kan rahasia dan beberapa masalah pribadi yang ia ketahui akibat hubungan persahabatan yang begitu erat.
Kerana itu, mereka menganggap membuka rahsia sebagai benang merah yang mengakhiri persahabatan. Mengenai hal ini seorang penyair berkata:
jika seseorang melakukan kesalahan
dalam tiga hal
'juallah ia walau hanya dengan segenggam debu
ketulusan juga kejujuran
dan yang terakhir
menyimpan rahsia di dalam hati
Sementara itu ada pula yang bingung menghadapi feno-mena sahabat, kerana sikapnya yang saling bertentangan dan selalu berubah. Ia menggambarkan kebingungannya dalam untaian puisi:
ku lihatpada dirimu
kumpulan akhlak baik dan buruk
engkau adalah sahabat yang
persis dengan sifat yang ku sebut
dibilang dekat tapi jauh
dungu tapi cerdas
sesaat dermawan lalu bakhil
taat tapi juga maksiat
lisanku akhirnya bingung
harus menghina atau memuji
hatiku pun menilai
dirimu antara tidak tahu dan mengerti
engkau bagaikan bunglon
sehingga membuatku seakan buta
tak mengerti
apakah engkau angin semilir atau badai prahara
aku tidak menipumu
menasihati pun tidak
kerana tak tahu
ku putuskan tuk tidak menilaimu
Ada juga yang kecewa kerana pernah dikhianati oleh sahabatnya; ia berkata:
ketahuilah bahawa orang-orang
yang pernah kupilih sebagai sahabat
bagaikan ular pasir
yang tak segan menggigit kawan
semula mereka kuanggap baik
namun setelah berteman
aku bagaikan orang
yang tinggal di lembah kering tiada tumbuhan
Di antara mereka, ada yang menyatakan dalam puisinya:
kesetiaan adalah sebuah kata
yang pernah kudengar saja
namun tak pernah kutemukan wujud dan bekasnya
aku tak kan pernah menuntut dari siapa saja
aku benar-benar kecewa
dengan sahabat yang tega berkhianat
siapa yang berangan-angan
menemukan sahabat sejati di bumi ini
dia adalah manusia
yang tak pernah mengenal hakikatnya sendiri
Penyair lain mengatakan:
jalanilah hidup ini
bersama seorang sahabat setia
dapat dipercaya kapan saja
namun jika tidak
jalanilah hidup ini dengan seorang diri
Seorang pendamba sahabat menulis pengalaman pahit petualangannya dalam mencari kawan sejati: "Banyak sudah gurun telah ku harungi, negeri ku singgahi, lautan ku seberangi, dan peninggalan ku amati. Telah ku datangi berbagai belahan bumi dan banyak manusia yag ku pergauli, namun tak pernah ku temukan seorang sahabat setia dan teman sejati. Jika ada yang membaca tulisan ini, maka janganlah terpedaya untuk bersahabat dengan siapa pun jua." (Ash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 103. 144 )
Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahawa peni-laianyang mereka ungkapkan� walaupun tidak persis sama�menunjukkan begitu hebat guncangan jiwa yang disebabkan oleh ulah sahabat, sekaligus menegaskan perihal bahaya meremehkan hak-hak persahabatan, sehingga pengetahuan tentang virus-virus perusak ukhuwah merupakan keperluan yang tidak boleh ditawar lagi.
Anda boleh membayangkan betapa sakitnya jiwa yang begitu dahsyat sehingga ada di antara mereka yang merasa berat untuk menerima sebuah kata 'sahabat' atau 'teman', kerana justru sahabatlah yang membuatnya menderita. Ada juga yang lebih memilih hidup menyepi jauh dari keramaian manusia, kerana di sanalah ia mendapatkan ketenteraman dan kedamaian.
Abul-Qasim al-Wazir menyatakan dalam puisinya:
aku damai ketika menyepi sehingga
jika kulihat manusia segera kuterperanjat lama ku cuba untuk menjalin persahabatan
namun selalu putus di tengah jalan
aku tak pernah berhasil
menemukan sahabat sejati
yang tadinya kusegani
namun akhirnya harus kuhindari
Sejauh mana prasangka baik terhadap sahabat, upaya untuk memenuhi haknya, tulus dalam mencintainya, dan pengorbanan yang diberikan kepadanya, sejauh itulah kekecewaan yang ia rasakan, jika sahabatnya tidak memiliki apa yang diharapkan olehnya. Akhirnya ia tidak memiliki jalan keluar apa pun selain harus menempuh hidup menyendiri.
Pada suatu hari, Sufyan mengunjungi seorang alim dan shalih yang hidup menyepi dari keramaian manusia. Sufyan berkata: "Kenapa engkau hidup menyendiri jauh dari manusia, padahal mereka memerlukanmu?" Ia menjawab: "Menyendiri adalah jalan keluar, zaman sudah rusak dan semua sahabat telah berubah. Untuk itu, aku melihat bahawa menyendiri adalah jalan terbaik untuk menenteramkan hati." Lalu ia melantunkan sebuah puisi:
jangan khawatir
untuk hidup sendiri dan menyepi
hidup di zaman ini
lebih baik terus menyepi
pupus sudah sahabat
dan tiada lagi persahabatan
melainkan kepura-puraan
dengan ucapan dan perbuatan
namunjika engkau singkap
hati yang tersembunyi dalam dada
yang kaulihat adalah
serbuk racun pekat penuh boleh
Ada di antara mereka yang ditegur kerana hidup menyepi, maka ia jawab: "Selama empat puluh tahun aku mencuba untuk bersahabat. Namun kenyataannya mereka tidak pernah mahu memaafkan kesalahan, tidak juga mahu berkorban ketika aku perlu bantuan. Menurutku, menyibukkan diri dengan sahabat hanya akan membuang umur, menambah jauh dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, semakin banyak memupuk kemarahan, dan terbelenggu nafsu dari waktu ke waktu." (Ash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 95. 145 )
Ketika Urwah bin Zubair membangun sebuah rumah kecil yang jauh dari keramaian, ada yang menegur: "Mengapa engkau menghindar dari manusia?" Maka ia menjawab: "Kerana lisan mereka mengumbar kata-kata tak berguna, telinga mereka gemar mendengar fitnah dan cela, hati mereka lebih sering lupa, agama mereka sangat rapuh, perbuatan maksiat menyebar dan merata.
Sehingga aku khawatir dengan godaan dan angkara, untuk itu, aku menyingkir dari mereka semua, agar selamat dan bahagia." (Ibid, hlm. 95 dan 96. Ungkapan serupa juga terdapat dalam al-Mukhtin minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 66 )
Setelah menguraikan ucapan dan pandangan orang-orang yang lebih memilih menyendiri, dan setelah mendengar begitu berat kekecewaan mereka terhadap sahabat dan perasaan kehilangan sahabat. Andaikan anda adalah orang yang kecewa kerana perlakuan buruk sahabat-sahabat dekat sehingga seakan-akan anda tidak mempunyai seorang pun sahabat sejati, adakah sesuatu yang dapat mengobati guncangan jiwa yang anda rasakan?
Jawabannya adalah: tidak ada yang dapat menggantikan kedamaian dan keakraban persahabatan selain sesuatu yang lebih tinggi nilainya dari itu semua. Ia adalah kedamaian dan kedekatan dengan Allah dan tidak merasa perlu dengan manusia lagi, merasakan nikmat munajat dan berdialog dengan-Nya, dan berkonsentrasi secara total dalam menyembah, berdzikir dan berdoa kepada-Nya.
Ketika orang yang memilih melakukan hal di atas ditanya: "Apakah engkau memiliki sesuatu yang membuatmu tenteram dan damai?" la menjawab: "Ya, dia adalah Mushhaf (al-Qur'an)." Lalu ia melantunkan sebuah puisi:
semua bukuku di sinitak pernah keluar dari tempat tidurkudi dalamnya ada penawarbagi luka yang terpendam di hati
Seorang penyair berkata:
siapa yang mengenal Allah
namun tak cukup hanya dengan mengenal Allah
maka ia adalah seorang yang sengsara
manusia tidak boleh berbuat apa-apa
dengan gemerlap harta
kemuliaan tertinggi hanyalah milik orang bertakwa
ia tak bergeming dengan nestapa yang menimpa
selama taat kepada Allah
apa erti nestapa dan derita. (Minhajul-'Abidin, hlm. 71-72)
Selain jalan keluar yang bersifat pengubatan, sebenarnya ada upaya preventif yang boleh dilakukan, seperti: hendaknya anda jangan lekas menyukai seseorang secara mendalam pada waktu yang singkat. Sebaiknya perasaan cinta dan suka ber-kembang secara bertahap sesuai dengan perjalanan waktu, sehingga memberi ruang untuk terus menambah cinta secara konsisten, sekaligus membuka peluang untuk mengetahui sahabat secara mendalam.
Kita boleh mengambil contoh dari perilaku Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu ketika ada orang yang memberi kesaksian dalam sebuah kisah di depannya. Umar berkata: "Aku tidak mengenalmu, namun demikian hal ini tidak menjadi soal. Yang penting adalah, tunjukkan kepadaku orang yang mengenalmu." Tiba-tiba di antara hadirin ada yang menyahut: "Aku mengenalnya." Umar balik bertanya kepada orang tersebut: "Bagaimana engkau mengenalnya?" Orang tersebut menjawab: "Dia adalah seorang yang jujur dan mulia." Umar kembali bertanya: "Apakah dia adalah tetangga terdekatmu, yang engkau ketahui perbuatannya sepanjang siang dan malam, mengetahui kapan ia masuk atau keluar rumahnya?" Ia menjawab: "Tidak." Umar melanjutkan pertanyaannya: "Atau, dia adalah rakan bisnes yang melakukan transaksi denganmu, baik menggunakan Dinar atau Dirham, yang dapat menjadi bukti atas kewara'annya?" Ia kembali menjawab: "Tidak." Umar bertanya lagi: "Atau, dia pernah menemanimu dalam suatu perjalanan, yang dapat menjadi bukti kemuliaan akhlaknya?" Ia menjawab: "Tidak." Maka Umar berkata: "Jika demikian, bererti kamu tidak mengenalnya." Lalu ia berpaling kepada orang yang bersaksi: �Tunjukkan kepadaku orang yang mengenalmu!� (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam kitab Sunan-nya, kitab Adabul-Qadhi X/ 125-126. Riwayat ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitab al-Irwa no. 2637, VIII/260)
jangan memuji seseorang
kecuali setelah engkau bergaul dengannya
jangan pula kau caci
padahal belum pernah bersamanya
pujian terhadap seseorang
yang belum teruji adalah salah
namun mencacinya setelah memuji
adalah kebohongan yang paling hina (dabud-Dunya wad-Din, hlm. 167-168. 147 )
Untuk itu, ikutilah nasihat seorang penyair dalam bait-bait berikut ini:
jangan cepat tertarik dengan sahabat
kecuali setelah kau tahu watak kepribadiannya
apa yang ia sembunyikan darimu
dan apa yang ia korbankan untukmu
apa yang mampu ia lakukan
dan apa yang membuatnya berat hati
jika dalam saat tertentu kau tertimpa derita
apa yang ia lakukan untuk membelamu
pada saat itulah kau akan tahu
besarkah atau kecilkah kesetiaan sahabatmu
Penyair lain berkata:
jangan memuji orang
yang baru kau ajak berkawan
kecuali setelah tahu
sejauh mana erti persahabatan baginya
Sebagian orang ada yang menunjukkan rasa persahabatan, semangat ukhuwah, cinta, dan itsar, semasa kanak-kanak, pubertas hingga menjelang dewasa, iaitu ketika masih bersama-sama di bangku sekolah. Namun ketika menginjak fasa kehidupan yang penuh dengan beban keluarga, termasuk isteri dan anak, tuntutan kerja dan mencari rezeki, persahabatan masa lalu pudar sama sekali.
Kerana itu, berilah tempoh waktu yang cukup kepada dirimu untuk mengenal hakikat sahabat, dan selama dalam proses tersebut cintamu terus berkembang setahap demi setahap. Hal ini lebih baik daripada harus melonjak ke anak tangga cinta yang paling tinggi sebelum mengenalnya dengan baik, namun kemudian kecewa kerana tahu bahawa sahabatmu tidak sesuai dengan kriteria ideal yang pernah Anda angan-angankan. Sayangnya, gaya inilah yang paling banyak dilakukan oleh manusia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
�Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.� (Lihat catatan kaki no. 293)
Sekalipun tidak ada jaminan terhindar dari perasaan kecewa, cinta yang bertahap memiliki maslahat lain, mengingat cinta yang langsung melonjak ke puncak tidak mempunyai kesempatan untuk bertambah, sehingga dikhawatirkan terus berkurang atau melemah. "Segala sesuatu jika sudah mencapai puncak kesempurnaan, nescaya terus berkurang." (Merupakan bait pertama dari puisi Abul-Baqa' ar-Rundi ketika meratapi kehancuran Andalus. Bait pertama�secara lengkap� adalah seperti berikut:segala sesuatu yang mencapai puncak kesempurnaan pasti memiliki kekurangan maka jangan ada manusia yang terpedaya dengan hidup yang sejahtera Puisi (qashidah) ini terdiri dari empat puluh bait, seperti yang tercatat dalam kitab Nafhuth-Thib VI/234�dan berikutnya. Ketikaqashidah ini didendang-kan, Andalus belum hancur secara total, namun baru dalam fasa kehancuran kerajaan-kerajaan Islam terkemuka di sana, seperti Cordova, Valencia, Seville, dan Mursiyah. Lihat Mashra' Ghamathah, hlm. 115. ) Juga seperti yang dinyatakan oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu. Tiada sesuatu yang mencapai tahap lengkap dan sempurna kecuali akan berkurang." (Dari riwayat Umar radhiyallahu 'anhu, ketika menafsirkan firman Allah (5:3) dalam surat al-Ma'idah. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsirnya IX/519, no. 11083, dari Harun bin 'Antarah, dari ayahnya; ia berkata: ketika turun ayat (5:3)iaitu di sela-sela Haji Akbar, Umar menangis. Maka RasuMhhshallallahu 'alaihiwasallam bertanya: "Apa gerangan yang membuatmu menangis?" Umar menjawab, "Aku menangis kerana agama kita selama ini terus berkembang bertambah. Jika sudah sempurna, maka tiada sesuatu yang sempurna kecuali kemudian berkurang!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyahut: �"Engkau benar.� Riwayat ini juga dicatat oleh as-Suyuthi dalam kitab ad-Durrul-Mantsur 11/ 258, ia juga menisbatkannya kepada Ibnu Abi Syaibah. Adapun Ibnu Katsir menyebutnya dalam kitab Tafsirnya 11/13; ia berkata: makna riwayat ini diperkuat oleh sebuah hadith yang tetap (kuat), iaitu: �Sesungguhnya Islam berawal dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang yang dianggap asing.� ) Cinta yang terus tumbuh sekalipun perlahan adalah lebih baik dari cinta yang cepat mencapai pucak lalu surut secara pasti.
Di antara tindakan preventif lainnya adalah mengetahui beberapa sifat manusia yang disarankan oleh para ulama dan orang-orang bijak agar dihindari. Hendaknya Anda mengetahui orang yang tidak tepat dijadikan sahabat. Pada satu sisi, agar tidak kecewa di kemudian hari, dan di sisi lain, kerana orang itu dinilai dari perilaku sahabatnya.
mengenai seseorang
jangan bertanya kepadanya
tapi tanyalah sahabat terdekatnya
kerana tiap orang adalah cermin dari sahabatnya
jika engkau hidup dalam sebuah masyarakat
maka pilihlah orang-orang terbaik sebagai sahabat
jangan bersahabat dengan orang-orang rosak
kerana engkau akan hancur bersamanya (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 167)
Seorang penyair berkata:
pilihlah sahabat dan banggalah bersamanya
sungguh, orang itu dinilai sesuai sahabat dekatnyajangan bersahabat dengan orang-orang hinakerana ia akan menularkan kehinaanseperti penyakit kulit
jauhilah orang yang banyak berdusta
jangan biarkan ia mendekatimuorang yang banyak berdustasungguh akan membuat orang baik menjadi terhina
Seorang bijak berkata: "Kenalilah sahabatmu dengan me-ngenali orang yang bersahabat dengannya sebelum kamu." (Ibid.)
Berkata seorang A'rabi: "Kenalilah manusia dengan rae-ngenali sahabat-sahabatnya." (Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Mukhtar minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 135.)
Sebagian nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya adalah: "Wahai anakku, jangan tertarik untuk bersahabat dengan orang bodoh, kerana ia akan mengira engkau suka dengan tindakannya. Dan jangan meremehkan kemarahan orang-orang bijak, kerana ia akan menjauhimu."
Ada juga yang berkata: "Musuh yang pintar lebih baik dari sahabat yang bodoh."
Seorang penyair berkata:
jika engkau ingin menjalin persahabatan
jangan mengira semua panggilan 'akhi' sebagai buktinyajika engkau harus menentukan pilihandekatilah orang yang cerdasdan punya rasa malu
kerana kecerdasan tidak ada padanan jika semua sifat baik dibandingkan (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 168)
Jangan bersahabat dengan orang yang mencaci sahabat-sahabatmu di depanmu, orang yang memuji dan mengang-katmu secara berlebihan, dan begitu pula dengan orang yang ambisius untuk mencapai kedudukan tertentu atau meng-klaimnya...
Seorang bijak berkata: "Jika kawanmu sanggup menyebut keburukan seseorang di hadapanmu, maka ketahuilah bahawa engkau adalah giliran berikutnya."
Yang lain berkata: "Orang yang menyanjungmu melampaui batas kadar dirimu, adalah orang yang harus dihindari."
Ada juga yang mengatakan: "Persahabatan yang paling mulia adalah dengan orang yang tidak mengklaim suatu kedu-dukan padahal ia layak memangkunya, dan persahabatan yang paling buruk adalah dengan orang yang mengklaim suatu kedudukan padahal ia tidak layak untuk menerimanya."
Jangan bersahabat dengan orang yang menjauhi dan membenci kaum fakir, namun di sisi lain ia berusaha keras untuk dekat dan suka dengan orang kaya. Kerana kapan saja dia boleh berubah menghindar darimu jika engkau jatuh susah. Orang seperti itu tidak menjunjung persahabatan yang jujur dan tulus:
banyak sahabat yang kaudapati baik hati
selama engkau bergelimang harta dunia
ia berpura-pura menunjukkan cinta murni
bertemu denganmu penuh kehangatan dan ceria
namun jika roda sang waktu melindasmu
ia ikut berbalik memusuhi dan membenci
untuk itu tolaklah cinta sepenuhnya jika muncul
dari orang yang dekat dengan orang kaya
namun menjauh setelah jatuh sengsara
terimalah cinta dari orang yang bersikap sama
apakah engkau sengsara atau bahagia (Ibid, hlm. 166)
Jangan bersahabat dengan orang yang tidak objektif ketika marah. Luqman berpesan kepada putranya: "Anakku, jika engkau ingin menjadikan seseorang sebagai sahabat, maka pancinglah kemarahannya terlebih dulu. Jika ia sanggup objektif ketika marah�jadikanlah ia sahabat. Namun jika tidak, jauhilah ia."
Orang bijak berkata: "Siapa yang tidak mematangkan� persahabatan�dengan ujian sebelum memberi kepercayaan, dan tidak mematangkan kepercayaan sebelum keakraban, nescaya cintanya akan berbuah penyesalan." (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 167)
Ada pula yang berkata: "Galilah secara mendalam, nescaya terbuka hakikatnya." (Ibid.)
Berkata seorang orator: "Bersikap hati-hati sebelum teruji adalah lebih baik daripada menjalin persahabatan kerana terpikat belaka.(Ibid.)
Seorang sastrawan berkata: "Jangan memberi kepercayaan kepada sahabat sebelum menjalani ujian, dan jangan menyerang musuh sebelum mengukur kemampuan."(Ibid hal.166.)
Kaum bijak berkata: "Kenalilah manusia dari perbuatannya, dan bukan dari perkataannya. Dan kenalilah ketulusannya dari mata, bukan dari ucapannya."(Ibid.)
Dalam kitab Mukhtashar Minhqjil-Qashidin dinyatakan: "Secara umum, sahabat yang harus dipilih harus memiliki lima kriteria: cerdas, berakhlak mulia, tidak fasik, tidak mubtadi� (mengamalkan perbuatan bid'ah), dan tidak bercita-cita terhadap pesona kenikmatan dunia." (Mukhtashar Minhajil-Qashidin, hlm. 95)
Al-Mawardi rahimahullah menyimpulkan sifat-sifat orang yang layak dijadikan sahabat setelah proses perkenalan�yang merupakan modal keserasian�dalam empat kriteria: pertama, seorang yang berpikiran cerdas dan menuntunnya ke jalan yang baik. Kedua, ketaatan kepada agama yang mendorongnya untuk senantiasa berbuat baik. Ketiga, berakhlak mulia, berperilaku baik, menyukai dan mengajak kepada kebaikan, benci dan melarang dari kejahatan. Keempat, kedua belah pihak menyukai sahabatnya dan memiliki hasrat untuk menjalin ukhuwah dengannya. (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 168-169.)
Sebagai penutup, kami tekankan bahawa risalah kecil yang memuat beberapa virus perusak ukhuwah ini, jangan dijadikan oleh para pembaca budiman sebagai bahan untuk menilai sahabat-sahabat anda, kerana jika itu dilakukan, anda akan memilih 'uzlah dan menyendiri. Namun yang harus anda lakukan adalah menjadikannya sebagai bahan introspeksi, menilai diri sendiri dengan segalayang terungkap di dalamnya, memperbaiki kadar ukhuwah dan menunaikan semua haknya. Hanya Allah tempat memohon pertolongan dan kepada-Nya kita bertawakkal. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, dan segenap keluarga serta sahabatnya.
Sebahagian berkata:
tanda seorang sahabat
dalam pandangan kaum cerdik
adalah cinta tanpa pamrih
dan kejujuran merupakan modal wajib
secara pasti
dia adalah cinta kerana Ilahi
Keistimewaan ungkapan puitis di atas adalah, ia menjelaskan bentuk hubungan yang paling baik dengan menyatakan bahawa persahabatan atau ukhuwah adalah hubungan cinta yang berdasarkan iman, bebas pamrih dan ikhlas kerana Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Al-Kindi berkata: "Sahabat adalah manusia, dia adalah kamu, hanya saja dia adalah orang lain."
Beberapa penyair berselisih ketika mencoba mendefinisi-kan kata 'sahabat', dan perselisihan tersebut dirangkai dalam bait-bait berikut:
mereka berkata sahabat
adalah orang yang tulus cintanya
dan tidak menipu
yang lain berkata
ia adalah yang tidak menuduh
dengan mengatakan 'kamu'atau 'saya'
ada juga yang berkata
ia adalah kata yang tidak jelas maknanya
dalam kehidupan maya
Seperti yang tertera dalam ungkapan bait terakhir, ada yang berpendapat bahawa 'sahabat' adalah kata yang tidak memiliki makna. Sementara yang lain berpendapat bahawa 'sahabat' adalah kata yang tidak berjenis/berbentuk.
Ketika di antara mereka ada yang ditanya: "Tunjukkan padaku orang yang darinya ku dapatkan kedamaian, baik ketika senang mahupun susah." Ia menjawab: "Orang seperti itu adalah ibarat barang yang hilang yang tidak akan pernah ditemukan."
Seorang Badwi ditanya: "Bagaimana bentuk kehangatanmu dengan seorang sahabat." Ia balik bertanya: "Sahabat? Apakah ada yang disebut dengan sahabat? Atau apakah ada yang serupa dengan sahabat? Bahkan, adakah bayangan yang menyerupai dengan kembaran sahabat itu?"
Seorang penyair berkata:
kami mendengar cerita tentang sahabat
tapi selamanya belum pernah ku lihat
ia hadir di tengah manusia
aku mengira ia hanya legenda
atau dongeng orang tua
yang diceritakan penuh keindahan belaka
Dengan alasan di atas, ada di antara mereka yang lebih memilih mengasingkan diri dan menyepi, ada juga yang mewanti-wanti agar tidak terjebak kamuflase persahabatan, bahkan ada yang mencela orang yang selalu mencari sahabat.
Seorang penyair berkata:
menghadapi musuh
berhati-hatilah sekali
tapi menghadapi sahabat
berhati-hatilah seribu kali
sahabat boleh saja berbalik memusuhi
sehingga ia lebih mengerti
bagaimana cara menyakiti (Bahjatul-Majalis V/696)
Penyair lain berkata:
musuh yang tadinya kawan
sangatlah lihai
maka jangan terus
mencari sahabat untuk didekati
kebanyakan racun yang kau temuisungguh berasaldari makanan dan minuman sehari-hari (Al-Khaththabi, al-�Uzlah, hlm. 58, dan Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 171. 140)
Dari ungkapan di atas kita menyimpulkan bahawa alasan yang mendorong mereka bersikap seperti itu adalah pengalaman-pengalaman pahit yang mereka alarm sepanjang menjalin persahabatan. Mereka pernah kecewa dengan sahabat-sahabat dekatnya...dan kerana kekecewaan tersebut kerap terulang kembali, akhirnya mereka yakin bahawa tidak pernah ada yang dinamakan 'sahabat'.
Di zaman klasik, Labid berkata:
telah tiada orang-orang yang ku anggap kawan sejati
tinggallah diriku hidup
di tengah masyarakat kerdil
ibarat kulit yang terkelupas
dari penyakit yang sudah kering (Al-Khaththabi, al-'Uzlah, hlm. 91. 141 )
Berkata al-Busti:
kebanyakan manusiayang datang mengunjungimujika bertemujustru lebih banyak menambah dosa
maka janganlah engkau peduli
apakah mereka mahu pergi
atau datang lagi
Seorang penyair berkata:
telah tiada
orang yang layak diteladani
ia selalu mengingkari segala perbuatan
tinggallah diriku di tengah manusia tak berguna hidup saling mengandalkan ibarat si buta yang menjaga orang yang sama butanya
Berkata 'Alam al-Huda:
telah tiada orang
yang jika kau beri kebaikan
membalasnya dengan kebaikan sama
atau lebih sempurna
tinggallah diriku di tengah kaum
yang buruk perangainya
selalu mengingkari kebaikanyang pernah kuberi padanya
Ada juga yang berkata: "Jika bukan kerana khawatir mendapat godaan, aku pasti tinggal di belahan bumi yang tidak berpenghuni." (Ash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 93. Dalam buku itu, ujaran tersebut dinisbatkan kepada Ali radhiyallahu 'anhu)
Ketika ada yang ditanya: "Kenapa engkau tidak mengangkat seseorang sebagai sahabat?" Ia menjawab: "Agar aku terbebas dari musuh. Aku sedang mencari sahabat dari golongan jin, kerana dialah yang pernah mengecewakanku ketika bersahabat dengan manusia." (Ibid, hlm. 101)
Seorang kakek tua dari kota ar-Ray menulis ungkapan berikut ini di pintu rumahnya: "Semoga Allah membalas budi baik orang yang tidak kami kenal dan tidak mengenal kami. Sementara bagi sahabat-sahabat karib, semoga Allah tidak memberinya balasan apa pun, kerana kami tidak menderita seperti ini kecuali kerana ulahnya." (Bahjatul-Majalis II/673.)
Di antara mereka ada yang berkata: "Menyepilah dan jangan memiliki banyak sahabat, kerana tiada yang boleh menyakitimu kecuali orang-orang yang kau kenal." Lalu ia melantunkan bait puisi berikut ini:
semoga Allah membalas budi baikorang yang tak pernah terikat cinta dengan kamisehingga harus saling mengenali
tiada racun yang dapat membunuhatau penyakit yang membawa deritakecuali berasal dari orangyang dicinta dan dikenali (Ash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 95, dan pada bagian lain (hlm. 10) bait pertama berbunyi:waspadalah terhadap kebencianyang muncul dari kawansesungguhnya tiada orang yang lebih menyakitimukecuali orang yang kaukenal... dan seterusnyaJuga dalam kitab Minhajul-'Abidin karya al-Ghazali, hlm. 47, dengan redaksi yang serupa)
Dalam pembahasan terdahulu, kami nukilkan kata-kata seorang bijak mengenai sahabat yang justru berbahaya jika dekat dengan kita: "Dia adalah orang yang jika dekat, ia berusaha mengetahui rahasia, mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan kita, memerhatikan kesalahan dan kekurangan, menghitung kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disengaja, menghafal saat-saat kita tergelincir ucapan atau perbuatan spontan dalam keadaan biasa mahupun sedang marah, atau di dalam pembicaraan terbuka dan lepas yang siapa pun sulit terhindar dari kelalaian. Kemudian ia menjadikan semua hal di atas sebagai senjata untuk menjatuhkan sahabatnya di kala terjadi perselisihan." (Lihat catatan kaki no. 190.)
Ungkapan di atas merupakan gambaran kekecewaan yang sangat dahsyat, kerana ulah keji sahabatnya yang membocor-kan rahasia dan beberapa masalah pribadi yang ia ketahui akibat hubungan persahabatan yang begitu erat.
Kerana itu, mereka menganggap membuka rahsia sebagai benang merah yang mengakhiri persahabatan. Mengenai hal ini seorang penyair berkata:
jika seseorang melakukan kesalahan
dalam tiga hal
'juallah ia walau hanya dengan segenggam debu
ketulusan juga kejujuran
dan yang terakhir
menyimpan rahsia di dalam hati
Sementara itu ada pula yang bingung menghadapi feno-mena sahabat, kerana sikapnya yang saling bertentangan dan selalu berubah. Ia menggambarkan kebingungannya dalam untaian puisi:
ku lihatpada dirimu
kumpulan akhlak baik dan buruk
engkau adalah sahabat yang
persis dengan sifat yang ku sebut
dibilang dekat tapi jauh
dungu tapi cerdas
sesaat dermawan lalu bakhil
taat tapi juga maksiat
lisanku akhirnya bingung
harus menghina atau memuji
hatiku pun menilai
dirimu antara tidak tahu dan mengerti
engkau bagaikan bunglon
sehingga membuatku seakan buta
tak mengerti
apakah engkau angin semilir atau badai prahara
aku tidak menipumu
menasihati pun tidak
kerana tak tahu
ku putuskan tuk tidak menilaimu
Ada juga yang kecewa kerana pernah dikhianati oleh sahabatnya; ia berkata:
ketahuilah bahawa orang-orang
yang pernah kupilih sebagai sahabat
bagaikan ular pasir
yang tak segan menggigit kawan
semula mereka kuanggap baik
namun setelah berteman
aku bagaikan orang
yang tinggal di lembah kering tiada tumbuhan
Di antara mereka, ada yang menyatakan dalam puisinya:
kesetiaan adalah sebuah kata
yang pernah kudengar saja
namun tak pernah kutemukan wujud dan bekasnya
aku tak kan pernah menuntut dari siapa saja
aku benar-benar kecewa
dengan sahabat yang tega berkhianat
siapa yang berangan-angan
menemukan sahabat sejati di bumi ini
dia adalah manusia
yang tak pernah mengenal hakikatnya sendiri
Penyair lain mengatakan:
jalanilah hidup ini
bersama seorang sahabat setia
dapat dipercaya kapan saja
namun jika tidak
jalanilah hidup ini dengan seorang diri
Seorang pendamba sahabat menulis pengalaman pahit petualangannya dalam mencari kawan sejati: "Banyak sudah gurun telah ku harungi, negeri ku singgahi, lautan ku seberangi, dan peninggalan ku amati. Telah ku datangi berbagai belahan bumi dan banyak manusia yag ku pergauli, namun tak pernah ku temukan seorang sahabat setia dan teman sejati. Jika ada yang membaca tulisan ini, maka janganlah terpedaya untuk bersahabat dengan siapa pun jua." (Ash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 103. 144 )
Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahawa peni-laianyang mereka ungkapkan� walaupun tidak persis sama�menunjukkan begitu hebat guncangan jiwa yang disebabkan oleh ulah sahabat, sekaligus menegaskan perihal bahaya meremehkan hak-hak persahabatan, sehingga pengetahuan tentang virus-virus perusak ukhuwah merupakan keperluan yang tidak boleh ditawar lagi.
Anda boleh membayangkan betapa sakitnya jiwa yang begitu dahsyat sehingga ada di antara mereka yang merasa berat untuk menerima sebuah kata 'sahabat' atau 'teman', kerana justru sahabatlah yang membuatnya menderita. Ada juga yang lebih memilih hidup menyepi jauh dari keramaian manusia, kerana di sanalah ia mendapatkan ketenteraman dan kedamaian.
Abul-Qasim al-Wazir menyatakan dalam puisinya:
aku damai ketika menyepi sehingga
jika kulihat manusia segera kuterperanjat lama ku cuba untuk menjalin persahabatan
namun selalu putus di tengah jalan
aku tak pernah berhasil
menemukan sahabat sejati
yang tadinya kusegani
namun akhirnya harus kuhindari
Sejauh mana prasangka baik terhadap sahabat, upaya untuk memenuhi haknya, tulus dalam mencintainya, dan pengorbanan yang diberikan kepadanya, sejauh itulah kekecewaan yang ia rasakan, jika sahabatnya tidak memiliki apa yang diharapkan olehnya. Akhirnya ia tidak memiliki jalan keluar apa pun selain harus menempuh hidup menyendiri.
Pada suatu hari, Sufyan mengunjungi seorang alim dan shalih yang hidup menyepi dari keramaian manusia. Sufyan berkata: "Kenapa engkau hidup menyendiri jauh dari manusia, padahal mereka memerlukanmu?" Ia menjawab: "Menyendiri adalah jalan keluar, zaman sudah rusak dan semua sahabat telah berubah. Untuk itu, aku melihat bahawa menyendiri adalah jalan terbaik untuk menenteramkan hati." Lalu ia melantunkan sebuah puisi:
jangan khawatir
untuk hidup sendiri dan menyepi
hidup di zaman ini
lebih baik terus menyepi
pupus sudah sahabat
dan tiada lagi persahabatan
melainkan kepura-puraan
dengan ucapan dan perbuatan
namunjika engkau singkap
hati yang tersembunyi dalam dada
yang kaulihat adalah
serbuk racun pekat penuh boleh
Ada di antara mereka yang ditegur kerana hidup menyepi, maka ia jawab: "Selama empat puluh tahun aku mencuba untuk bersahabat. Namun kenyataannya mereka tidak pernah mahu memaafkan kesalahan, tidak juga mahu berkorban ketika aku perlu bantuan. Menurutku, menyibukkan diri dengan sahabat hanya akan membuang umur, menambah jauh dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, semakin banyak memupuk kemarahan, dan terbelenggu nafsu dari waktu ke waktu." (Ash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 95. 145 )
Ketika Urwah bin Zubair membangun sebuah rumah kecil yang jauh dari keramaian, ada yang menegur: "Mengapa engkau menghindar dari manusia?" Maka ia menjawab: "Kerana lisan mereka mengumbar kata-kata tak berguna, telinga mereka gemar mendengar fitnah dan cela, hati mereka lebih sering lupa, agama mereka sangat rapuh, perbuatan maksiat menyebar dan merata.
Sehingga aku khawatir dengan godaan dan angkara, untuk itu, aku menyingkir dari mereka semua, agar selamat dan bahagia." (Ibid, hlm. 95 dan 96. Ungkapan serupa juga terdapat dalam al-Mukhtin minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 66 )
Setelah menguraikan ucapan dan pandangan orang-orang yang lebih memilih menyendiri, dan setelah mendengar begitu berat kekecewaan mereka terhadap sahabat dan perasaan kehilangan sahabat. Andaikan anda adalah orang yang kecewa kerana perlakuan buruk sahabat-sahabat dekat sehingga seakan-akan anda tidak mempunyai seorang pun sahabat sejati, adakah sesuatu yang dapat mengobati guncangan jiwa yang anda rasakan?
Jawabannya adalah: tidak ada yang dapat menggantikan kedamaian dan keakraban persahabatan selain sesuatu yang lebih tinggi nilainya dari itu semua. Ia adalah kedamaian dan kedekatan dengan Allah dan tidak merasa perlu dengan manusia lagi, merasakan nikmat munajat dan berdialog dengan-Nya, dan berkonsentrasi secara total dalam menyembah, berdzikir dan berdoa kepada-Nya.
Ketika orang yang memilih melakukan hal di atas ditanya: "Apakah engkau memiliki sesuatu yang membuatmu tenteram dan damai?" la menjawab: "Ya, dia adalah Mushhaf (al-Qur'an)." Lalu ia melantunkan sebuah puisi:
semua bukuku di sinitak pernah keluar dari tempat tidurkudi dalamnya ada penawarbagi luka yang terpendam di hati
Seorang penyair berkata:
siapa yang mengenal Allah
namun tak cukup hanya dengan mengenal Allah
maka ia adalah seorang yang sengsara
manusia tidak boleh berbuat apa-apa
dengan gemerlap harta
kemuliaan tertinggi hanyalah milik orang bertakwa
ia tak bergeming dengan nestapa yang menimpa
selama taat kepada Allah
apa erti nestapa dan derita. (Minhajul-'Abidin, hlm. 71-72)
Selain jalan keluar yang bersifat pengubatan, sebenarnya ada upaya preventif yang boleh dilakukan, seperti: hendaknya anda jangan lekas menyukai seseorang secara mendalam pada waktu yang singkat. Sebaiknya perasaan cinta dan suka ber-kembang secara bertahap sesuai dengan perjalanan waktu, sehingga memberi ruang untuk terus menambah cinta secara konsisten, sekaligus membuka peluang untuk mengetahui sahabat secara mendalam.
Kita boleh mengambil contoh dari perilaku Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu ketika ada orang yang memberi kesaksian dalam sebuah kisah di depannya. Umar berkata: "Aku tidak mengenalmu, namun demikian hal ini tidak menjadi soal. Yang penting adalah, tunjukkan kepadaku orang yang mengenalmu." Tiba-tiba di antara hadirin ada yang menyahut: "Aku mengenalnya." Umar balik bertanya kepada orang tersebut: "Bagaimana engkau mengenalnya?" Orang tersebut menjawab: "Dia adalah seorang yang jujur dan mulia." Umar kembali bertanya: "Apakah dia adalah tetangga terdekatmu, yang engkau ketahui perbuatannya sepanjang siang dan malam, mengetahui kapan ia masuk atau keluar rumahnya?" Ia menjawab: "Tidak." Umar melanjutkan pertanyaannya: "Atau, dia adalah rakan bisnes yang melakukan transaksi denganmu, baik menggunakan Dinar atau Dirham, yang dapat menjadi bukti atas kewara'annya?" Ia kembali menjawab: "Tidak." Umar bertanya lagi: "Atau, dia pernah menemanimu dalam suatu perjalanan, yang dapat menjadi bukti kemuliaan akhlaknya?" Ia menjawab: "Tidak." Maka Umar berkata: "Jika demikian, bererti kamu tidak mengenalnya." Lalu ia berpaling kepada orang yang bersaksi: �Tunjukkan kepadaku orang yang mengenalmu!� (Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam kitab Sunan-nya, kitab Adabul-Qadhi X/ 125-126. Riwayat ini dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam kitab al-Irwa no. 2637, VIII/260)
jangan memuji seseorang
kecuali setelah engkau bergaul dengannya
jangan pula kau caci
padahal belum pernah bersamanya
pujian terhadap seseorang
yang belum teruji adalah salah
namun mencacinya setelah memuji
adalah kebohongan yang paling hina (dabud-Dunya wad-Din, hlm. 167-168. 147 )
Untuk itu, ikutilah nasihat seorang penyair dalam bait-bait berikut ini:
jangan cepat tertarik dengan sahabat
kecuali setelah kau tahu watak kepribadiannya
apa yang ia sembunyikan darimu
dan apa yang ia korbankan untukmu
apa yang mampu ia lakukan
dan apa yang membuatnya berat hati
jika dalam saat tertentu kau tertimpa derita
apa yang ia lakukan untuk membelamu
pada saat itulah kau akan tahu
besarkah atau kecilkah kesetiaan sahabatmu
Penyair lain berkata:
jangan memuji orang
yang baru kau ajak berkawan
kecuali setelah tahu
sejauh mana erti persahabatan baginya
Sebagian orang ada yang menunjukkan rasa persahabatan, semangat ukhuwah, cinta, dan itsar, semasa kanak-kanak, pubertas hingga menjelang dewasa, iaitu ketika masih bersama-sama di bangku sekolah. Namun ketika menginjak fasa kehidupan yang penuh dengan beban keluarga, termasuk isteri dan anak, tuntutan kerja dan mencari rezeki, persahabatan masa lalu pudar sama sekali.
Kerana itu, berilah tempoh waktu yang cukup kepada dirimu untuk mengenal hakikat sahabat, dan selama dalam proses tersebut cintamu terus berkembang setahap demi setahap. Hal ini lebih baik daripada harus melonjak ke anak tangga cinta yang paling tinggi sebelum mengenalnya dengan baik, namun kemudian kecewa kerana tahu bahawa sahabatmu tidak sesuai dengan kriteria ideal yang pernah Anda angan-angankan. Sayangnya, gaya inilah yang paling banyak dilakukan oleh manusia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
�Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi musuhmu pada suatu saat nanti. Dan bencilah musuhmu sesederhana mungkin, siapa tahu ia menjadi sahabat dekatmu pada suatu saat nanti.� (Lihat catatan kaki no. 293)
Sekalipun tidak ada jaminan terhindar dari perasaan kecewa, cinta yang bertahap memiliki maslahat lain, mengingat cinta yang langsung melonjak ke puncak tidak mempunyai kesempatan untuk bertambah, sehingga dikhawatirkan terus berkurang atau melemah. "Segala sesuatu jika sudah mencapai puncak kesempurnaan, nescaya terus berkurang." (Merupakan bait pertama dari puisi Abul-Baqa' ar-Rundi ketika meratapi kehancuran Andalus. Bait pertama�secara lengkap� adalah seperti berikut:segala sesuatu yang mencapai puncak kesempurnaan pasti memiliki kekurangan maka jangan ada manusia yang terpedaya dengan hidup yang sejahtera Puisi (qashidah) ini terdiri dari empat puluh bait, seperti yang tercatat dalam kitab Nafhuth-Thib VI/234�dan berikutnya. Ketikaqashidah ini didendang-kan, Andalus belum hancur secara total, namun baru dalam fasa kehancuran kerajaan-kerajaan Islam terkemuka di sana, seperti Cordova, Valencia, Seville, dan Mursiyah. Lihat Mashra' Ghamathah, hlm. 115. ) Juga seperti yang dinyatakan oleh Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu. Tiada sesuatu yang mencapai tahap lengkap dan sempurna kecuali akan berkurang." (Dari riwayat Umar radhiyallahu 'anhu, ketika menafsirkan firman Allah (5:3) dalam surat al-Ma'idah. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsirnya IX/519, no. 11083, dari Harun bin 'Antarah, dari ayahnya; ia berkata: ketika turun ayat (5:3)iaitu di sela-sela Haji Akbar, Umar menangis. Maka RasuMhhshallallahu 'alaihiwasallam bertanya: "Apa gerangan yang membuatmu menangis?" Umar menjawab, "Aku menangis kerana agama kita selama ini terus berkembang bertambah. Jika sudah sempurna, maka tiada sesuatu yang sempurna kecuali kemudian berkurang!" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyahut: �"Engkau benar.� Riwayat ini juga dicatat oleh as-Suyuthi dalam kitab ad-Durrul-Mantsur 11/ 258, ia juga menisbatkannya kepada Ibnu Abi Syaibah. Adapun Ibnu Katsir menyebutnya dalam kitab Tafsirnya 11/13; ia berkata: makna riwayat ini diperkuat oleh sebuah hadith yang tetap (kuat), iaitu: �Sesungguhnya Islam berawal dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang yang dianggap asing.� ) Cinta yang terus tumbuh sekalipun perlahan adalah lebih baik dari cinta yang cepat mencapai pucak lalu surut secara pasti.
Di antara tindakan preventif lainnya adalah mengetahui beberapa sifat manusia yang disarankan oleh para ulama dan orang-orang bijak agar dihindari. Hendaknya Anda mengetahui orang yang tidak tepat dijadikan sahabat. Pada satu sisi, agar tidak kecewa di kemudian hari, dan di sisi lain, kerana orang itu dinilai dari perilaku sahabatnya.
mengenai seseorang
jangan bertanya kepadanya
tapi tanyalah sahabat terdekatnya
kerana tiap orang adalah cermin dari sahabatnya
jika engkau hidup dalam sebuah masyarakat
maka pilihlah orang-orang terbaik sebagai sahabat
jangan bersahabat dengan orang-orang rosak
kerana engkau akan hancur bersamanya (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 167)
Seorang penyair berkata:
pilihlah sahabat dan banggalah bersamanya
sungguh, orang itu dinilai sesuai sahabat dekatnyajangan bersahabat dengan orang-orang hinakerana ia akan menularkan kehinaanseperti penyakit kulit
jauhilah orang yang banyak berdusta
jangan biarkan ia mendekatimuorang yang banyak berdustasungguh akan membuat orang baik menjadi terhina
Seorang bijak berkata: "Kenalilah sahabatmu dengan me-ngenali orang yang bersahabat dengannya sebelum kamu." (Ibid.)
Berkata seorang A'rabi: "Kenalilah manusia dengan rae-ngenali sahabat-sahabatnya." (Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Mukhtar minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 135.)
Sebagian nasihat Luqman al-Hakim kepada anaknya adalah: "Wahai anakku, jangan tertarik untuk bersahabat dengan orang bodoh, kerana ia akan mengira engkau suka dengan tindakannya. Dan jangan meremehkan kemarahan orang-orang bijak, kerana ia akan menjauhimu."
Ada juga yang berkata: "Musuh yang pintar lebih baik dari sahabat yang bodoh."
Seorang penyair berkata:
jika engkau ingin menjalin persahabatan
jangan mengira semua panggilan 'akhi' sebagai buktinyajika engkau harus menentukan pilihandekatilah orang yang cerdasdan punya rasa malu
kerana kecerdasan tidak ada padanan jika semua sifat baik dibandingkan (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 168)
Jangan bersahabat dengan orang yang mencaci sahabat-sahabatmu di depanmu, orang yang memuji dan mengang-katmu secara berlebihan, dan begitu pula dengan orang yang ambisius untuk mencapai kedudukan tertentu atau meng-klaimnya...
Seorang bijak berkata: "Jika kawanmu sanggup menyebut keburukan seseorang di hadapanmu, maka ketahuilah bahawa engkau adalah giliran berikutnya."
Yang lain berkata: "Orang yang menyanjungmu melampaui batas kadar dirimu, adalah orang yang harus dihindari."
Ada juga yang mengatakan: "Persahabatan yang paling mulia adalah dengan orang yang tidak mengklaim suatu kedu-dukan padahal ia layak memangkunya, dan persahabatan yang paling buruk adalah dengan orang yang mengklaim suatu kedudukan padahal ia tidak layak untuk menerimanya."
Jangan bersahabat dengan orang yang menjauhi dan membenci kaum fakir, namun di sisi lain ia berusaha keras untuk dekat dan suka dengan orang kaya. Kerana kapan saja dia boleh berubah menghindar darimu jika engkau jatuh susah. Orang seperti itu tidak menjunjung persahabatan yang jujur dan tulus:
banyak sahabat yang kaudapati baik hati
selama engkau bergelimang harta dunia
ia berpura-pura menunjukkan cinta murni
bertemu denganmu penuh kehangatan dan ceria
namun jika roda sang waktu melindasmu
ia ikut berbalik memusuhi dan membenci
untuk itu tolaklah cinta sepenuhnya jika muncul
dari orang yang dekat dengan orang kaya
namun menjauh setelah jatuh sengsara
terimalah cinta dari orang yang bersikap sama
apakah engkau sengsara atau bahagia (Ibid, hlm. 166)
Jangan bersahabat dengan orang yang tidak objektif ketika marah. Luqman berpesan kepada putranya: "Anakku, jika engkau ingin menjadikan seseorang sebagai sahabat, maka pancinglah kemarahannya terlebih dulu. Jika ia sanggup objektif ketika marah�jadikanlah ia sahabat. Namun jika tidak, jauhilah ia."
Orang bijak berkata: "Siapa yang tidak mematangkan� persahabatan�dengan ujian sebelum memberi kepercayaan, dan tidak mematangkan kepercayaan sebelum keakraban, nescaya cintanya akan berbuah penyesalan." (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 167)
Ada pula yang berkata: "Galilah secara mendalam, nescaya terbuka hakikatnya." (Ibid.)
Berkata seorang orator: "Bersikap hati-hati sebelum teruji adalah lebih baik daripada menjalin persahabatan kerana terpikat belaka.(Ibid.)
Seorang sastrawan berkata: "Jangan memberi kepercayaan kepada sahabat sebelum menjalani ujian, dan jangan menyerang musuh sebelum mengukur kemampuan."(Ibid hal.166.)
Kaum bijak berkata: "Kenalilah manusia dari perbuatannya, dan bukan dari perkataannya. Dan kenalilah ketulusannya dari mata, bukan dari ucapannya."(Ibid.)
Dalam kitab Mukhtashar Minhqjil-Qashidin dinyatakan: "Secara umum, sahabat yang harus dipilih harus memiliki lima kriteria: cerdas, berakhlak mulia, tidak fasik, tidak mubtadi� (mengamalkan perbuatan bid'ah), dan tidak bercita-cita terhadap pesona kenikmatan dunia." (Mukhtashar Minhajil-Qashidin, hlm. 95)
Al-Mawardi rahimahullah menyimpulkan sifat-sifat orang yang layak dijadikan sahabat setelah proses perkenalan�yang merupakan modal keserasian�dalam empat kriteria: pertama, seorang yang berpikiran cerdas dan menuntunnya ke jalan yang baik. Kedua, ketaatan kepada agama yang mendorongnya untuk senantiasa berbuat baik. Ketiga, berakhlak mulia, berperilaku baik, menyukai dan mengajak kepada kebaikan, benci dan melarang dari kejahatan. Keempat, kedua belah pihak menyukai sahabatnya dan memiliki hasrat untuk menjalin ukhuwah dengannya. (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 168-169.)
Sebagai penutup, kami tekankan bahawa risalah kecil yang memuat beberapa virus perusak ukhuwah ini, jangan dijadikan oleh para pembaca budiman sebagai bahan untuk menilai sahabat-sahabat anda, kerana jika itu dilakukan, anda akan memilih 'uzlah dan menyendiri. Namun yang harus anda lakukan adalah menjadikannya sebagai bahan introspeksi, menilai diri sendiri dengan segalayang terungkap di dalamnya, memperbaiki kadar ukhuwah dan menunaikan semua haknya. Hanya Allah tempat memohon pertolongan dan kepada-Nya kita bertawakkal. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, dan segenap keluarga serta sahabatnya.
REFERENSI:
Abdul 'Aziz bin Nashir al-Jalil, Aina Nahnu min Akhlaqis-Salqf, Pengantar: Baha'uddin 'Aqil, tt.: Daru Thayibah-Darul-Marwah, tth., Cet. ke-2.
Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi, al-Hafizh, Sunan ad-Darimi, Tahqiq wa Takhrij: Fawwaz Ahmad Zumarli dan Khalid as-Sab' al-'Ulaimi, tt.: Darur-Rayyan-Darul-Kitab al-�Arabi, 1407 H, Cet. ke-1.
Abdullah al-Khathir, DR., Fannut-Ta'amul ma'an-Nas, tt.: Darul-Marwah, Cet. ke-2.
Abdurrahman bin Muhammad al-'Ulaimi, al-Manhqj al-Ahmad fi Tarajumi Ashhabil-Imam Ahmad, Tahqiq: Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, tt.: Mathba'atul-Madani, 1383 H, Cet. ke-1.
Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah al-Hakim, al-Hafizh, al-Mustadrak 'alash-Shahihain, Tahqiq: Musthafa Abdul Qadir 'Atha, Beirut: Darul-Kutub al-'Ilmiyyah, tth.
Abu Abdurrahman as-Sulami, Adabush-Shuhbah, Tahqiq dan Ta'liq: Majdi Fathi as-Sayyid, Thantha: Darush-Shahabah, tth.
Abul-Faraj Abdurrahman Ibnul-Jauzi, al-Hafizh, Manaqibul-Imam Ahmad Ibni Hanbal, Tahqiq:
DR. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki, tt: Daru Hajr, 1409 H/1988 M, Cet. ke-2.
Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Kairo: Darul-Hadits, 1408 H/1988 M.
Abu Khalil, Syauqi, Mashra' Gharnathah, Damaskus: Darul-Fikr, tth., Cet ke-1.
Abu Umar Yusuf bin Abdillah, al-Hafizh, Bahjatul-Mqjalis wa Unsul-Mujalis wa Syahdzudz-
Dzahin wal-Hqjis, Tahqiq: Muhammad Musa al-Khauli, Beirut: Darul-Kutub al-'Ilmiyyah, tth.
Ad-Dailami, Firdausul-Akhbar, tt.: Darur-Rayyan, tth.
Adz-Dzahabi, al-Hafizh, Siyaru A'lamin-Nubala', Takhrij: Syu'aib al-Arna'uth, tt.: Mu'assasatur-Risalah, 1413 H, Cet. ke-9.
Ahmad al-Kuwaiti, ash-Shadaqah wash-Shadiq, Riyadh: Maktabah ar-Rasyid, tth., Cet. ke-1.
Ahmad bin Hanbal, Musnadul-Imam Ahmad Ibni Hanbal-Kanzul-�Ummal, tt.: al-Maktab al-Islami, 1405 H/1985 M, Cet. ke-5.
Ahmad bin Muhammad bin 'Abd Rabbih al-Andalusi, Abu 'Umar, al-'Iqdu al-Farid, Beirut: Darul-Andalus, tth.
Ahmad Ibnu Abdil Hamid al-Baihaqi, Abu Bakr, Dala'ilun-Nubuwwah wa Ma'rifatu Ahwali Shahibisy-Syari'ah, Tahqiq: DR. 'Abdul-Mu'thi Qal'aji, tt.: Darur-Rayyan, 1408 H, Cet ke-
1. _______, as-Sunan al-Kubra (dengan dilengkapi al-Jauhar an-Naqi karya Ibnu at-Turkumani), tt: Darul-Fikr, tth.
Akram al-'Umari, DR., as-Sirah an-Nabawiyyah ash-Shahihah, tt.: Maktabatul-'Ulum wal-Hikam, tth.
SUMBER DARI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar