software hati

kisah kisah melunakan hati

Sabtu, 05 Februari 2011

VIRUS-VIRUS UKHUWAH 4 Abu 'Ashim Hisyam bin Abdul Qadir Uqda

MENGIKUTI PRASANGKA

Seperti halnya menyebarkan rahasia, mempunyai prasangka bahawa sahabatmu menyembunyikan sesuatu darimu juga dapat menyakitinya. Apalagi jika anda sudah membangun sikap-sikap tertentu berdasarkan prasangka tersebut. Selain boleh menyakitinya, hal ini juga betul-betul akan menyakiti dirimu sendiri, kerana prasangka buruk dapat merosakkan ketulusan perasaan hatimu terhadapnya.

Oleh kerananya, sangat wajar jika di antara faktor-faktor yang dapat mempertahankan atau menambah keharmonian hubungan ukhuwah antara sesama Muslim adalah ketulusan hati dan prasangka baik (husnuzhzhan). Dengan alasan tersebut Allah dan Rasul-Nya melarang kita berburuk sangka (su'udzdzan) dan mengikutinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa" (al-Hujurat [491: 12).

Di dalam ayat lain Allah mencela orang kafir kerana kebiasaannya mengikuti prasangka yang tidak berdasarkan ilmu (argumentasi) dalam ucapan-ucapannya. Allah Sabhanahu wa Ta'ala berfirman:


"Dan mereka tidak mempunyai suatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka" (an-Najm [53]: 28).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

�Hindarilah prasangka (buruk), kerana prasangka (buruk) adalah ucapan yang paling dusta.� (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam an-Nikah no. 5143, al-Adab no. 6064 dan6066, al-Fara'idh no. 6724. Juga Muslim dalam al-lttrr wnsh-Shillah no 2563, Tirmidzi�secara ringkas�AAzmal-Birr wash-Shillah no. 1988, Malik dalam kitab al-Muwaththa', bab Husnul-Khuluq, Ahmad dalam kitab al-Musnad 11/245�secara ringkas�dan 11/287�secara lengkap, ia juga meriwayatkannya di beberapa tempat lain, dan al-Baghawi dalam kitab Syarhus-Sunnah XIII/109-110. )

Anda harus selalu berprasangka baik terhadap saudaramu. Orang yang selalu curiga terhadap semua masalah akan mendapatkan dirinya sangat jauh dari nasihat. Umar bin Khaththab: "Janganlah berprasangka terhadap setiap ucapan yang keluar dari lisan saudaramu kecuali dengan prasangka yang baik, selama kamu masih mendapatkan celah kebaikan dalam ucapannya itu." ( Diriwayatkan oleh Abu Hatim bin Hibban dalam kitab Raudhatul-'Uqala', hlm. 89-90, dengan sanad dari Sa'id bin al-Musayyab, ia berkata: "Umar bin Khaththab memiliki delapan belas kalimat, semuanya adalah hikmah... (kemudian iamenyebut�di antaranya adalah�ungkapan di atas)." )

Anda sama sekali tidak dituntut untuk mengetahui niat buruk dalam tindak-tanduk seorang sahabat, dan yang harus anda lakukan adalah mencari celah untuk menempatkan per-buatan saudaramu sebagai sesuatu yang baik.

Namun sayang, kita sering terjebak untuk berusaha mengumpulkan data-data yang boleh memperkuat dugaan, bukan mencari indikasi-indikasi baik yang dapat menghilangkan dugaan tersebut. Perbuatan ini sering menjadi penyebab malapetaka hancurnya ukhuwah yang selama ini terbangun. Padalah jika masing-masing di antara kita cenderung melihat niat baik sahabat dalam setiap perbuatannya dan berusaha menafikan prasangka buruk darinya, nescaya ukhuwah dan cinta akan kekal dan tetap bersemi.

Ibnul-Mubarak berkata: "Orang Mukmin selalu mencari alasan agar boleh memaafkan, sementara orang munafik selalu mencari-cari kesalahan."

Tidak diragukan lagi, bahawa menghindari prasangka buruk terhadap orang baik dan menjauhi segala faktor penyebabnya merupakan ciri orang yang beriman dan taat kepada ajaran agama.

Ketahuilah bahawa prasangka buruk dapat mendorong kepada perbuatan tajassus (mencari-cari kesalahan) yang dilarang oleh agama. (Barangkali untuk itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut: �Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan, dan berusaha mendengar perbincangan orang lain..." setelah mengatakan dalam hadith sebelumini: "Hindarilah prasangka (buruk)...�) Juga dapat mendorong untuk menjelek-jelekkan sahabat. Betapa jauh dari cinta dan makna ukhuwah, orang yang jika marah terhadap sahabatnya, ia langsung berprasangka buruk atau mengejeknya di hadapan orang lain.

Sahabat yang setia dan kawan yang tulus adalah orang yang dapat menjaga hatinya dari prasangka buruk dan mampu menjaga lisannya dari melontarkan penghinaan kepadamu, walaupun kamu pernah membuatnya marah atau kurang memperhatikannya dalam waktu-waktu tertentu.

Dalam wasiatnya, Ja'far bin Muhammad berkata kepada putranya: "Anakku, jika ada sahabat yang pernah marah tiga kali, namun tidak pernah menjelekkanmu, maka jadikanlah ia teman terdekatmu."  (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 175)

Pada suatu saat, Sa'ad bin Abi Waqqash pernah terlibat perselisihan dengan Khalid bin Walid. Namun ketika ada orang yang menjelek-jelekkan Khalid di depannya, Sa'ad menegur: "Diamlah, sesungguhnya perselisihan kami tidak sampai menyentuh masalah agama." Sa'ad tidak mahu mendengar ucapan orang yang menjelekkan Khalid, apalagi ia yang mengatakannya! Ibnu Abi Dunya mempunyai riwayat lain mengenai kisah perselisihan Khalid dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Ketika ada orang yang menyebut-nyebut kebaikan Sa'ad, Khalid lantas ikut memujinya. Dengan nada heran orang tersebut bertanya kepada Khalid mengenai sikapnya yang memuji Sa'ad. Khalid menjawab: "Perselisihan di antara kami tidak sampai menyentuh masalah agama." Maksudnya, keduanya tidak mahu berbuat dosa kerana perselisihan tersebut, sehingga tidak mahu mendengar keburukan sahabatnya disebut-sebut di depannya. (Lihat: al-Ibda 'fi Madharil-Ibtida', hlm. 310.)

Oleh kerana itu, melemahnya sikap bersahabat saudaramu tidak boleh menjadi alasan untuk menjauhkan diri dan menjelekkannya, dan jangan berprasangka buruk hanya kerana kekhilafan kecil. Anggaplah itu semua sebagai proses fluktuasi jiwa dan perasaan. Bukankah terkadang perhatian manusia terhadap dirinya sendiri boleh melemah, padahal tentu bukan kerana benci atau bosan terhadap dirinya? (Disadur dari Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 174-175)

Sebuah pepatah bijak mengatakan: "Janganlah prasangka merusak hubungan dengan sahabat selama kamu mempunyai penangkalnya, yaitu keyakinan dengan kebaikannya." (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 175.)

Ketahuilah, bahawa orang yang berbudi luhur dan baik selalu menempatkan perbuatan sahabatnya dalam posisi yang paling baik, dan melihatnya dari sudut pandang yang paling baik juga...

Alkisah, Binti Abdillah bin Muthi' al-Aswad berkata kepada suaminya, Thalhah bin Abdillah bin Auf: "Aku tidak pernah menemukan orang yang lebih buruk sifatnya dari sahabat-sahabatmu." Thalhah terkejut dengan ucapan isterinya, seraya menegur: "Apa?! Jangan ucapkan kata-kata itu kepada mereka. Lalu apa sifat buruk yang kau maksud itu?" Isterinya menjawab: "Demi Allah, sifat buruk itu tampak sangat jelas." Thalhah kembali bertanya: "Apakali gerangan?' Ia menjawab: �Jika engkau dalam keadaan senang, mereka datang dan menemanimu. Namun jika engkau susah, mereka menjauhimu.� Thalhah berkata: "Sebenarnya tidak seperti itu, aku melihatnya sebagai budi yang mulia." Isterinya menimpali: �Apa maksudmu menganggapnya sebagai budi mulia?!� Thalhah menjawab: �Mereka mari berkunjung disaat kita mampu menjamu, dan menjauhi di saat kita tidak sanggup menjamu.� (Raudhatul-�Uqala' hlm. 128. )

Sama sekali tidak benar jika ada yang mengatakan "bukan saatnya lagi kita berprasangka baik". Ia tidak percaya lagi dengan kata "prasangka baik" walau dengan sahabat atau orang-orang terdekatnya.

Adakalanya, hal ini terjadi kerana suatu peristiwa besar yang pernah dialami dalam persahabatannya. Dalam beberapa. kisah ada orang yang terus mempertahankan prasangka baik terhadap sahabatnya meskipun ia menyaksikan beberapa perbuatan yang cenderung buruk, namun ia selalu melihatnya dari sisi positif. Bahkan barangkali ia mendengar beberapa isu yang menyudutkan sahabatnya, namun ia tetap bertahan dengan prasangka baiknya, sekalipun ia dicemuh oleh si pembawa isu yang terus menyatakan: "Sesungguhnya kamu tertipu dalam hubunganmu dengan si Fulan." Dengan tak bergeming, ia menjawab: "Siapa yang menipu kita dalam urusan yang didasarkan kerana Allah, maka ia akan tertipu sendiri." Sementara itu, sahabatnya selalu memohon: Tolong berprasangka baiklah kepadaku." Dia pun menyetujui: "Ya, tentu saja, kerana itu merupakan kewajibanku, jangan pernah berpikir aku akan berprasangka buruk terhadapmu."

Mengetahui begitu baiknya akhlak orang tersebut, sang sahabat memanfaatkannya untuk terus mengulangi kesalahan-kesalahannya, hingga terjadi suatu peristiwa di luar dugaannya, di mana orang tersebut melihat dengan mata kepala sendiri dan yakin bahawa ia benar-benar telah tertipu oleh sahabatnya. Bertahun-tahun ia mencuba untuk berprasangka baik, memberi ketulusan dan kepercayaan. Oleh kerana dahsyatnya peristiwa tersebut, ia mengambil sikap ekstrem, yaitu tidak mahu berprasangka baik dengan siapa pun. Dalam hal ini, sahabat yang menjadi penyebab timbulnya sikap tersebut, dan terbiasa mempermainkan orang-orang yang tulus tentu akan menanggung dosa kerana hilangnya tsiqah (kepercayaan) sesama kaum Muslim, juga kerana telah melenyapkan nilai husnudzdzan (prasangka baik) dari lingkungan masyarakatnya.

Namun demikian, dalam hal ini harus kami katakan, bahawa meskipun contoh kisah di atas benar-benar terjadi dan sering terulang, namun sebenarnya ia tidak dominan. Justru yang dominan adalah prasangka baik tidak pernah mengecewakan seseorang dalam persahabatannya dengan orang-orang yang baik. Untuk itu, termasuk zhalim, jika seseorang tidak mahu berprasangka baik dengan siapa pun, walaupun orang-orang yang sangat baik dan sahabat-sahabat terdekatnya. Ia harus sabar dengan peristiwa yang dialaminya bersama sahabat yang telah mengecewakan perasaannya. Sayugianya ia menyerahkan peristiwa tersebut kepada Allah agar mendapat balasan pahala dari-Nya, sementara ia tetap memegang teguh prinsip, yaitu selalu berprasangka baik dengan orang-orang yang baik.

Namun jika tidak demikian, sementara anda menjadikan prasangka buruk sebagai prinsip dasar dalam berhubungan dengan semua orang, maka ketahuilah, selain telah berbuat zhalim dan menanggung dosa, anda akan dibenci oleh semua orang, Allah akan mencabut rasa sayang dan simpati para sahabat kepadamu. Sesungguhnya orang yang berhati gelap dan berperasaan kotor yang melihat semua orang dengan penuh curiga, atau selalu membuat perhitungan dan berpra-sangka buruk, nescaya sulit diterima dan disukai oleh mereka, ia sulit menemukan orang yang sanggup mencintai dan mengasihinya.

Untuk itu, seorang bijak berpesan kepada putranya: "Anakku, jadilah orang yang berhati bersih, terhindar dari suka menyakiti, nescaya semua orang mahu bergaul dan suka kepadamu."

jika jahat perbuatan seseorang

maka buruk semua dugaannya

kini terbuktilah dugaan-dugaan yang biasa ia lakukan

memusuhi semua sahabat dengan ucapan-ucapan kasaria terjerumus dalam gulita prasangka dan dugaan (Al-Khaththabi, al-'Uzlah, hlm. 48. Puisi tersebut dinisbatkan kepada al-Mutanabbi. 97 )

MENCAMPURI MASALAH PRIBADI

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan kaedah yang berkaitan dengan masalah ini. Jika kita berpegang teguh pada etika-etika syari'ah dan nasihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam bergaul, nescaya terhindar dari hal-hal yang dapat merosak ukhuwah dan cinta kasih. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Jangan mencari-cari kesalahan (tajassus), mencuri pendengaran (tahassus), saling bermusuhan dan saling menjauhi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. " (Hadith ini merupakan terusan dari hadith: "Hindarilah prasangka (buruk)..." Lihat takhrij-nya. dalam catatan kaki no. 191. )

Dalam hadith lain, beliau bersabda:

"Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bergunabaginya. " (Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam az-Zuhd no. 2317, dan Ibnu Majah dalam al-Fitan no. 3976, dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam az-Zuhd no. 2318, Malik dalam kitab al-Muwaththa', bab llusnul-Khuluq 11/903, Ahmad dalam kitab al-Musnad 1/ 201, dan al-llaghawi dalam kitab Syarhus-Sunnah X1V/321. Al-Albani menyatakannya shahih dalam kitab Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 5911. )

Menurut al-Auza'i, erti tajassus adalah mencari-cari sesuatu, sementara tahassus bererti turut mendengar perbincangan yang dilakukan oleh suatu kelompok, padahal mereka tidak menyukainya; atau mendengarkan perbincangan dari luar pintu rumah mereka. Ada juga yang memberi pengertian berbeza terhadap dua terminologi di atas. (Menurut Ibnu Hajar dalam kitab Fathul-llari: "Ada yang berpendapat bahawa tajassus ertinya mencari masalah-masalah yang tersembunyi dan lebih cenderung berkonotasi buruk. Sedangkan tahassus adalah mencari-cari sesuatu yang boleh diketahui melalui penglihatan dan pendengaran. I'endapat ini dibenarkan oleh al-Qurthubi.. .Ada juga yang berpendapat bahawa tajassus adalah mencari-cari kesalahan seseorang untuk kepentingan orang lain, sementara tahassus adalah mencari-cari kesalahan seseorang untuk kepentingan dirinya sendrri." Ibnu Hajar juga mencatat pendapat Ibrahim al-Harbi bahawa dua terminologi tersebut memiliki pengertian yang sama. Adapun Ibnu Anbari berpendapat bahawa tahassus merupakan penekanan kepada tajassus seperti kata (bu'dan wa sukhthan�yang bererti jauh dan benci); sukhthan (benci) merupakan penekanan terhadap makna bu'dan (jauh). Di sisi lain, Ibnu Hajar berpendapat bahawa ada pengecualian atas pelarangan tajassus, yaitu dalam kisah jika hal tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan seseorang. Contohnya adalah memberitahu seorang yang shalih bahawa si Fulan membuat kesepakatan rahasia dengan kawannya untuk membunuh orang tersebut, atau merencanakan zina terhadap seorang wanita. Lihat: Fathul-Bari X/497. )

Tujuan hadith tersebut adalah menyatakan bahawa perbuatan tajassus atau mencari-cari

sisi tersembunyi dari peribadi sahabat, adalah dilarang oleh agama dan dapat merosakkan

hubungan antara dua orang yang bersahabat. Di sisi lain, ia mencerminkan perbuatan buruk lainnya, iaitu mengupayakan sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu. Sebuah pepatah mengatakan: "Orang yang bijak sangat menghargai waktunya, sibuk dengan urusannya, dan menjaga ucapannya. Orang yang menganggap ucapannya termasuk dalam perbuatan, nescaya tidak akan banyak berbicara mengenai hal-hal yang tidak bermanfaat baginya." (Ada yang meriwayatkan secara marfu': "Di dalam Shuhuflbrzhim ada...� dan di akhir riwayat�Orang yang bijak..." Muhaqqiq kitabJami'ul-'Ulum wal-Hikam, Thariq bin al-Muwahhid, berkata: "Sanad riwayat tersebut sangat dha'if." Lihat: Jami'ul-Ulum wal-Hikam 1/290)

Abu 'Ubaidah menuturkan bahawa al-Hasan berkata: "Di antara tanda ketidaksukaan Allah terhadap seseorang adalah dengan membuatnya sibuk dengan perkara-perkara yang tidak berguna baginya." (Jami'ul-Ulum wal-Hikam, Tahqiq: Thariq bin al-Muwahhid I/294.)

Sahl at-Tustari berkata: "Siapa yang terjebak untuk berbicara mengenai hal-hal yang tidak berguna, nescaya kehilangan kejujuran." (HilyatuI-Auliya' X/196)

Ma'rufal-Karkhiberujar: "Pembicaraan seseorang mengenai hal-hal yang tidak berguna merupakan bukti penghinaan Allah kepadanya." (Ibid VIII/361, dan SiyaruA'lamin-Nubala' IX/341)

Ketika seorang sahabat Nabi sakit, para sahabat dan kaum kerabatnya ramai menjenguk, mereka merasa heran ketika melihat wajah sahabat yang sakit tersebut begitu ceria, lalu bertanya mengenai sebab keceriaannya. Ia menjawab: "Ada dua amalan yang benar-benar kuyakini pahalanya sangat besar, iaitu aku tidak pernah berbicara mengenai hal-hal yang tidak berguna, dan hatiku bersih dari segala perasaan kotor terhadap sesama kaum Muslim."( Siyaru A'lamin-Nubala' I/243,didalamnyadisebutkanbahawanamasahabattersebut adalah Abu Dujanah Sammak bin Kharsyahradhiyallahu 'anhu. Kisah ini juga tercatat dalam kitab Jami'ul-Ulum wal-Hikam, hlm. 138, tanpa menyebut nama sahabat tersebut)

Mahuriq al-'Ajali berkata: "Satu hal yang terus kuburu selama bertahun-tahun tapi belum kutemukan, dan aku tidak akan berhenti memburunya." Salah seorang sahabatnya menukas: "Apa yang engkau buru itu?" Ia menjawab: "Menahan diri agar tidak berbicara mengenai hal-hal yang tidak berguna." (Imam Ahmad, az-Zuhd, hlm. 371, Ibnul-Mubarak, Zawa'iduz-Zuhd no. 41, hlm. 11, dan Hilyatul-Auliya� II/235)

'Amr bin Qais mengisahkan, ketika Luqman (al-Hakim) sedang mengajar murid-muridnya, muncullah orang yang berjalan melewati majlis pengajiannya. Dengan nada heran orang tersebut bertanya kepada Luqman: "Bukankah engkau hamba sahaya dari Bani Fulan?" Luqman menjawab: "Betul." Ia bertanya kembali: "Bukankah engkau si penggembala yang kulihat di gunung Fulan?" Luqman menjawab: "Benar." Dengan penuh heran orang tersebut bertanya lagi: "Lalu, apa yang membuatmu berubah dan menjadi seperti ini?" Luqman menjawab: "Berkata jujur dan selalu diam dari hal-hal yang tidak berguna." (Tahdzibul-Asma' wal-Lughat II/71, cerita serupa juga ada dalam kitab al-Ihya' III/122. )

Wahb bin Munabbih berkata: "Dulu pada masa Bani Israil ada dua orang yang�dengan keistimewaan ibadahnya� mampu berjalan di atas air. Ketika mereka sedang berjalan di atas permukaan laut, tiba-tiba muncul seorang yang terbang di atas mereka. Melihat keanehan ini, keduanya bertanya: "Wahai hamba Allah, apakah yang kau lakukan sehingga meraih keistimewaan yang luar biasa ini?' Ia menjawab: 'Dengan melakukan sedikit perkara yang bersifat duniawi. (Demikianlah redaksi kata-katanya, padahal�demi Allah�ia merupakan amalan yang sangat berat, dan hanya ringan bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah untuk menjalaninya.)Aku menyapih nafsuku dari godaan syahwat, menahan lisan dari ucapan-ucapan yang tidak berguna, selalu memenuhi panggilan Allah, dan lebih banyak diam. Kerana itu, jika aku bersumpah atas nama Allah, Dia akan mewujudkannya, dan jika aku memohon sesuatu, Dia pasti mengabulkannya." (Jami'ul-Ulum wal-Hikam I/293. 100 )

Saudaraku, waspadalah terhadap pintu-pintu syaitan yang menjebakmu agar terjerumus dalam hal-hal yang tidak her manfaat, sekalipun dengan asumsi mendidik dan meluruskan pribadi seseorang. Syaitan mengilustrasikan bahawa semua masalah yang berhubungan dengan sahabatmu, baik kecil mahupun besar, adalah penting, sehingga kamu terjebak mengurusi masalah-masalah pribadinya. Padahal perbuatanmu itu tidak disukai olehnya, bahkan cenderung menyudutkan dan menyakitinya. Hasilnya, ia menyesal telah menjalin hubungan denganmu.

GOIS, AROGAN, TIDAK BEREMPATI, DENGAN PENDERITAAIM SAUDARA, DAN TIDAK MEMPERHATIKAN MASALAH
SERTA KEPERLUAN-KEPERLUANNYA

Semua manusia tentu tidak suka bergaul dengan orang - siapa pun dia - yang menganggapnya rendah atau bersikap sombong kcpadanya, sekalipun ia adalah seorang da'i, alim, atau guru. Manusia tidak suka dengan orang yang arogan dan tidak mcmiliki rasa simpati. Untuk itu, kita dianjurkan untuk memiliki silat rendah hati (tawadhu) dan berempati dengan orang lain, meskipun dalam posisi sebagai seorang pengajar atau pemimpin.

Suatu pelajaran yang indah dapat kita ambil dari cerita Harun bin Abdillah rahimahullah ketika ia berkata: "Pada suatu saat, Ahmad bin Hanbal mengunjungiku di tcngah rnalam, kudengar pintu dikctuk, maka aku bertanya: 'Siapa di luar sana?' Ia menjawab: 'Aku, Ahmad.' Segera kubuka pintu dan menyambutnya, aku mengucapkan selamat malam dan ia pun melakukan hal yang sama. Lalu aku bertanya: 'Keperluan apakah yang membawamu kemari?' Ahmad menjawab: 'Siang tadi, sikapmu mengusik hatiku.' Aku bertanya: 'Masalah apakah yang membuatmu terusik, wahai Abu Abdillah?' Ahmad menjawab: 'Siang tadi aku lewat di samping halaqah-mu, kulihat engkau sedang mengajar murid-muridmu, engkau duduk di bawah bayang-bayang pohon sedang murid-muridmu secara langsung terkena terik matahari dengan tangan memegang pena dan catatan. Jangan kau ulangi perbuatan itu di kemudian hari. Jika engkau mengajar maka duduklah dalam keadaan yang sama dengan murid-muridmu.' (Tarikh Baghdad XIV/22, dan Ibnul-Jauzi, Manaqibul-Imam Ahmad, hlm. 301. Harun bin Abdillah bin Marwan bergelar al-Imam, al-Hujjah, al-Hafizh, al-Mujawwid, dikenal dengan nama panggilan Abu Musa al-Baghdadi. Ia seorang pedagang kain,juga digelari al-Hammal (pemikul), lahir pada tahun 171 H atau 172. Hadith-hadithnya diriwayatkan oleh al-Jama'ah (pengarangenam buku utama dalam bidang hadith) kecuali Bukhari. Lihat: Siyaru Alamin-Nubala' XII/115-116, dan Tarikh Baghdad XIV/22-23.)

Dalam kisah ini ada dua catatan yang layak direnungkan; pertama, yang bercerita bukan pihak yang memberi nasihat, melainkan orang yang dinasihati dan ia tergugah dengan nasihat tersebut. Hal ini merupakan bukti kebersihan hati dan pengakuan atas kebenaran. Kedua, kelembutan dan kehalusan gaya nasihat Imam Ahmad, ia menyampaikannya secara sembunyi di tengah malam, dengan menggunakan kata-kata: 'Sikapmu mengusik hatiku', benar-benar suatu ungkapan yang lembut, ia tidak mengatakan - misalnya - 'Kamu telah menyakiti manusia...'

Hilangnya rasa simpati atas kesusahan, masalah dan keperluan seseorang, akan menumbuhkan perasaan alienasi (keterasingan) dalam dirinya, seakan-akan ia hidup di dalam alam yang terpisah dari alam yang dihuni oleh rakan-rakannya, tiada yang merasakan kehadirannya atau bersimpati dengan-nya. Ia akan lebih menderita lagi jika tahu bahawa sebenarnya sahabat-sahabatnya mengerti dengan keadaannya namun ber-sikap acuh dan enggan membantunya, maka wajar jika cinta kasihnya semakin berkurang. Adakalanya ia tahu bahawa mereka memiliki sifat egois atau bodoh, sehingga hanya mengutamakan kepentingan pribadi. Namun adakalanya pula, ia membesar-besarkan ketidakpedulian sahabat-sahabatnya itu, padahal sebenarnya mereka tidak seburuk yang ia duga. Meski demikian, kelalaian mereka tetap membuka pintu-pintu godaan syaitan yang dapat merusak hubungan ukhuwah.

Ada beberapa bentuk atau model ketidakpedulian terhadap masalah-masalah sahabat, seperti melupakan kegiatan-kegiatannya dengan jadual dan waktu acaranya, cara pembahagian kerja, timing dan waktu-waktu istirahatnya. Anda merosakkan semua hal di atas atau memperlakukannya seolah-olah tidak mempunyai kesibukan, dilihat dari sudut pandang yang subjektif, lain anda membebaninya dengan kesibukan-kesibukan baru sehingga berhimpunlah kegiatan, kesibukan, dan masalah yang dihadapinya. Keadaan ini tentu membuatnya berada dalam posisi yang terhimpit, dan anda menjadi penghalang bagi program-programnya. Alhasil, ia menyesal telah mengenal dan menerima uluran persahabatanmu.

Apa pun bentuk ketidakpedulian terhadap masalah-masalah sahabat, tetap harus dihindari. Sayugianya anda menjadi penolongnya ketika ia memerlukan huluran bantuanmu, katakanlah 'Aku sedia membantumu'. Atau dengan cara menjauhi dan membiarkannya, jika hal itu dapat membantunya dalam menyelesaikan berbagai program dan kesibukan yang dihadapinya. Namun sekali-kali jangan berlebihan!

Beberapa orang yang pemalu, merasa sangat keberatan untuk mengetuk pintu rumah sahabatnya yang memiliki jadual kesibukan yang padat. Bahkan merasa berat untuk member-hentikannya ketika bertemu di tengah jalan untuk sekadar menyapa dan mengucapkan salam atau melakukan obrolan ringan. Padahal, sahabatnya yang sangat sibuk itu merasa senang sekali kerana bertemu dan berbicara dengannya. Boleh jadi, sebenarnya mereka tidak terlalu sibuk seperti yang dibayangkan olehnya, namun hanya sebatas prasangka baik dari seorang pemalu. Dalam keadaan seperti itu adakalanya orang yang sibuk merasa bertambah beban kerana kehilangan kesempatan berjumpa dengan sahabat yang, dengan melihatnya dapat meringankan beban yang sedang ia pikul; dialah seorang sahabat yang dijadikan oleh Allah sebagai penyembuh duka dan penawar luka di saat - selama ini - ia hanya menjumpai orang-orang yang menambah beban, kesibukan dan menyita seluruh waktunya.

Inti permasalahannya adalah anda harus mencukupi keperluan sahabatmu, baik secara moral mahupun material. Keperluan-keperluan tersebut sangat variatif. Orang bijak adalah yang jika mengetahui keadaan dan keperluan sahabatnya, ia akan segera menolong dan meringankan bebannya. Perbuatan tersebut menjadi ibadah yang mendekatkan dirinya kepada Allah, serta menambah pahala yang sangat besar, seperti yang dinyatakan dalam sebuah hadith dalam ash-Shahihain, bahawa RasuluUah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang mencukupi keperluan saudaranya, nescaya Allah mencukupi keperluannya. Siapa yang menolong seorang Mubnin dari suatu kesusahan, nescaya Allah akan menolongnya dari salah satu kesusahan pada hari kiamat. Siapa yang menutupi aib seorangMuslim, nescaya Allah menutupi aibnya pada hari kiamat. " (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Mazhalim no. 2442 dan al-Ikrah� secara singkat�no. 6951. Juga Muslim dalamal-Hirr wash-Shillah no. 2580 dan adz-Dzikr no. 2699, Abu Dawud dalamal-Aclab no. 4893, Tirmidzi dalam al-Hudud no. 1426, dan Ahmad dalam kitab al-Musnad 11/91, semuanya berasal dari riwayat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu. Hadith-hadith yang memuat pengertian seperti redaksi di atas yang bukan berasal dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu sangat banyak. )

cukupilah keperluan-keperluan saudaramu
semampu yang kau lakukan
jadilah penawar duka sahabatmu itu

sesungguhnya hari paling berharga
bagi seseorang adalah
ketika ia mampu mencukupi keperluan-keperluan
sahabatnya

Anda harus menutup pintu-pintu syaitan agar tidak masuk dan merosakkan hubungan ukhuwah yang terjalin dengan sahabatmu, dengan cara mengikuti petunjuk dan saranan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Juga dengan cara bercermin dari perjalanan sirah generasi Salaf yang shalih, yang sebagiannya akan kita uraikan dalam pembahasan ini.

Salah satu petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tertuang dalam hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiuallahu 'anhu bahawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, dan perbuatan yang paling disukai oleh Allah adalah kebahagiaan yang engkau berikan kepada seorang Muslim, atau menolong sebagian kesusahannya, atau melunasi hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Bepergian dengan seorang sahabat dengan tujuan mencukupi keperluannya adalah lebih kusukai daripada beri'tikaf di dalam masjid ini (Masjid Nabawi) selama satu bulan penuh." (As-Suyuthi mencatat dalam kitab al-Jami'ash-Shaghir bahawa hadith tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab Qadha'ul-Hawa'ij, dan Thabrani dalam kitab Mu'jam al-Kabir, dari riwayat Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu. Hadith tersebut dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahihul-Jami' ash-Shaghir no. 176, dan kitab as-Silsilah ash-Shahihah no. 906.) Dengan rasa empati yang sangat tinggi terhadap keperluan dan penderitaan saudaranya, di antara kalangan Salaf ada yang sanggup untuk tidak hanya memperhatikan keperluan saudaranya saja, namun juga memperhatikan keperluan keluarga saudaranya itu selama empat puluh tahun. Suatu pengorbanan yang tidak mungkin boleh kita bayangkan. Kita hanya boleh mengatakan, itulah gambaran sahabat yang tulus, itulah ukhuwah dan cinta sejati.

Penjelasan di atas bertujuan menjelaskan hak-hak sahabat, iaitu mencukupi keperluan dan membantu menyelesaikan masalahnya dengan skala yang berbeda. Skala paling rendah adalah sebatas mencukupi keperluannya ketika diminta dan kita pun mampu, bantuan tersebut diberikan dengan syarat hati merasa senang dan bahagia. Skala pertengahan adalah mencukupi keperluannya tanpa ia minta. Dan skala yang paling tinggi adalah mengutamakan keperluannya daripada keperluan sendiri. (Mukhtashar Minhajil-Qashidin, hlm. 96. )

Secara umum, hubungan ukhuwah mesti menampakkan perhatian terhadap masalah, fikiran dan ucapan sahabat. Dengan demikian, rasa suka akan bertambah kuat dan bertahan. Fitrah manusia menyukai orang yang memperhatikan dirinya, gagasan dan apa yang terdetik dalam hatinya, mahu mendengar ketika ia bicara, menatapnya, mampu menangkap pesan dan turut menyumbangkan saran pribadinya.

Memang benar, manusia memerlukan orang yang mahu mengerti masalah dan keperluan-keperluannya, namun hal tersebut tidak boleh sebatas ungkapan - misalnya: "Kamu harus mengerti masalah ini dan itu", suatu ungkapan yang begitu kering! Lalu ia pergi begitu saja. Yang mereka perlukan adalah perhatian terhadap masalahnya, mahu mendengar kata-katanya, serta mendorong agar ia mahu bercerita tentang dirinya. Jangan sampai hanya anda yang mendominasi pembicaraan. Sebuah pepatah mengatakan: "Jika ingin menjadi seorang pembicara yang mempesona, jadilah seorang pendengar yang mempesona juga."

Tabiat manusia selalu ingin bercerita tentang masalah-masalah yang menyibukkan hatinya, dan ingin ada orang yang mahu bersimpati dengannya. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajari kita melalui sikap-sikapnya yang tidak hanya sebatas mendengarkan pembicaraan sahabatnya, tapi juga mendorongnya agar mahu mengungkapkan isi hatinya. Seperti dalam kisah Nabi ketika berjumpa dengan Abdurrahman bin 'Auf; beliau melihat tanda kuning di wajahnya, maka beliau bertanya: "Ada apa dengan dirimu?" Abdurrahman menjawab: "Saya baru saja menikah." (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Buyu' no. 2048, dan Manaqibul-Anshar no. 3780, dari rivvayat Abdurrahman bin 'Auf. Jugadiriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Buyu' no. 2049, Manaqibul-Anshar no. 3781, dan di sembilan tempat dalam kitab ash-Shahih. Juga diriwayatkan oleh Muslim dalam an-Nikah no. 1427�secara singkat, Malik dalam kitab al-Muwaththa', bab an-Nikah II/545�secara singkat, Abu Dawud dalam an-Nikah no.2109�secara singkat, Tirmidzi dalam an-Nikah no. 1094�secarasingkat, dan dalam al-Birr wash-Shillah no. 1933�seperti dalam riwayat Bukhari, an-Nasa'i dalam an-Nikah VI/119-120, IbnuMajah dalam an-Nikah no. 1907�secara singkat, ad-Darimi dalam an-Nikah no. 2204�secara singkat, dan Ahmad dalam kitabal-Musnad III/227,271, dan 274�secara lengkap dan singkat, semua-nya berasal dari riwayat Anas radhiyallahu 'anhu. )

Begitu juga kisah beliau dengan Jabir. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepadanya: "Apakah engkau baru menikah?" "Ya," Jawab Jabir. Beliau bertanya lagi: "Dengan gadis atau janda?" Jabir menjawab: "Dengan janda." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkomentar: "Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis sehingga engkau 'bermain-main' dengannya dan dia 'bermain-main' denganmu?" (muttafaqun 'alaih). (Hadith mengenai kisah pernikahan Jabir radhiyallahu 'anhu diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Buyu' no. 2097, an-Nikah no. 5080, dan di beberapa tempat lainnya. Juga diriwayatkan oleh Muslim dalam ar-Radha' no. 715, Abu Davvud dalam an-Nikah no. 2048, Tirmidzi dalam an-Nikah no. 1100, an-Nasa'i VI/61, Ibnu Majah dalam an-Nikah no. 1860, Ahmad dalam kitab al-Musnad III/294, 302, dan 308, juga di beberapa tempat lainnya, dan ad-Darimi dalam an-Nikah no. 2216. )

Cuba perhatikan lembutnya tutur kata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika mendorong Jabir agar membuka pembicaraan, beliau menggunakan kata-kata: "Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis sehingga engkau 'bermain-main' dengannya dan dia 'bermain-main' denganmu?" Kemudian Jabir mengemukakan alasannya menikahi seorang janda, iaitu kerana ia mempunyai pertimbangan bahawa seorang janda memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mengasuh adik-adik perempuannya yang masih kecil berbanding seorang gadis pada umumnya. (Fannut-Ta'amul ma'an-Nas, hlm. 38 dan 40-42, dengan perubahan redaksional)

Ketika seorang sahabat memiliki hak untuk diperhatikan dan didengarkan, maka ia akan merasa lebih bahagia jika kemudian mendapatimu segera membantu menyelesaikan masalah-masalahnya dengan senang hati, tanpa harus diminta terlebih dahulu. Saat itu, ia benar-benar merasakan makna ukhuwah dan ketulusan cintamu kerana menerima dukungan serta bantuanmu dalam setiap kesusahan yang menimpanya baik berupa moral ataupun material.

sahabat di saat senang selalu banyak jumlahnya

namun ketika susah hanya sedikit yang tersisamaka jangan terpedaya dengan kebaikanseorang sahabatnamun ketika musibah menimpa tiada yang mengiba

semua sahabat menyatakan dirinya setia

namun tidak semua berbuat seperti ucapannyakecuali sahabat yang penuh derma dan taat agamaitulah sahabat yang berbuat samadengan kata-katanya (Tercatat dalam kitab Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 168-169, dari puisi Hassan bin Tsabit radhiyallahu 'anhu. )

Imam Syafi'i berkata:

sahabat yang tak berguna di saat susah

nyaris seperti musuh tak ada bedanya
apalah erti sahabat yang terus menemani
apa pula erti saudara jika bukan
untuk sating mengasihi

kutelusuri perjalanan panjang dengan segenap kekuatan diri mencari seorang sahabat setia

namun apalah erti pencarian ini kumasuki gerbang negeri-negeri
yang terasa asing bagiku
seluruh penghuninya seakan-akan
bukan manusia lagi (Diwan asy-Syafi'i, hlm. 67)

Seorang bijak ditanya: "Siapakah sahabatmu?" Ia menjawab, "Sahabatku adalah orang yang jika aku menemuinya kerana suatu keperluan, ia segera membantu sebelum kuminta." (Ash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 82)
Abu Hayyan bercerita: pada suatu hari Abu Sa'id as-Sirafi melantunkan puisi yang diterima dari Qndamah bin Ja'far al-Katib. Qudamah sendiri menukilnya dari seorang penyair:

aku bersahabat dengan para pemuda
yang teguh dengan kesetiaannya
mereka bertambah cinta
ketika mendengar keluhan penderitaan sahabatnya

jika ia benarmereka berharap semoga kebaikan sebagai hasilnya jika ia dustamereka menelannya agar tidak menular ke mana-mana (Al-Mukhtar minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 113.)


Seorang penyair berkata:

bagiku, jika kubiarkan penderitaan sahabat padahal aku sanggup untuk membantubererti aku telah menzhalimi dan menyakitinya

sungguh aku benar-benar malu kepada Allah jika aku bergelimang kesenangan sementara sahabatku terhimpit kesusahan. (Ibid, hlm. 131.)

Alkisah, Abdullah Ibnul-Mubarak sering melakukan perjalanan ke negeri Tharsus, di sana ia tinggal di daerah yang bernama ar-Raqqah. Setiap kali datang ke negeri tersebut ada seorang pemuda yang rajin menemuinya, guna melayani keperluan hariannya sekaligus belajar hadith darinya. Dalam suatu kesempatan, Abdullah sampai di tempat tersebut namun tidak seperti biasanya, ia tidak melihat pemuda yang sering menjumpainya. Setelah bertanya, ia memperoleh berita bahawa pemuda tersebut masuk penjara gara-gara tidak mampu melunasi hutangnya sebesar sepuluh ribu Dirham. Abdullah bergegas mencari si pemilik hutang untuk melunasi hutang pemuda tersebut. Ketika membayar, Abdullah meminta orang tersebut untuk bersumpah agar tidak membocorkan perbuatannya itu selama ia hidup.

Ketika Abdullah beranjak pulang dan setelah menempuh sekitar dua marhalah (ukuran jarak) meninggalkan kota ar-Riqqah, dari kejauhan tampak seorang pemuda yang mengejarnya. Setelah sampai di hadapannya, Abdullah bertanya: "Hai pemuda, di mana kamu berada selama ini, aku tidak melihatmu?" Pemuda itu menjawab: "Wahai Abu Abdurrahman (panggilan Abdullah Ibnul-Mubarak), selama ini aku dipenjara kerana tidak boleh melunasi hutangku." Abdullah kembali bertanya: "Lalu, bagaimana kamu boleh keluar?" Pemuda itu menjawab: "Ada seorang dermawan yang datang dan melunasi hutangku, namun aku tidak mengenalnya." Mendengar penu-turannya, Abdullah memberi pesan: "Jika demikian, pujilah keagungan Allah." Pemuda tersebut tidak mengetahui sang dermawan yang telah melunasi hutangnya. Setelah Abdullah meninggal, ia baru tahu bahawa Ibnul-Mubaraklah sang dermawan tersebut."

Dalam kisah lain diceritakan bahawa pada suatu hari Abdullah Ibnul-Mubarak didatangi oleh orang yang meminta bantuan untuk melunasi hutangnya. Maka Abdullah menulis surat kepada orang yang dipercaya menyimpan hartanya. Setelah membaca isi surat, penjaga harta tersebut bertanya kepada orang yang meminta: "Berapa jumlah hutangmu yang harus dibayar?" Ia menjawab: "Tujuh ratus Dirham." Penjaga harta tersebut bingung kerana di dalam surat, Abdullah mencatat total wang sebesar tujuh ribu Dirham. Kerana itu, ia segera menanyakan kembali masalah tersebut kepada Abdullah, ia menulis dalam bahasa kiasan: "Sesungguhnya hasil panen sudah habis." Dalam balasannya, Abdullah menjawab: "Jika hasil panen sudah habis, sesungguhnya umur pun sudah habis pula, serahkan wang kepadanya sesuai dengan jumlah yang tercatat dalam surat pertamaku." (Lihat: Siyaru Mamin-Nubala' VIII/386-387)

Amir bin Abdullah yang dikenal sebagai Ibnu Abdi Qais, jika pergi ke medan perang selalu menggaet beberapa orang untuk dijadikan teman dekat selama perjalanan. Apabila ia suka dengan gaya pergaulannya, maka Amir bin Abdullah akan membuat perjanjian agar ia yang melayani mereka, melakukan azan (menjadi makmum�Penj.), dan berusaha sekuat tenaga untuk membantunya. (Ibid IV/15dan 17. )

Ketika seorang sahabat merasa bahawa anda enggan meringankan bebannya, keberatan untuk membantunya memperbaiki atau menyelesaikan sebagian tugasnya, maka ia akan membalasmu dengan sikap yang sama. Terlebih lagi jika ia melihatmu tersenyum di kala perlu bantuannya, namun acuh ketika ia perlu bantuanmu. Jika seperti itu, maka semuanya akan berakhir...

Seorang penyair berkata:

aku melihat orang-orang itu menampakkan wajah ceria

ketika mereka memerlukan kita

namun ketika kita perlu bantuannya

raut mukanya berubah seketika

ada yang enggan memberikan harta miliknya

tetapi marah ketika kita enggan memberinya

jika perlakuan mereka kuanggap buruk sementara perlakuanku dianggap buruk juga maka pada hakikatnya kita adalah sama (Al-Mukhtar minash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 137.)

Penyair lain berkata:

dahulu ia baik kepadaku
begitu juga aku kepadanya
tak pernah terjadi keretakan di antara kami berdua

sampai ketika aku harus meminta bantuannya
diriku bagaikan manusia
yang memohon bantuan kepada singa (Ash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 60)

Ada pula penyair yang berkata:

setiap sahabat selalu dekat di kala senangnamun sahabat sejati adalah yang tetap menemaniketika penderitaan menimpa

Shalih bin Abdul Quddus mengatakan: "Sahabat paling buruk adalah yang menampakkan cinta di kala senang, namun menghilang ketika penderitaan datang." Seorang penyair merangkum ungkapan tersebut dalam puisinya:

sahabat paling buruk adalah yang cintanya timbul tenggelam sesuai dengan keperluan antara susah dan senang (Adabud-Dunya wad-Din, hlm. 177)

Sikap seperti ini sangat jauh dari saran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Agar mencintai apa-apa yang ada pada saudaramu seperti mencintai apa yang ada pada dirimu sendiri." Apalagi jika dibandingkan dengan sikap empati, yaitu mengutamakan kepentingan saudaramu ketimbang kepentingan sendiri. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

�Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai apa-apa yang ada pada saudaranya seperti mencintai apa-apa yang ada pada dirinya.� (Mengenai takhrij hadith ini, lihat catatan kaki no. 46.)

Betapa anda merasa bahagia, damai dan tenteram ketika mengetahui bahawa saudara anda berempati kepada anda, atau setidaknya, mencintai anda seperti ia mencintai dirinya sendiri. Sebaliknya, betapa anda merasa kecewa serta benci ketika mengetahui bahawa sahabat anda tidak memiliki rasa empati sedikit pun, bahkan tidak ingin mencintai anda seperti ia mencintai dirinya sendiri. Dalam sebuah contoh praktis yang sederhana berikut ini anda boleh membedakan antara satu perasaan dengan lainnya. Jika anda menghadiri suatu pertemuan namun tidak ada tempat kosong yang tersisa, atau jika anda diundang untuk menghadiri acara jamuan makan, namun semua makanan sudah penuh dikelilingi oleh para undangan. Di saat anda masih berdiri dan bingung mengenai apa yang harus dilakukan, tiba-tiba matamu melirik seorang sahabat yang tentunya anda harapkan dapat memberi bantuan mengeluarkan anda dari suasana yang sangat menggelisahkan tersebut. Namun yang terjadi adalah ia hanya melirikmu seakan-akan tidak mengetahui kehadiranmu, ia enggan meringankan beban kebingunganmu walau sekadar dengan memanggil atau melakukan sesuatu. Mungkin anda pernah mengalami suasana seperti itu.

Di sisi lain, cuba bandingkan dengan suasana perasaan yang lain. Dalam keadaan seperti tadi, sahabatmu bergegas menyambutmu, menyapa dan memberi tempat untukmu, atau mengatur tempat dudukmu di sampingnya. Ia tidak membiarkanmu bergelut dengan kebingungan walau sebentar. Atau cuba bandingkan dengan perasaan lain lagi, iaitu ketika sahabatmu itu menyambut dan memberimu tempat duduk yang sebelumnya ia duduki, sementara ia sendiri mencari tempat lain. Tentunya hal itu lebih mudah baginya daripada jika kamu yang harus melakukannya.

Ini merupakan satu contoh yang menjelaskan perbedaan antara egoisme dan altruisme. Tentunya, masalah ini akan lebih bererti jika berkaitan dengan harta atau peristiwa yang memakan waktu lebih lama, bukan sekadar peristiwa spontan atau insidental seperti acara pertemuan atau jamuan walimah.

Berkaitan dengan hal ini, perlu diketahui bahawa sikap altruis mencakup aspek-aspek moral dan material, seperti amal shalih, posisi terhormat dalam pertemuan, kedudukan istimewa dalam sebuah acara. Sikap altruis juga boleh terwujud dalam meringankan beban yang sedang dipikul. Semua itu merupakan aspek-aspek sikap altruis, yang bererti mengedepankan kepentingan saudara di atas kepentingan sendiri, atau dalam batas minimal, anda menunjukkan rasa cinta anda kepadanya sebagaimana mencintai diri sendiri.

Tetapi pada kenyataannya, kadang terjadi sebaliknya, ada di antara kita yang tidak hanya mengedepankan kepentingan pribadinya, tapi juga mengedepankan 'keldai' atau kendaraannya daripada kendaraan sahabat. Mungkin anda menganggap pernyataan ini terlalu berlebihan, namun coba renungkan ungkapan-ungkapan masyarakat klasik yang dengan fasih menjelaskan realitas tersebut.

Dalam suatu kisah diceritakan bahawa ada orang yang bertemu dengan kawannya di perjalanan, lalu ia berkata: "Sungguh aku benar-benar mencintaimu." Kawannya menjawab "Kamu dusta, kerana jika benar, kamu tidak akan menghiasi kuda tungganganmu itu dengan kain mewah, sementara aku tidak memiliki apa-apa walau hanya sehelai jubah." (Ash-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 82. Di dalamnya dinyatakan bahawa suatu ketika ada orang yang bertanya kepada Abul'Uraib al-Mishri: jika ada yang menyatakan cinta terhadap seseorang namun enggan membantunya dengan harta yang ia miliki,apakah ia dianggap tulus dalam mencintainya? Ia menjawab: dia tulus dalam batas mencintainya, namun kurang dalammemenuhi haknya) Sebenarnya ada perbedaan yang cukup besar antara kadar altruis (itsar) yang diamalkan oleh generasi as-Salaf ash-Shalih�terutama para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan sikap itsar yang kita amalkan dengan sahabat-sahabat kita. Bahkan umumnya, kita jarang mempraktikkan itsar. Namun, setidaknya kita harus tetap berusaha menempatkan sahabat dalam posisi yang setara dengan kita. Dengan demikian, kita dapat mengimplementasikan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

�Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai apa-apa yang ada pada saudaranya seperti mencintai apa-apa yang ada pada dirinya.� ( Mengenai takhrij hadith ini, lihat catatan kaki no. 46)

Berkata Abu Ya'qub: pada suatu hari, kami menghadap Abu Muthi' al-Qurbani untuk belajar hadith. Setelah kami diterima, Abu Muthi' menghidangkan makanan, namun kami tidak mahu mengambilnya. Maka Abu Muthi' menegur: "Dulu, kaum as-Salaf ash-Shalih menghormati sahabatnya dengan cara memberi kebun, rumah, kendaraan, budak, bangunan dan peralatan. Namun kini, hanya ini yang mampu diberikan, itulah batas penghormatan kita. Jika kalian menolaknya habislah tradisi menghormati yang kita miliki dan musnahlah kebiasaan baik generasi Salaf. Maka jangan biarkan hal itu terjadi." Setelah mendengar teguran tersebut, kami langsung melahapnya. (sh-Shadaqah wash-Shadiq, hlm. 82-83. )

Lain halnya dengan kisah Ibnul-Mubarak. Ketika musim haji tiba, berkumpullah segenap saudaranya yang berasal dari kota Marw, mereka memohon agar dapat menemaninya ke Makkah. Ibnul-Mubarak pun setuju, lalu ia meminta agar mereka mengumpulkan seluruh bekal yang telah dipersiapkan sebelumnya dan menyimpannya di dalam almari yang terkunci. Kemudian Ibnul-Mubarak menyewa kendaraan dan menyiapkan fasilitas perjalanan untuk semua saudaranya. Perjalanan pun dimulai dari Marw menuju Baghdad. Selama di perjalanan Ibnul-Mubarak membiayai seluruh keperluan logistik dengan baik. Ketika keluar dari Baghdad mereka dibelikan pakaian yang indah dan mahal hingga sampai di Madinah. Di Madinah, Ibnul-Mubarak bertanya: "Barang apakah yang dipesan oleh sanak keluargamu dari Madinah?" Mereka pun menyebutnya satu per satu, dan Ibnul-Mubarak membelinya untuk mereka. Ketika tiba di Makkah, Ibnul-Mubarak kembali bertanya: "Barang apakah yang dipesan oleh sanak keluargamu dari Makkah?" Setelah mereka menyebutnya, Ibnul-Mubarak pun membelinya.

Setelah selesai menunaikan haji mereka kembali ke Marw, seperti biasanya, di sepanjang perjalanan, Ibnul-Mubarak menanggung seluruh biaya logistik dan tempat tinggal yang mereka perlukan. Setibanya di Marw, Ibnul-Mubarak mengupah beberapa orang untuk menghiasi rumah saudara-saudaranya yang selesai menunaikan ibadah haji, dan setelah tiga hari berlalu, ia mengadakan resepsi syukuran dan membagi-bagikan pakaian yang indah kepada mereka. Setelah acara syukuran selesai, Ibnul-Mubarak menyuruh pelayannya agar membawa almari yang berisi bekal perjalanan haji saudara-saudaranya yang dulu disimpan di dalamnya. Lalu ia mengem-balikan perbekalan tersebut dalam bungkusan yang sangat rapi dan indah dengan nama masing-masing pemiliknya.

Dalam riwayat lain, Ibnul-Mubarak berkata kepada Fudhail: "Jika bukan keranamu serta sahabat-sahabatmu, aku tidak akan berdagang." (Lihat Siyaru A 'lamin-Nubala' VIII/385 dan 386. 111 )

Sungguh sayang, dalam realiti kehidupan kini, banyak di antara kita�setelah merasakan kamuflase Dinar dan Dirham dan bergelimang dengan glamour keindahannya, begitu tega melenyapkan dari sendi kehidupan, emosi dan perasaan, sebuah instrumen yang sangat penting, iaitu cinta dan pengorbanan (itsar). Mereka memandang keakraban dan kesetiaan yang terbentuk pada masa kanak-kanak hingga remaja hanya sebagai emosi masa muda yang bersifat sementara. Setelah menginjak masa dewasa dan tua, semuanya hanya tinggal kenangan dan angan-angan semu, atau hanya emosi yang tidak bererti apa pun dalam menghadapi realitas kehidupan dengan segala gejolaknya. Kita berlindung kepada Allah dari hati yang ternoda dan jiwa yang rusak. Jika orang seperti itu masih boleh menghargai perasaan-perasaan tersebut, sekalipun tidak mem-praktikkannya, nescaya akibatnya lebih ringan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar